Kesalah pahaman itu wajar, yang gak wajar itu, udah tau salah masih aja di tutupin.
-Rachel Adistia Razuma-
Keesokan harinya, Arka tak melihat batang hidung Rachel, bahkan ia berkali kali bertanya kepada Ririn, dan Raina. Tetapi kedua gadis itu sama sekali tidak tahu keberadaan Rachel. Arka lupa! Ponsel Rachel masih ada di dia. Makanya, Arka berinisiatif berkunjung kerumah Rachel sepulang sekolah nanti.
"Heh bagong! Ngapa lo bengong mulu kek orang kurang belaian?!" Ucap Chiko duduk dimeja Arka dengan meminum Fanta di tangannya.
"Anjir! Nak dajjal galau guys! Gara gara doi kagak masuk sekolah." Celutuk Haikal seraya memakai camilan. Terduduk di sebelah Chiko dengan wajah tanpa dosanya.
Sedangkan Rama duduk disebelah Arka seraya bertanya. "Lagi ribut?" Tanya Rama dengan suara beratnya. Arka menoleh, memang Rama doang yang paling waras dari teman temannya yang gila itu.
"Gue bingung Ram," jawab Arka mellow. Haikal dan Chiko yang mendengarnya segera tertawa keras.
"HUANJIRRR NGAKAKK! ARKA ALGATAMA GALAU BANGSAT! GILA GILA GILAAA, LANGKA BENER!" pekik Chiko seraya tertawa heboh. Membuat minuman berwarna merah itu muncrat dari mulutnya.
"Eh babik! Ketawa ya ketawa, tapi gausah muncrat juga goblok!" Ucap Haikal sewot, ia mengelap wajahnya yang terkena cipratan air liur Chiko.
"Ngakak taik!" Chiko masih tertawa dengan hebohnya, membuat Rama menatapnya malas.
"Ya gausah-"
Gedebuk!
"Hah?! HUAHAHAHAHAHA RASAIN LO GOBLOG! KUALAT LO SAMA TEMEN SENDIRI! HAHAHAHA!" tawa Haikal pecah begitu saja melihat Chiko sudah bergeletak mengenaskan di lantai kelasnya. Itu semua karena ulah Rama yang kelewat kesal karena tingkah gila Chiko.
"Brengsek lo Ram! Sakit babik!" Umpatnya seraya terbangun.
"Makanya jadi orang jangan ngeselin lo asw!" Balas Rama pedas.
"Bujug! Lo makan cabe berapa kilo Ram? Pedes amat tu mulut!" Ringis haikal.
"Yaelah Ram! Jadi orang mah jangan kaku kaku amat! Ceria dikit kek! Emangnya elo-"
"Ngomong lagi, gue timpuk lo pake bangku." Potong Rama ketus, seketika Chiko kicep. Anjir! Aura Rama bener bener gelap banget ya?
"Pppfffttt." Haikal menahan tawanya agar tidak meledak, melihat wajah ternistakan Chiko membuatnya ingin tertawa, tetapi ia tahan karena melihat wajah garang Rama.
"Gue cabut." Bukan! Bukan Rama, Chiko, atau Haikal yang bersuara. Melainkan Arka dengan wajah lesunya, berjalan menuju pintu kelas.
"Tolol." Umpat Rama menatap Haikal dan Chiko tak bersahabat. Ia berjalan menyusul Arka dengan langkah cool nya.
"Buset! Si Rama serem bener! Tu bocah auranya kuat bat anjir! Pake dukun apa yak?" Ringis Haikal membayangkan wajah Rama.
"Hooh, serem bener melebihi valak yang ada di depan rumah gue." Lanjut Chiko dengan tatapan menganga.
"Valak? Dirumah lo ada valak Chik?" Tanya Haikal dengan wajah serius.
"Ada, serem bat." Ucap Chiko menatap Haikal dengan tatapan menakut nakuti.
"Berarti di depan rumah gue juga dong?!" Tanya Haikal panik. Memang, rumah Chiko dan Haikal bersebrangan saja, makanya Chiko sama Haikal sifatnya sama sama gesrek.
"Iya, kan valak nya elo." Setelah mengucapkan itu, Chiko berlari takut Haikal ngamuk.
"SETAN LO CHIKO! GUE VALAK, LO IBLISNYA ANJENG!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Protector
Teen Fiction"Arka!! Kembaliin gak tas gue?!! Jangan ampe gue depak lo ya sampe pluto!" Pekik seorang perempuan yang bernama rachel. "Hahahah! Mau dong! Enak adem, iya kan??" Balas arka dengan tampang menyebalkan nya. "ARKAA! SINI LO!" Rachel adistia razuma. Seo...
