"Pak Kharan?"
"Wah ternyata main kesini juga yah"
Dara terkejut saat melihat Kharan dikerumunan orang.
Dara memanggil Kharan,Kharan pun mendekat. Kebetulan Varel tak bersamanya.
"Kamu disini sama siapa?"
Tanya Kharan.
"Sama teman pak"
"Ehm kalau diluar gini jangan pakai pak,terkesan tua sekali. Jadi panggil nama aja ya" tegas Kharan.
Dara hanya tersenyum bercampur kagum dengan Kharan yang ini.
"Kalau gitu aku pergi ya"
Karena tak mau berlama lama dengan Dara,Kharan mencari alasan agar bisa lepas. Tapi kalau dengan Raya,lain lagi ceritanya.
"Gila,tampan sekali dia" gumam Dara saat kembali dari toilet.
"Lama kali sih,aku pengen keluar sebentar ya,nyari angin" ujar Raya meletakkan mik ditangannya.
"Kalian puas puasin aja dulu" ucapnya lalu menutup pintu.
Dengan perasaan tak tentu Raya berjalan di lorong tempat itu. Orang orang ternyata lumayan banyak di luar.
Raya pun memilih ke tempat kuliner.
Yang tadinya lesu, sekarang Raya mendadak fresh saat mengetahui adanya Kharan disana.
Raya pun menutup wajahnya dengan rambut. Perlahan ia berjalan ditengah tengah keramaian.
Bughh!
Tepat sasaran!
"Percuma kamu ngelak dari aku" Suara lembut itu sangat jelas ditelinga Raya. Bagaimana tidak,posisi Raya saat ini tepat di dada milik Kharan,hingga aroma tubuhnya bisa tercium,iri deh.
Dengan cepat Raya menjaga jarak dengan Kharan.
"Kamu sendiri aja?" Tanya Kharan menepi kan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Raya.
Duhh.
"Enggak. Sama kawan" ujar Raya gelagapan.
Kharan tersenyum simpul melihat Raya yang terlihat jelas sangat malu.
"Mau beli apa emangnya?" Kharan mendorong pelan punggung Raya untuk sedikit berjalan.
"Cuman air kok" sejujurnya aku nggak tau mau jawab apa
"Boleh kan kalau aku yang membeli kan untukmu?" Kharan menaikkan satu alisnya. Karena tidak sanggup menatap terlalu lama,Raya pun dengan cepat mengangguk.
"Ngomong ngomong,bahasa Indonesia mu kok udah lancar aja?"
"Itu karena kamu yang suruh"
Kharan segera memesan minuman tanpa respon dari Raya.
Bersikeras Raya mencerna yang diucap Kharan.
"Nih" Kharan menyodorkan minuman
Lamunan Raya pun buyar.
"Terimakasih,kamu juga sendiri?" Tanya Raya basa basi
"Enggak juga,sama teman di dalam"
Keadaan mulai canggung diantara mereka berdua.
Yap,Raya kaget saat mengetahui kalau Varel itu temannya Kharan!.
"Ehm kalau gitu aku balik ke dalam yah" Raya hendak berdiri
"Tunggu Ray,aku juga mau kedalam"
Demi apapun,kenapa dia bisa tau namaku, sedangkan aku sama sekali tidak tau namanya.
"Kharan"
Seolah mengerti pikiran Raya,Kharan memperkenalkan dirinya.
Raya pun tersenyum. Tak peduli dari mana Kharan mengetahui namanya.
Keduanya pun saling senyum. Bisa gila aku.
Sempurna sudah malam Minggu Kharan kali ini.
~~~
Sinar matahari mulai menyinari kamar Kharan. Sebelum sinar itu masuk pun Kharan sudah bangun duluan.
Seperti rutinitas paginya,Kharan akan ber joging diluar sana. Dengan sebotol air ditangannya dan handuk kecil di tengkuknya. Serta earphone yang ia gunakan. Kharan siapa berangkat.
"Ah...segarnya udara pagi"
Kharan mulai dengan sedikit berlari kecil. Kharan sangat menikmati joging nya. Apalagi cuaca pagi ini sangat mendukung.
Perlahan keringat mulai muncul di sekitar wajah mulus Kharan. Keringat itu pun mulai bercucuran dari rambutnya yang mengkilap.
Sesekali Kharan menyingkirkan keringat dengan handuk kecil nya.
Kharan melewati tempat dimana ia bertemu dengan Raya saat itu.
Sebenarnya Kharan tak ingin kesana,karena sudah pasti Raya tidak ada disitu.
Namun perutnya menolak pergi. Akhirnya Kharan memutuskan untuk mengunjungi toko itu lagi.
"Habis lari lari ya mas"
Kharan mengangguk malu. Penjual roti itu tersenyum melihat Kharan yang malu di tatap seperti itu.
Rencana sih tadi Kharan ingin pulang. Tapi tetap saja semua sudah diatur oleh yang diatas.
Yap,kedua pasang mata itu bertemu lagi ditempat yang sama diwaktu yang sama.
Kharan terlihat senang saat mengetahui Raya juga ada disana.
Dengan cepat Kharan berjalan ke arah meja yang sama saat itu.
"Duh gawat,dia kesini lagi" gumam Raya
Sedari Kharan masuk, sebenarnya Raya sudah melihatnya,apalagi saat Kharan tersenyum tadi,meleleh.
Raya mencoba membuang pandangannya,namun itu sia sia. Bagaimana juga kali ini Kharan udah duduk di hadapannya.
Terbalik saat awal pertemuan mereka.
"Jumpa lagi ya kita" ucap Kharan tersenyum menatap Raya.
Yang ditatap pun mati rasa saat ditatap pria tampan seperti Kharan.
Raya memang sudah mati rasa dihadapan Kharan. Hanya melihat wajahnya yang basah karena keringat,rambut yang juga ikutan basah,sudah membuat Raya mati rasa.
"Ehm penampilanku berantakan yah?" Merasa ditatap aneh,Kharan mengelap wajahnya serta tengkuknya dengan handuk.
Yang ada Raya semakin gila ditayangkan adegan seperti itu.hwa..
Kharan menekan hidung pesek milik Raya.
What!! Demi apapun,Kharan sudah main sentuh menyentuh?...
Raya pun segera sadar dari lamunannya.
"Iya aku tau,aku ganteng kan" dengan
Pede nya Kharan mengatakan itu.
Pipi Raya mulai memerah karena nya.
"Kamu tuh ya,pede kali kalau ngomong" grutu Raya agar Kharan tak berfikir macam macam.
Kharan pun terkekeh
Mereka pun menikmati sarapan pagi bersama. Untuk yang kedua kalinya,ditempat yang sama.
"Ehm kamu ingat kan waktu itu" Kharan mencoba mengajak Raya bicara
"Iya,emang kenapa" Raya mengalihkan pandangannya sambil tersenyum tipis mengingat kejadian itu.
"Enggak ada sih,cuman sifat kamu ternyata jauh berbeda dari yang kuduga hari itu" kekeh Kharan.
"Maksud kamu?"
"Ku pikir kamu itu susah untuk diajak ngobrol,ternyata nggk. Ya seperti ini" Kharan menyeruput coklatnya
"Eh itu betul kok,aku orangnya susah diajak bicara. Cuman kamu lagi beruntung aja" ledek Raya.
"Halah,itu cerita kamunya aja"
Senyuman Kharan semakin lebar.
Mata Kharan mendadak tertuju tepat di tepi bibir Raya. Tanpa persetujuan dari Raya,Kharan segera mengambil tisu lalu mengelap noda yang tersisa.
Jantung apa kabar Ray? Udah copot belum?
"Ehm hari ini kamu sibuk nggak?" Hmm sepertinya ada aroma aroma kencan nih:v
🌟🌟🌟
💬💬💬
🤗🤗🤗
_Aricen04_
KAMU SEDANG MEMBACA
KHARAN
Teen FictionKHARAN. Setelah berkelana di negri orang sedari dalam kandungan, pada akhirnya jodoh tetaplah di negri sendiri. Tanpa disangka sangka, pertemuan konyol itu membuat KHARAN menemukan sosok yang menarik baginya dan selalu membuatnya penasaran. Namun se...
