29: Terungkap

4K 355 1
                                        

Hasil autopsi dari pak Agus sudah keluar, dokter yang menanganinya mengatakan, " tidak ditemukan tanda tanda kekerasan atau pun luka yang di sebabkan oleh benda tumpul maupun tajam. Kejadian ini bisa dinyatakan bunuh diri atau kecelakaan," statement ini menimbulkan tanda tanya, bagaimana bisa pak Agus melakukan hal tersebut disamping dia masih memiliki anak dan istri yang harus ia urus, apakah dia mulai bosan dengan hidup ataukah ada hal yang lain ?

Jenazah pak Agus dimakamkan kampung halamannya sementara kabar kematiannya telah tersebar ke seluruh siswa siswi SMA Nusa bangsa, mereka mengaitkannya dengan penemuan dua mayat yang ada di gudang. Mereka berteori bahwa kemungkinan dua mayat itu telah dibunuh oleh pak Agus yang bisa jadi itu dulunya murid dari Nusa Bangsa.Kabar tersebut dengan cepat Marchel dan lainnya ketahui dan mereka langsung mencari tahu dan mulai berembuk.

Saat ini mereka berada di kediaman Hazby untuk mendiskusikan rumor yang beredar.

" Kalau dari sudut pandang gue, rumor itu ada benarnya. Secara dua mayat yang kita temukan itu hampir semua tulangnya terlihat, pasti mayat itu disimpan lebih dari setahun." Jelas Marchel membuka pembicaraan

" Benar juga sih, chel . Seingat gue kita pernah mencari tahu di perpus sekolah kan ? Gue menemukan koran yang memuat berita satu siswi hilang secara misterius. Di sana ada fotonya dia pakai baju seragam yang logonya SMA Nusa Bangsa. " Tambah Dimas

" Dimana sekarang korannya? " Tanya Hazby.

" Ada di rumah, gue simpan di lemari. " Ujarnya

Handphone Marchel berdering, rupanya itu dari kepolisian. Marchel meninggalkan mereka untuk mengangkat telepon selagi teman temannya berbincang.

Tak lama Marchel kembali dengan raut wajah yang susah di deskripsikan.

" Polisi barusan telpon gue katanya sidik jari pak Agus cocok sama sidik jari yang di temukan di baju kedua mayat dan dua jantung yang ada di dalam toples, " ujar Marchel setelah duduk di sofa.

Semua orang terkejut, prasangka mereka selama ini benar. Dalang dibalik semua ini adalah pak Agus atau kepala sekolah mereka sendiri. Mungkin alasan dia mengeluarkan Marchel dan teman temannya untuk menjaga rahasianya agar tidak terbongkar.

" Satu dari mayat tersebut sudah di identifikasi dan sudah di pulangkan ke kediaman keluarganya. Yang satu lagi polisi masih mencari tahu karna yang satu ini baju yang melekat di tubuh mayat itu sudah termakan oleh rayap dan bagian wajahnya hampir menjadi tengkorak." Tambah marchel.

" Jadi tugas kita mencari tahu siapa mayat tersebut, barang kali yang ada di koran itu adalah dia, " ujar Stephani bersuara.

Mereka berempat meluncur menuju rumah Dimas untuk melihat koran yang di bicara oleh Dimas. Tak butuh waktu lama mereka sampai di kediaman rumah Dimas yang kebetulan sepi dikarenakan Rima yang tak lain adiknya sedang bersekolah.

Dimas keluar dari kamarnya dan ditangannya sudah ada surat kabar atau koran. Dia meletakkan koran tersebut di atas meja agar yang lainnya bisa melihat.
Tidak seperti yang lainnya, Marchel dan Stephani langsung bisa mengenali sosok di foto itu.

" Alfin " ujar Stephani pelan namun masih bisa terdengar.

" Alfin dari masa lalu itu kan, phan ? " Tanya Marchel dan di angguki oleh Stephani.

" Kalian tahu dari mana ? " Tanya Hazby penasaran.

Disitu marchel dan yang lainnya menjelaskan mengapa dia bisa tahu siapa gadis di foto itu.

" Wah! , Gue sendiri nggak tahu harus percaya atau nggak percaya. Tapi bener sih itu perbuatan yang keji banget. " Ungkap Hazby tak percaya.

" Guys, koran ini di buat tiga tahun yang lalu, kira kira kalau kita cari data diri dia di perpustakaan masih ada nggak sih ? " Ucap Stephani.

" Kemungkinan ada, ya seenggaknya raport nya dia, " sahut Hazby.

Mereka sudah memutuskan untuk ke sekolah untuk mencari data diri dari Alfin. Jangan tanya mereka lewat mana sedangkan pintu utama sudah ada garis polisi yang tidak boleh dilewati. Seperti yang sudah sudah mereka lewat dari belakang.

Setelah sampai didalam area sekolah mereka merasa auranya berbeda. Bukan aura jahat namun aura yang membuat mereka sendiri nyaman. Matahari terik yang berada di langit membuat dahi Dimas berkeringat. Maklum ini jam 12:23, jam dimana matahari bersinar terang.

Mereka menuju perpustakaan yang kebetulan pintunya tidak terkunci. Mungkin ini kebetulan atau keajaiban. Marchel mengambil sebuah tumpukan raport yang sampai saat ini belum ditebus oleh pemiliknya. Tak banyak jumlahnya hanya ada 60 raport, namun tebalnya sama dengan buku folio bergaris isi seratus. Jadi butuh dua orang untuk membawanya dikarenakan juga letaknya di atas jadi susah.

Mereka mulai mencari satu persatu raport dari Alfin dengan cara mencocokkan nya dengan foto yang ada. Tak butuh waktu lama tumpukan raport itu sudah habis mereka pilah pilah namun tidak ada ya g cocok sama sekali.

" Ada lagi nggak diatas ? " Tanya Stephani.

Dimas mengecek laci atas namun tidak ada satu pun raport yang tertinggal disana. Namun setalah ia berbalik matanya menangkap nama Alfin di salah satu raport tepat di samping Hazby.

" By, itu di samping lu coba gue lihat, " ujar Dimas.Hazby menyerahkannya kepada Dimas

" Itu sudah gue cek tapi nggak ada fotonya. " Ujarnya setelah memberikannya pada Dimas.

Memang setelah Dimas cek tidak ada fotonya namun nama dan tahun terakhir penilaian sama yang ada dalam koran.

" Tapi namanya Alfin , tahun terakhir penilaiannya pun cocok sama yang ada di koran. " Ujar Dimas.

Ah kenapa Hazby bodoh. Ia tidak berpikir sampai sana.

" Sorry gue lupa tadi namanya siapa. " Ujarnya Hazby .

" Jalan Kamboja nomor 45 , apa kita ke alamat ini ? " Dimas berpendapat.

" Jalan Kamboja , gue tahu jalan itu. " Sahut hazby

Mereka memutuskan untuk menuju ke alamat tersebut dengan hazby yang menjadi petunjuk arah. Jaraknya lumayan jauh dari mereka tinggal namun tak apa mereka hanya ingin jenazah Alfi dapat dimakamkan oleh keluarganya.

" Wah gila, jauh banget. Lo ngapain aja by sampai bisa kenal daerah sini. " Ucap Dimas sembari melakukan peregangan. Jauh memang sampai sampai bokong Dimas panas karena terlalu lama duduk.

" Ya biasa sih, nganterin cewek, " jawab Hazby disertai tawa kecil.

Setelah bertanya kepada warga setempat akhirnya mereka menemukan rumah yang ada dalam alamat. Marchel mengetuk pintu beberapa kali lalu dari dalam terdengar sahutan yang menyuruh mereka menunggu. Tak lama pintu terbuka dan menampilkan wanita paruh baya yang langsung menanyakan ada keperluan apa mereka kesini.

" Maaf kami menganggu waktu ibu, kami disini ingin bertanya apakah ibu kenal dengan gadis yang ada di foto ini, " marchel menunjukkan foto Alfin yang berada dalam raport.

Dilihat dari raut wajahnya sepertinya dia mengenalnya tapi,

" Nggak, saya nggak kenal. Kalian semua boleh pergi saya banyak kerjaan, " usirnya yang hendak menutup pintu namun ditahan oleh marchel.

" Coba ibu lihat sekali lagi barangkali ibu kenal, " ucap marchel sambil menahan pintu.

" Saya bilang tidak kenal siapa dia , lebih baik kalian pul–"

" Mama "

See you next chapter :*

Rahasia Gudang SekolahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang