Percayalah, apa yang kau lihat belum tentu nyata, dan apa yang kau dengar belum tentu benar.
-Rachel Adistia Razuma-
Janlup vote and komen! Tolong hargai penulis☹ happy reading 🌈
*****
"GUYS! KALIAN HARUS BAYAR UANG KAS SEKARANG JUGA!! SOALNYA MINGGU DEPAN MAU ADA ACARA, KALO KALIAN GAK BAYAR NANTI BU DAYU MARAH MARAH KE GUE!" Pekik Rachel memasuki kelasnya. Semua orang terkejut bukan main, teriakkan Rachel sepertinya cocok untuk membuat telinga orang orang menjadi budeg.
"Yaelah Chel, masih pagi juga. Gue belom juga sarapan udah di tagih uang kas aja," Ringis Reza.
"Tau nih Chel! Gabisa nanti siang aja napa?"
"Chel, lo tau kan gue kalo pagi—"
"Udah gausah banyak bacot! Cepetan bayar! Gausah banyak alasan. Lo semua tuh masih pada nunggak mau minta nunggak lagi, pengen lo, gue cabut usus lo dari tempatnya?!" Ujar Rachel galak.
"Galak banget lu Chel,"
"Bodoamat! Cepetann!" Akhirnya, mereka semua pun pasrah dan langsung membayar. Daripada melihat Rachel ngamuk kan gak lucu.
"Iya iya sabar!" Ucap mereka.
Arka pun menatap Rachel dengan tatapan tak bisa diartikan, tanpa berfikir panjang, Arka langsung bangkit begitu saja, membuat teman temannya bingung lalu bertanya.
"Heh Ketua! Mau kemana lo?!" Teriak Chiko.
"Paling mau ngapelin cewek dia," Gumam Haikal. Tetapi sayangnya, Arka tak menjawab.
****
Arka melempar batu batu kerikil dengan asal kearah danau kecil yang berada di belakang sekolah nya. Tepatnya, tak jauh dari taman. Pikiran Arka sedang kacau, entah mengapa, seperti ada yang mengganjal sedari tadi. Baru baru ini, masalah yang menghampiri nya semakin lama semakin menumpuk. Bukan mengeluh atau apa, Arka hanya bingung. Bagaimana bisa masalah itu hadir tanpa ia sadari? Bahkan ia sendiri tak tau penyebabnya apa.
"Tumben lo diem, kenapa lo?" Tegur Rachel yang tiba tiba berada di sebelahnya. Sepertinya, Rachel sudah menagih uang kas kelas. Arka menoleh, tatapannya sangat datar dan terlihat sedang malas berbicara.
"Gapapa." Jawab Arka singkat. Rachel terkekeh pelan, "Udah kayak cewek aja jawaban lo, kalo ditanya gapapa padahal ada apa apa." Omel Rachel. Arka tersenyum simpul.
"Sotau lo," ujarnya. Rachel menepuk bahu Arka pelan. "Jangan jangan, lo lagi mikirin masalah yang kemarin ya? Yaelah. Udahlah gausah difikirin, udah lewat juga. Bikin pusing aja," Tebak Rachel.
"Nggak." Jawab Arka lagi lagi singkat. Rachel mengerucutkan bibirnya kesal, jawaban Arka yang sedari tadi singkat membuatnya tiba tiba tidak mood. Arka menoleh menyadari Rachel yang tiba tiba diam.
"Gue gapapa Chel. Gausah cemberut gitu, muka lo udah jelek tambah jelek." Ejek Arka tiba tiba. Rachel memukul belakang kepala cowok itu. "Sialan lo! Gue cantik tau!"
"Yayaya terserah lo. Kenapa lo kesini?" Arka mengalihkan kata katanya lalu bertanya. Heran mengapa Rachel bisa tau kemana ia pergi. "Gue udah nebak kalo lo tuh disini. Makanya gue kesini," jawabnya jujur.
"Kalo gue gaada disini gimana?" Tanya Arka. "Paling di rooftop. Iya kan?" Tebak Rachel.
"Dasar penguntit," kata Arka memalingkan wajahnya sembari tersenyum tipis. Rachel menatapnya sinis selama beberapa detik. "Dih. Siapa juga yang ngikutin lo, kurang kerjaan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Protector
Jugendliteratur"Arka!! Kembaliin gak tas gue?!! Jangan ampe gue depak lo ya sampe pluto!" Pekik seorang perempuan yang bernama rachel. "Hahahah! Mau dong! Enak adem, iya kan??" Balas arka dengan tampang menyebalkan nya. "ARKAA! SINI LO!" Rachel adistia razuma. Seo...
