"Kalian nggak pa-pa ? " Suara itu berasal dari Dimas yang berhasil menemukan Stephani dan juga Balqis.
"Gue nggak pa-pa tapi Stephani ketakutan banget. " Ucap Balqis
Dimas menatap Stephani yang banjir keringat dingin, tangannya pun ikut bergetar dengan tatapan mata yang kosong. Tanpa bertanya Dimas langsung memeluk Stephani untuk menetralisir rasa takutnya.
Sementara Marchel menatap Balqis dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan sesaat kemudian ia mendekat ke arah Balqis.
"Lo nggak papa kan?" tanya marchel membuka pembicaraan.
Balqis yang sadar sedang di perhatikan Marchel pun menjawab,"Gue gak papa." Jawabnya
Ketika Marchel hendak keluar untuk melihat situasi di luar, Balqis terlebih dulu menarik tangannya karna ia melihat sekilas tangan kiri Marchel terluka.
" Tangan lo kenapa?" tanya Balqis.
"Oh nggak pa-pa hanya luka kecil. " jawab Marchel.
"Kecil apaan, itu darah udah keluar banyak banget." Balqis berusaha untuk menutup luka Marchel menggunakan tangannya.
"Udah lah gue gngak pa-pa." Ucap Marchel sambil melepaskan tangan Balqis lalu mengelap bekas darah ditangannya.
"Woy tutup pintunya ada yang mau dateng!" ucap Dimas dan Marchel langsung menutup pintu tersebut.
Marchel menarik tangan Balqis untuk bergabung bersama Dimas dan Stephani yang nampak tenang disana.
Tap...tap..tap..
Suara langkah kaki dari luar berpacu dengan jantung mereka berempat yang ketakutan. Stephani yang awalnya tenang kini menjadi ketakutan lagi,keringat dingin bercucuran sekaligus air mata menetes di pipi lembutnya.
Dimas yang melihat hal tersebut mendekap erat tubuh Stephani agar bisa menetralisir rasa takutnya.
Sementara Balqis dan Marchel masih siaga di samping pintu untuk jaga jaga agar ketika orang tersebut datang ia bisa mengatasinya.
Tapi itu semua sia sia pria berjubah hitam tersebut sudah mengetahui hal tersebut, ia hanya pura pura lewat agar bisa mengelabuhi mereka.
Tap..tap..tap..
Langkah tersebut melewati ruang kesenian yang mereka gunakan untuk bersembunyi.
Marchel membuka sedikit pintu itu dan melihat keadaan yang nampaknya sangat aman.
Marchel berdiri di depan pintu dan menghadap ke arah ruangan tersebut untuk menyuruh Balqis dan yang lainnya keluar.
Tapi nasib buruk menghampiri Marchel, ketika ia lengah pria berjubah hitam itu datang secara tiba tiba dan menusuk perut Marchel dari belakang.
Jleb..
Pisau yang cukup panjang sekarang menancap di perut Marchel, darah segar mengalir begitu deras .
Pria tersebut mencabut pisau nya dan itu kesempatan bagi Marchel untuk menyerangnya. Marchel balik badan dan langsung meninju tepat di bagian muka pria itu yang mengenakan topeng.
Balqis dan Stephani hanya bisa terbelalak karna baru pertama kalinya mereka melihat darah sebanyak itu.
Dimas terbawa emosi melihat hal itu dia menghampiri Marchel yang sedang sibuk meninju pria yang sekarang sudah babak belur.
Dimas mengambil alih untuk menghajar pria itu dan menyuruh Balqis dan Stephani untuk membawa Marchel ke mobil.
Bhak ...bhuk..bhak..bhuk..
Suara pukulan dari Dimas yang membuat Balqis dan Stephani ketakutan ketika ingin membantu Marchel berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Gudang Sekolah
TerrorMengisahkan perjalanan mereka untuk menguak sebuah rahasia. Rahasia yang selama bertahun tahun merenggut banyak nyawa, rahasia yang menurut mereka sendiri tak masuk akal. Dengan kemampuan yang dimiliknya masing masing, akankah mereka bisa memecahkan...
