Balqis pun menyusul Dhavis yang entah kemana perginya. Ia berinisiatif untuk pergi kerumahnya barang kali Dhavis ada di sana. Bergegaslah ia menuju apartemen Dhavis yang tak jauh dari rumahnya berada.
Dhavis memang hidup sendiri tanpa kedua orang tua. Ia menolak tinggal dengan orang tuanya ketika ia sadar bahwa dirinya adalah anak angkat.
Disisi lain, Dhavis dengan amarahnya mengunci dirinya rapat rapat di ruang apartemennya yang gelap. Ia merogoh ponselnya untuk menelpon seseorang. Bukan Balqis, melainkan teman curhatnya yang bernama Lia. Tak ada jawaban, ponselnya mati. Dhavis kembali marah lalu melemparkan handphone nya kedepan mengenai kaca lemarinya. Serpihan kaca berserak kemana mana namun ia hiraukan. Dhavis hanya meringkuk dengan menutup kedua telinganya.
"Pergi ! Pergi ! " Teriaknya entah kepada siapa dengan kedua tangan yang terus menutup telinganya.
Balqis langsung berlari menuju apartemen Dhavis dan langsung memencet tombol bel berkali kali sambil menggedor gedor pintunya.
"Dhavis, tolong buka pintunya," ucap Balqis putus asa.
"Gue nggak pa-pa, Qis. Lo pulang aja, gue pengen sendiri." Balqis bisa merasakan bahwa Dhavis tidak sedang baik baik saja. Suaranya bergetar dan juga terdengar lirih.
"Gue nggak akan pulang kalau lo nggak bukain pintu," ujar Balqis yang hanya bisa tenang jika ia bisa melihat wajah Dhavis hari ini.
Tak lama pintu terbuka. Dhavis muncul dengan memperlihatkan senyum yang bisa dipastikan itu terpaksa.
"Gue nggak pa-pa, kan ? Sekarang lo pulang ya ? " Dhavis tersenyum.
"Yakin lo nggak pa-pa ? Lo bisa cerita sama gue, vis." Balqis melihat sekilas didalam yang gelap menandakan bahwa Dhavis benar benar sedang tidak baik baik saja.
"Gue cuman pengen sendiri, lo bisa kan tinggalin gue sendiri. Sebentar aja." Akhrinya Balqis mengalah, sekeras apapun dia mencoba untuk membujuknya semakin pintar juga Dhavis untuk berbohong padanya. Ia pun pulang dengan rasa khawatirnya terhadap Dhavis dan berharap Dhavis akan baik baik saja besok.
Di sisi lain. Marchel pulang sendiri karena Dimas harus mengantar Stephani pulang. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, mobil Marchel melaju kejalanan yang sepi. Pikirannya kini sangat sangat kacau, rasa cemburu membuatnya membentak Dhavis, bukan hanya membentaknya namun dirinya telah menganggap Dhavis lemah.
Disaat ia bertarung dengan pikirannya, Marchel melihat seorang perempuan berdiri menghalangi jalannya. Terpaksa ia berhenti dan menghampiri perempuan tersebut.
Marchel menepuk pundak perempuan itu namun yang ia dapat hanyalah kain putih dengan bercak darah segar. Lampu jalan tiba tiba mati, hanya lampu mobil Marchel yang menyala. .
Marchel langsung berlari ke dalam mobilnya dengan meninggalkan kain tersebut. Saat ia menoleh ke depan kaca mobilnya ia terkejut melihat kaca bagian depannya telah tercoret dengan tulisan yang mampu membuat bulu kuduk Marchel berdiri seketika.
Tolong aku, selamatkan jasadku
Seperti itu lah tulisan yang saat ini ada didepan kaca mobil Marchel. Tanpa pikir panjang Marchel masuk kedalam mobil lalu menghidupkan wiper untuk menghapus noda tersebut. Baru saja dirinya akan menekan gas untuk meninggalkan tempat tersebut, ketokan dikaca kirinya membuat Marchel kembali takut. Dirinya tak ingin melihatnya namun kepalanya menoleh dan apa yang dia lihat adalah hal yang paling mengerikan.
Kaget dan takut campur aduk ketika Marchel menoleh ke arah tersebut.
Nampak sesosok wanita seumuran Marchel yang berwajah pucat se pucat pucatnya yang kini telah memandang Marchel dengan pandangan yang sayu sambil berkata,
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Gudang Sekolah
TerrorMengisahkan perjalanan mereka untuk menguak sebuah rahasia. Rahasia yang selama bertahun tahun merenggut banyak nyawa, rahasia yang menurut mereka sendiri tak masuk akal. Dengan kemampuan yang dimiliknya masing masing, akankah mereka bisa memecahkan...
