Jennie duduk di dalam taksi dengan air mata yang mengalir tanpa henti, serta perasaan yang bercampur aduk. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan. Karena tujuannya saat ini adalah pergi ke makam kedua orang tuanya.
Malam semakin larut, bulan yang tadinya bersinar terang mulai menghilang. Tertutup oleh awan gelap yang bersiap menurunkan hujan, tapi hal itu tidak akan mengurungkan niat Jennie. Ia akan tetap pergi ke makam orang tuanya, walaupun hujan akan turun.
Setelah hampir memakan waktu selama empat puluh lima menit perjalanan. Jennie akhirnya sampai di makam kedua orangtuanya. Pemakaman dilengkapi dengan cahaya yang cukup terang. Jennie juga tidak peduli jika dia harus berhadapan dengan mahluk tak kasat mata ketika menghampiri makam kedua orang tuanya.
Jennie segera membayar taksi, lantas turun dari taxi dan berjalan cepat menuju makam orang tuanya. Sampai di makam, ia pun luruh jatuh ke tanah dengan tangis yang sangat memilukan.
Jennie mendekat dan menyentuh nisan kedua orangtuanya. "Maafin Jennie Ma, Pa. Jennie gak bisa nurut sama Kak Joohyun. Jennie jadi adik yang pembangkang. Jennie juga telah menyakiti Kak Joohyun. Maafin Jennie yang ribut sama Kak Joohyun dan bikin Kak Joohyun sedih. Maafin Jennie telah bikin Kak Joohyun marah. Maafin Jennie Ma, Pa."
Jennie duduk di antara nisan Mama dan Papanya. "Jennie takut Ma, Pa. Sangat takut. Takut jika yang Jennie lakuin barusan sangat menyakiti Kak Joohyun, tapi Jennie nggak bisa diem begitu aja Ma, Pa. Ngeliat Kak Joohyun berubah tanpa Jennie dan yang lainnya ketahui. Jennie tau tadi sangat keterlaluan dengan Kak Joohyun, tapi Jennie nggak tau lagi harus gimana agar Kak Joohyun bisa ngerti apa yang Jennie rasain dan yang lainnya rasain. Jennie pengennya Kak Joohyun cerita sama Jennie atau yang lain. Jennie udah ngelakuin hal itu, tapi Kak Joohyun malah tetep ngediemin Jennie. Jadi nggak tau lagi harus gimana hingga tadi akhirnya emosi Jennie yang tertahan keluar semua dan ngebuat Jennie bertengkar dengan Kak Joohyun. Bahkan Kak Joohyun juga menampar Jennie untuk pertama kalinya. Jennie takut Ma, Pa."
Jennie terus bercerita pada nisan orang tuanya, walaupun Jennie tau dia tidak akan mendapat balasan, tapi Jennie tetap melakukannya. Karena bagi Jennie, bercerita di makam orang tuanya dapat membuat hatinya sedikit lega.
Rintik hujan perlahan turun semakin deras, Jennie mulai membangkitkan tubuhnya. Berpikir mungkin kata 'kembali' adalah keputusan yang paling tepat untuk saat ini.
~💗~
Yeri dan Rosé kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka berdua dilarang Seulgi untuk ikut. Sebab Seulgi takut asma Rosé kambuh karena kecapekan dan meminta Yeri untuk menemani Rosé.
Awalnya Yeri memang keberatan. Sebab dirinya ingin membantu mencari Jennie yang sudah pergi duluan, tapi melihat mata Kakak keduanya yang sangat memohon. Yeri pun akhirnya luluh dan mau menemani Rosé di rumah saja.
"Maaf ya Yer, gara-gara aku jadi gak bisa ikut." Rosé berkata sambil berjalan menaiki tangga kecil yang berada di teras.
"Gak apa-apa Kak. Santai aja."
Saat memasuki rumah, Rosé dan Yeri sudah tidak melihat Irene di ruang tengah. Rosé pun segera menuju dapur dan Yeri hanya menatap Rosé dengan tanda tanya. Penasaran dengan apa yang akan dilakukan sang Kakak.
"Kak Irene kayaknya di kamarnya ya, Yer?" tanya Rosé sambil mengambil piring.
"Kayaknya. Kakak mau ngapain bawa piring deh? Mau makan lagi?" tanya Yeri sambil duduk di kursi meja makan.
Rosé menggelengkan kepalanya. "Aku emang hobi makan, tapi yaa...kali dalam keadaan kayak gini masih mikirin makan."
"Lah terus itu piring buat apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Indestructible
FanfictionA Sequel from Sisters ⚡Formal, Non Formal ⚡Harsh Words
