I hope you enjoy^-^
Handphone Balqis berdering menandakan panggilan masuk, ia pun melihat layar ponselnya dan yang menelponnya adalah Hazby, langsung saja ia geser ikon hijau ke tengah.
" Balqis , cepetan Lo kerumah sakit! ", ujar Hazby dengan panik diseberang sana yang terdengar oleh Stephani, Marchel dan Dimas.
" Dhavis kenapa kak?!", Balqis pun ikut panik.
"Dhavis sekara-" Tut telpon mati secara sepihak lantas Balqis panik lalu ia mengajak Marchel dan juga yang lainnya untuk mengantarkannya kerumah sakit
•••
Mereka berjalan tergesa gesa menuju ruangan Dhavis, Balqis semakin mempercepat langkahnya saat dirasa sudah dekat dengan ruangan Dhavis.
Ceklek..
Balqis membuka pintu kemudian tubuhnya terpaku tatkala melihat apa yang dihadapannya tak sesuai dengan yang ia bayangkan.
" Dhavis ", ucapnya lirih.
Balqis melihat Dhavis dengan selang dihidungnya dan perban yang melingkar dikepalanya.
Air mata membendung, siap untuk turun jika gadis itu mengedipkan kedua matanya. Ia berjalan gontai menuju ranjang dengan tatapan tak lepas dari Dhavis yang kini tak sadarkan diri.
Hazby yang tadinya duduk kini beranjak dan membiarkan adiknya duduk disana.
"Vhis Lo kenapa?" Air mata mulai jatuh tak dapat dibendung lagi olehnya.
"Lo gak boleh sakit vhis!..jangan kayak gini"mulai lah disana Balqis menangis sambil menundukkan kepalanya ditangan Dhavis.
Jarang sekali ia melihat Dhavis seperti ini,terakhir ia melihat kondisi Dhavis se parah ini saat ia depresi karena masalah keluarganya.
Dhavis hampir merengang nyawanya sendiri dengan cara gantung diri, namun digagalkan oleh Balqis dengan cara memutus tali yang terhubung dengan langit langit kamar Dhavis.
Sejak saat itu Dhavis mulai berbagi cerita dengan Balqis itupun atas paksaanya begitu juga sebaliknga, jika ia sedang ada masalah, Dhavis adalah orang pertama yang akan ia minyak pendapat ataupun nasihat, malahan ia lebih dekat dengan Dhavis dari pada dengan Hazby.
Balqis memegang erat tangan Dhavis berharap ia bisa sembuh, dalam hati kecil Balqis, ia bersumpah akan menjaga Dhavis jika ia sembuh nantinya.
Balqis mulai terisak dalam dekapan tangan Dhavis, sementara teman temannya berada di luar ruangan menatap Balqis sendu.
"Kalian gak sekolah?" Tanya Hazby mengingat ini masih pagi dimana seharusnya pelajaran berlangsung.
Mereka saling menatap satu lain enggan untuk menjelaskannya pada Hazby.
Sudah 10 menit lebih Balqis menatap semangkuk bubur ayam yang ada di hadapannya tanpa ada niatan untuk menyentuh nya sedikit pun . Sedangkan Stephani ia sudah berulang kali membujuk gadis itu makan, namun responnya hanya diam dan diam.
"Qis, ayo dong makan, nanti Lo sakit gimana?" Ujar Stephani ke sekian kalinya.
Dengan membuang napasnya jengah, Balqis menggeser mangkuk tersebut lalu ruangnya di gunakan untuk menopang kedua tangannya.
"Gue takut terjadi sesuatu sama Dhavis, Phan" ujarnya sambil menatap lurus ke depan.
" Hmm...gue juga tau qis, tapi apa coba yang harus kita lakuin selain berdoa, gue juga gak nyangka juga Dhavis bakal ngelakuin hal itu ". Ucap Stephani .
Kini mereka duduk di sofa , tak ada yang mau mengatakan nya kepada Hazby.
" Kalian kenapa sih?, Ada masalah? " Tanya Hazby.
" Kita di keluarin dari sekolah " ucap Dimas.
Hazby nampak tak yakin atas apa yang dikatakan Dimas barusan.
" Kita berempat, gue, Dimas , Stephani juga Balqis " ucap Marchel .
Raut wajah Hazby berubah seketika, ia mengernyitkan dahinya lalu bertanya lagi.
" Kok bisa? Apa masalahnya ? ". Ucapnya.
Marchel pun menjelaskan kepada Hazby mengapa ia dan teman temannya bisa di keluarkan dari sekolah, sedangkan Dimas , melamun lurus kearah ranjang Dhavis .
Ditengah perbincangan mereka, terdengar suara yang berasal dari ranjang Dhavis, dengan sigap mereka bertiga menghampirinya.
" Dhavis ? " Ucap Hazby .
Dhavis menatap sayu Hazby , Dimas dan juga Marchel satu persatu.
" Gue... Mau cerita sesuatu sama kalian.." ucapnya sedikit kesulitan dikarenakan selang yang berada di hidungnya.
Bubur ayam yang ia diamkan selama 10 menit lebih itu pun sedikit demi habis dimakan Balqis , itupun atas permintaan Stephani yang masih setia disampingnya.
" Qis , gue mau nanya, kalo kita suka sama temen kita sendiri itu wajar gak sih ? " Ucap Stephani .
Balqis menghentikan makannya lalu menghadap ke Stephani. " Ya, wajar aja sih, dulu juga gue sama dia awalnya cuman temen ".
Stephani menoleh ke Balqis. " Dia siapa nih ? " .
" Ishh.. masa Lo gak tau , yang dulu! "Ucap Balqis .
Stephani berpikir sejenak , berusaha mengerti apa yang dikatakan Balqis .
Di sisi lain , pria berjas coklat lengkap dengan kacamata hitamnya memperhatikan mereka, lalu senyum licik terukir di bibirnya lalu berucap ,
" I know , you're not forgetting me ".
" Oh!, Yang dulu itu!, Baru inget gue ". Ujar Stephani antusias saat ia bisa menemukan jawabannya. Memang otak nya ini kadang suka lemot, maklum kurang asupan cogan nih.
" Yaelah, lola amat sih ". Balas Balqis.
Dengan seksama mereka mendengarkan Dhavis, sesekali mereka tertegun tat kala melihat perubahan pada mata Dhavis yang menjadi hitam pekat, sama seperti saat Marchel memergokinya kemarin, bedanya kali ini ia tak melihat nya sendiri.
" Gue tau kalian orang yang tepat untuk ngejaga Balqis ", Ucapnya Dhavis .
" Tolong sampe in salam gue sama dia, jangan pernah nangis buat gue, senyum, gue mau dia bisa senyum kalo inget gue ", ucapnya sedikit lirih dengan air mata yang membendung.
" Sama permintaan maaf buat keluarga Adelia ", menetes sudah air mata Dhavis .
Mereka bertiga yang menyaksikan tersebut tak pelak ikut terbendung air matanya, hanya saja Marche dengan cepat mengusapnya sebelum menetes ke pipinya.
" Di laci ada sesuatu buat Balqis , buka saat gue udah tidur aja ", ucap Dhavis di iringi tangannya yang mengusap air matanya.
Suasana kembali hening , setelah mengusap air matanya , Dhavis menatap lurus keatas dengan perlahan lahan matanya berubah kembali menjadi hitam pekat di ikuti bibirnya yang membiru.
" Gue pamit ", setelah nya ia mengerang dengan mulut yang terus mengeluarkan cairan biru pekat .
Mereka bertiga panik, kaget sekaligus takut.
Marchel dengan cekatan keluar untuk memanggil dokter sedangkan mereka berdua masih panik sambil memanggil nama Dhavis berulang kali.
•••
Dengan memeluk batu nisan, ia menangis meratapi kepergian anak tertuanya itu dengan sesekali mengusap bagian namanya.
Dhafi sang suami ikut mendekap tubuh istrinya dengan sesekali ikut mengusap batu nisannya dan ikut mengeluarkan air mata walau tak terdengar suara isakan darinya.
Dhavis Dwi Alwafi, yang kini sudah pada tempat peristirahatan terakhirnya, meninggalkan sedih yang teramat dalam pada keluarganya dan juga teman temannya. Termasuk juga dengan Balqis.
Dengan air mata yang terus keluar dimatanya sambil terus menabur bunga, Balqis tak henti hentinya merutuki dirinya yang tak bisa menjaga Dhavis semasa hidupnya.
Sedangkan disampingnya, sudah ada ketiga temannya dan juga Hazby yang ikut menaburkan bunga.
Heii!! Tunggu next part nya :"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Gudang Sekolah
HorrorMengisahkan perjalanan mereka untuk menguak sebuah rahasia. Rahasia yang selama bertahun tahun merenggut banyak nyawa, rahasia yang menurut mereka sendiri tak masuk akal. Dengan kemampuan yang dimiliknya masing masing, akankah mereka bisa memecahkan...
