cerita cinta segitiga antara Rio, dan hyung nya Lee Dong Hae, dengan seorang wanita bernama Jessica Jung, guru yang mengajar di tempat Rio menimba ilmu.
Lima hari di rumah Yoong, Rio sibuk menyetting motor balap nya di temani Jisoo dan Seulgi, dan malam nya, Rio menuju ke rumah Rose untuk menjemput sang sahabat, Rose bagaikan jimat untuk Rio, karena tanpa kehadiran gadis itu, bisa diprediksi, Rio pasti kalah.
Ditempat lain, Dong Hae dan Jessica baru pulang dari acara nonton nya, mereka dalam perjalanan pulang sekarang.
"Oppa, appa dan eomma menanyakan mu, kapan oppa akan datang ke rumah?" Tutur Jessica pada sang kekasih, Dong Hae tersenyum hangat, lalu meraih tangan kanan Jessica dan menggenggam nya.
"Lusa, oppa berencana mempertemukan mu dengan dongsaeng oppa, karena hanya dia keluarga oppa satu-satu nya, setelah kalian berkenalan nanti, oppa akan langsung bertemu dengan appa dan eomma Jung" jawab Dong Hae seperti biasa, dengan tutur kata yang lembut dan suara dalam nya yang menenangkan, itu lah yang Sicca suka dari seorang Lee Dong Hae.
Dan disisi lain, apes bagi Rio, orang tua Rose baru datang kembali dari Australia, jadi dia tak bisa keluar malam untuk menemani Rio, tapi Rio tetap berangkat bersama dengan rombongan yang lain, Jennie, Jisoo dan Seulgi.
"Mana Rosie?" Tanya Jennie pada Rio yang batu datang ke arena.
"Appa dan eomma Park baru kembali dari Australia, jadi dia tidak bisa ikut" ucap Rio tak bersemangat.
"Its okey, kamu masih tetap bisa mengikuti balapan Rio-yaa" bujuk Seulgi.
Acara segera di mulai, Rio sudah bersiap diatas motor nya, begitu juga rider yang lain.
Para sahabat Rio berdiri di samping lintasan, untuk menyaksikan balapan liar yang sebentar lagi di mulai, dan. . .
"GO!"
Teriak seorang official yang memberi aba-aba pada para pembalap, Rio langsung tancap gas, rute nya adalah memutari jalan utama 5x bolak balik, Rio berada di posisi ketiga, dan dalam balapan liar seperti ini, tidak ada juara ke 2, atau 3, tapi hanya ada 1 yaitu yang pertama sampai di garis finish lah juara nya.
Balapan tinggal menyisakan 1 putaran lagi, dan posisi Rio sudah memimpin di depan
Tiba-tiba suara sirine dari mobil polisi yang tengah berpatroli pun terdengar, mengacaukan fokus para rider yang sedang beraksi diatas kuda besi nya, termasuk Rio, dia ikut panik karena selama ini mereka belum pernah tertangkap polisi yang sedang berpatroli seperti ini.
"Jisoo, cepat kabur" dia mengingatkan sang sahabat, gerombolan muda mudi itu pun lari kocar kacir berpencar kemana-mana, apes bagi Rio, rantai motor nya putus di tengah jalan, dia tak bisa melanjutkan pelarian nya, Jennie menoleh kebelakang, dengan wajah sedih dan panik nya.
"Seulgi-ahh, Rio" tunjuk nya memberitahu sahabat nya berada sedikit di belakang nya.
"Sorry Jennie, polisi itu sudah dekat" sesal Seulgi setelah menoleh ke belakang.
Dan Rio pun tertangkap, lengkap dengan barang bukti, yaitu motor balap nya, dia pun di giring ke kantor polisi.
Kriiing. . .
Ponsel Dong Hae berdering, dia melepas genggaman tangan nya dari Jessica untuk meraih headset yang berada di samping stir mobil nya.
"Hallo"
"Dong hae. . . "
Jessica menatap cemas pada sang kekasih yang wajah berubah muram, dan terdengar menghela nafas.
"Oppa, ada apa?" Selidiknya.
"Dongsaengku di kantor polisi" jawab Dong Hae lemah.
"Kamu tak keberatan kan, menemaniku ke kantor polisi?" Tanya Dong Hae tak enak, Jessica mengangguk.
"Aku tak keberatan oppa" jawab nya mengusap lengan Dong Hae untuk meyakinkan sang pria.
Di kantor polisi
Seorang petugas bermarga Choi sedang menginterogasi Rio.
"Rio Rio" ucap nya miris sambil terus menggeleng.
"Aku sudah menghubungi hyung mu, sebentar lagi dia akan datang kesini" lanjut nya yang adalah teman sejawat Dong Hae di kepolisian, dan Rio hanya diam membisu dengan wajah marah nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak sampai 10 menit, Dong Hae telah tiba di kantor polisi, Changmin telah menyambutnya di lobby kantor.
"Hyung, dimana dia?" Panik Dong Hae menghampiri rekan nya itu.
"Dia di dalam ruang interogasi bersama Siwon" beritahu Changmin.
"Sicca-ahh, tunggu disini ne" pinta Dong Hae dan mendudukan kekasih nya itu disofa yang terletak di depan pintu masuk Ruang interogasi, Jessica mengangguk patuh.
"Siwon-ahh, terima kasih atas bantuan nya" ucap Ding Hae sambil menjabat tangan Siwon yang memberi kebebasan untuk Rio, guna mendapatkan pembinaan dari hyung kandung nya sendiri di rumah.
"Ayo kita pulang" ajak Dong Hae, Rio langsung berdiri, mengikuti langkah hyung nya, sampai di ambang pintu, lengan kanan Rio di tahan oleh Siwon, pemuda itu menoleh, menatap tanpa ekspresi.
"Jangan kecewakan hyung mu, dia sangat menyayangi mu" ucap nya, Rio melirik lengan nya, dan Siwon pun langsung melepas nya, Dong Hae keluar dari ruangan, Jessica langsung berdiri dengan wajah sumringah, begitu melihat sang oppa sudah bisa tersenyum lega.
"Dimana dongsaeng mu oppa?" Tanya Jessica
"Kemarilah, hyung kenalkan dengan calon kakak ipar mu" Dong Hae memanggil Rio dengan tangan kiri nya, meminta nya mendekat, dan melingkarkan lengan kiri nya di bahu sang dongsaeng.
"Sayang, kenalkan Lee Mario Maheveen, dongsaeng ku"
Duar
Jantung Jessica terasa berhenti berdetak, menatap sosok tinggi menjulang yang berada dalam rangkulan Dong Hae adalah murid yang selama ini selalu membuat nya naik pitam, Rio sendiri juga diam mematung menatap sosok guru killer nya yang selama ini seperti menjadi musuh nomor 1 nya di sekolah.
"Nah, Rio, ini Jessica noona, calon istri hyung" lanjut Dong Hae mengenalkan kedua nya.
"APA?" Kejut kedua nya tak percaya, Jessica sampai ternganga mendengar penuturan kekasih nya itu.
"Hey, ada apa dengan kalian?" Bingung Dong Hae melirik Rio dan Jessica bergantian, dongsaeng nya tak menjawab, dia hanya menatap malas pada Jessica yang menatap nya tajam dan kesal.
Rio lantas beranjak begitu saja meninggalkan hyung nya, keluar dari kantor polisi, dan Dong Hae yang hendak mengejar nya pun, tangan nya di tahan oleh Jessica, dia menatap sang gadis yang menunduk dibelakang nya.
"Oppa, dia murid yang sering aku ceritakan pada mu" jujur Jessica tak berani menatap pada Dong Hae, dia hanya menunduk takut, segan, juga tak enak hati, karena sosok yang selama ini dia keluhkan pada sang oppa, ternyata adalah calon adik ipar nya.