17. Pesona Jimin

3.3K 433 99
                                        

Para staf medis memandang Jungkook dengan wajah keheranan. Tentu saja, karena dokter muda itu terlihat bahagia sekali disaat-saat seperti ini.

Mereka sudah berada di desa itu semenjak pukul sepuluh pagi. Desa yang indah namun terlihat ramai karena kesibukan warga dan pendatang yang mengurus para pasien wabah yang semakin bertambah.

Tim yang dibawa Jungkook mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing, untuk meneliti. Jimin sendiri mendapat bagian untuk melayani setiap warga yang berkeluh kesah tentang kesehatannya. Ia memiliki pos sendiri dengan menggunakan tenda yang sudah disediakan. Dengan berbaik hati ia juga mengobati pasien yang kakinya cedera karena terjatuh dari atas tubuh seekor sapi, memijat seorang wanita tua dan berbagai hal lainnya yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan jika itu bukan mengenai wabah.

"Aku pikir kau tidak perlu menandatangani kontrak tim yang sudah kubuat. Karena kau terlihat menikmati pekerjaanmu." Itu Jungkook yang datang ke pos milik Jimin.

"Biar aku yang memijat Nenek." Kata Jisoo yang tiba-tiba mengambil alih pekerjaan Jimin ketika melihat Jungkook datang. Seokjin sendiri sibuk dengan peralatan medis dibelakang sana.
"Dokter Park sedari tadi belum makan siang, Dokter Jeon. Lebih baik kau membawanya." Jisoo melanjutkan sambil menyengir.

"Aku memang datang menjemputnya untuk makan siang, Perawat Kim. Aku juga kelaparan."

"Pergilah, Dokter Park. Biar aku yang mengurus semuanya." Seokjin menyahut dari belakang sana.

Jimin merasa kedua sepupu itu sedang bersekongkol agar dirinya diusir dari sini. Ia ingin berbicara tapi suara seorang nenek yang dipijat oleh Jimin tadi terdengar.

"Kalian belum makan? Aku punya beberapa lauk di rumah." Katanya sambil memegang tangan Jisoo agar berhenti. Ia segera bangkit dari sana dan berjalan melewati Jungkook dan Jimin yang terpana.
"Ayo." Ajaknya.

Jimin tersenyum canggung. "Terima kasih, Nek. Tapi kau tidak perlu repot-repot melakukannya. Kami sudah mendapatkan makanan dari pihak rumah sakit."
Kenyataannya memang benar. Mereka sudah diberi box lunch untuk setiap orang.

"Aku tidak dengar apa yang kau katakan, anak muda. Tapi rumahku tidak jauh dari sini. Ayo, ikuti aku."

Jimin bingung, ia melihat Jungkook dan pria itu tersenyum. "Jangan menolak kebaikannya. Mungkin dia mau berterima kasih padamu." Katanya. "Ayo." Lalu memegang tangan Jimin, mengikuti nenek yang sudah berjalan di depan sana.

---***---

Dibelakang tubuh Nenek itu, kedua pria disana sedang berpegangan tangan. Sebenarnya Jungkook yang memegang tangan Jimin. Pria mungil itu sendiri sudah berusaha melepaskannya, tapi Jungkook tidak mau.

Jimin merasa heran karena sepertinya ia belum memberikan jawaban atas pernyataan cinta pria itu. Tapi kenapa Jungkook bersikap seolah-olah mereka sudah menjadi sepasang kekasih?

Jimin ingat betul bagaimana pembicaraan mereka semalam.

"Kau..kau tidak mungkin mencintaiku."

"Aku yang merasakannya, Jimin-sshi."

"Tidak. Mungkin saja kau terbawa suasana karena kita.. ya, melakukan hubungan badan. Coba kau pikir kembali."

"Aku sering melakukan seks dengan orang lain, tapi aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta seperti sekarang ini. Dan, Hei! Kau meragukanku? Aku marah sekarang."

"Bukan begitu. Aish.. Kenapa kau menjadi kekanakan seperti ini?"

"Kau yang kekanakan, Park Jimin."

"OUR DREAMS"/KookMinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang