EXTRA PART

599 36 17
                                        

Setahun kemudian...

Pagi ini Alana terbangun dengan rasa malas. Di tariknya selimut saat Arda membangunkannya.

"Hei cantik, bangun yuk. Hari ini aku pingin sarapan bubur ayam di kedai pak Mul." ucap Arda sambil mengusap rambut istrinya, Alana.

"Badanku sakit semua. Aku pingin tidur lagi sebentar saja." rengek Alana sambil membenamkan wajahnya ke selimut tebalnya.

Arda tersenyum dan mengecup kening istrinya.

"Hari ini gak usah masak. Nanti aku akan mengajakmu makan di luar. Sekarang, aku akan beli bubur ayam dan kita akan sarapan bareng. Saat aku pulang kau harus sudah mandi lo." pesan Arda sambil bangkit dan meninggalkan Alana.

Arda berpapasan dengan mbak Siti di dapur. Perempuan paruh baya yang sudah setahun menjadi pembantu di rumahnya.  Wajah Mbak Siti  terlihat murung pagi ini.

"Kenapa Mbak? Ada masalah?" tanya Arda pelan. Matanya menatap lekat wajah mbak Siti.

Mbak Siti memberi kode pada Arda untuk lebih mendekat padanya.

"Kemarin mbak Alana muntah. Katanya masuk angin dan saat mbak Alana mau ambil minyak kayu putih di kamar, mbak Alana pingsan di tangga."

Mata Arda terbelalak lebar.

"Lalu Mbak Siti panggil Mas Dimas di rumah sebelah dan mas Dimas yang bawa Mbak Alana ke dokter. Apa mbak Alana gak cerita?" tanya mbak Siti heran.

"Gak." jawab Arda pelan di sertai gelengan kepala pelan.

Dengan cepat Arda berjalan kembali ke kamar.

Dilihatnya Alana masih tidur. Tak mungkin dia membangunkannya hanya untuk bertanya soal kemarin.

Dimas...gumam Arda dalam hati.

Bergegas Arda pergi menyusuri kebun di samping rumahnya dan melewati pintu yang terhubung ke rumah Dimas.

Tampak Dimas bercengkrama dengan Dinda yang kini sudah menjadi istrinya di taman belakang rumahnya.
Melihat Arda datang, Dimas melambaikan tangannya.

"Ayo ngopi dulu." ajak Dimas.

Dengan segera Dinda menuangkan kopi hitam dari teko ke cangkir kosong untuk Arda.

"Aku kesini hanya mau bertanya. Apakah kemarin Alana sakit? Mbak Siti bilang dia pingsan."

"Ya, kemarin aku membawa Alana ke klinik langganan keluargamu, maaf aku lupa mengatakannya padamu. Kupikir Alana pasti akan mengatakannya sama kamu."

Arda menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.
Ekspresi kecewa terlihat jelas di wajahnya.

"Akhir-akhir ini aku sibuk, pulang larut malam dan Alana sudah tidur saat aku datang. Jadi hari ini aku sengaja libur untuk menemaninya seharian."
Ada rasa sesal yang mendalam di hati Arda karena mengabaikan istrinya.

"Jangan sampai aku membantaimu hanya karena membuat Alana terluka." tukas Dimas kesal dengan tatapan tidak sukanya pada Arda.

"Mas Dimas!" tegur Dinda cepat.

Diliriknya Dimas dengan tajam.
Matanya seakan protes dengan kalimat suaminya.

Emosi Dimas mudah sekali tersulut kalau mendengar Alana tersakiti. Dia merasa sedih karena Alana tumbuh tanpa seseorang yang melindunginya.

"Jangan berlebihan, Mas. Kak Arda juga menyesal saat tahu kesalahannya pada Alana." kata Dinda pelan.

Arda hanya diam. Mengutuki dirinya sendiri karena kurang perhatian pada istrinya.

You're mine [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang