Chapter 4 - The Heat

648 63 2
                                        

Hari demi hari, Alissa terus menghitung dan menghitung serpihan ingatannya. Hati dan otaknya tidak bisa beristirahat meski hanya untuk sesaat. Dia tahu, pikiran-pikiran itu hanya akan menjadi beban berat yang sulit dikendalikan. Mengapa Alissa tidak bisa mengendalikannya?

Alissa semakin merasa seperti orang bodoh yang buta dari cinta. Tiap malam, ia menatap hanya pada satu titik di langit. Cahaya dari langit yang terus berkilau itu, memandang sedih kepada Alissa. Mungkin bintang itu tahu, jika sumber kesedihan Alissa adalah karena mereka takkan bisa saling berjamah. Mungkin jika harus jujur secara brutal, kelenjar air mata Alissa telah kering. Tetapi, kesedihan masih tetap tinggal.

Alissa terus mencoba menghibur dirinya dengan kebohongan-kebohongan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia terus mengalihkan diri dengan semua aktifitas yang ia lakukan. Entah itu membersihkan senjata-senjata dan mengasah pisau, atau melakukan aktifitas fisik. Desir angin kesepian itu akan terus berhembus ditengah-tengah lembah kerinduan. Fase terberatnya, adalah saat ia sendirian didalam sel saat masih di Pentagon.

Kini ketika Optimus jauh, ia harus bertahan sendiri. Tidak bisakah siapapun memberitahu Alissa jika semua akan baik-baik saja?

Jika bukan karena harapan dan keyakinannya, Alissa pasti sudah gila karena cinta yang membutakan ini. Ia tak bisa menjangkau Optimus, tidak pula menepiskan ia dari pikirannya meski hanya satu menit. Ia terus menunggu Optimus hari demi hari. Bahkan jika hari-hari itu tak lagi datang, Alissa akan tetap menunggu.

Alissa hanya mencintai Optimus. Hanya Optimus.

"PERSETAN!" Alissa mengutuk angin. Tangan berbalut fingerless glove itu menghantam bangkai mobil SUV dengan keras hingga menghasilkan bunyi yang nyaring. Logam berkarat disana, menjadi tepos membentuk kepalan tangan Alissa. Dadanya kembang-kempis.

GRRR

Suara raungan membuat Alissa hampir terjingkat kaget. Ia menoleh, menyadari ada Grimlock yang meraung dibelakangnya. Tyranosaurus itu melangkah mendekat kearah Alissa, lalu duduk disampingnya. Alissa meninggalkan tempat berdirinya, lalu menghampiri Grimlock. Tangan kecilnya menyentuh moncong bergigi tajam tanpa gentar.

"Me, Grimlock, melihat Alissa marah. Me, Grimlock, ingin tahu!" Suaranya seperti monster dasar laut yang mengerikan. Tapi sebenarnya ia cukup lunak didalam.

"Aku tidak apa-apa," katanya. "Aku hanya terbawa emosi." Alissa pun duduk. Kepalanya bersandar pada Grimlock seperti bersandar pada boneka teddy bear besar.

Siang itu begitu terik hingga membuat siapa saja kepanasan. Tampak Ultra Magnus tengah diam dan duduk memperhatikan Grimlock bersama Alissa. Ia mengakui mereka tampak rukun meski beberapa kali harus terlibat pertengkaran dengan Prowl. Ultra Magnus melihat semua kemarahan Alissa. Ia tidak tahu kenapa, dan ia tidak ingin bertanya.

Hanya saja, sesuatu menganggu pikirannya.

"Alissa, bisa kita bicara sebentar?"

Ultra Magnus mengabaikan apa yang dilihatnya. Alissa menurunkan tangannya, lalu berbalik menatap Ultra Magnus dengan tatapan datar. Ia tahu Alissa tengah berada dalam titik dimana emosinya meledak-ledak. Mereka berdua pun tahu jika ini bukan saat yang tepat untuk tenggelam dalam emosi.

Alissa mendongak, "tent--yes, sir." Alissa membenahi ucapannya, tak ingin di protes karena tak mematuhi protokol militer Ultra Magnus.

"Ikut aku," ujarnya tenang.

Alissa tidak menjawab lagi. Ia berjalan mengekor Ultra Magnus sembari meregangkan persendian tangannya. Serpihan-serpihan cat yang mengelupas menempel di buku-buku jarinya. Alissa mengibaskan tangannya, lalu diusapkan di pakaiannya tanpa peduli kotor.

Transformers: Dance with The DragonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang