Chapter 10 - Light of the Day

571 50 4
                                        

Lorong gua yang gelap menyelimuti truk Peterbilt berwarna biru dengan loreng flame api. Tidak ada cahaya selain cahaya matahari yang berada di luar, merangsek masuk melalui mulut gua. Kerikil kerikil kecil bergesekan dengan ban truk Optimus, melindas bagai bulldozer. Beberapa batu yang agak besat membuat guncangan ringan.

Optimus melaju dengan kecepatan maksimal. Darah energon mengalir melewati syaraf-syarafnya. Adrenalin terpacu begitu cepat. Ketika ia melangkah keluar dari mulut gua, sambutan senjata pasukan Decepticon adalah hal pertama yang mereka temui. Optimus, tanpa sepengetahuan Alissa, tersenyum meski hanya sesaat.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan kepada Alissa, dan begitu banyak kisah yang tak sabar ia bagikan. Yah, tampaknya semua kata dan kisah itu harus menunggu untuk beberapa saat. Setidaknya sampai peperangan konyol ini berakhir atau mereka akan terus terganggu. Optimus mungkin punya banyak waktu, umurnya bisa mencapai jutaan tahun. Dan Alissa, hanya manusia.

Sulit. Tetapi mereka memilih untuk tidak membahas ini dulu.

Optimus dan Alissa berhenti di dekat mulut goa. Alissa turun dan Optimus bertransformasi disampingnya. Sebelum melakukan penyerangan, membuat taktik adalah hal terpenting. Saat ini Optimus tidak akan melarang Alissa terjun ke dalam pertarungan.

Apakah Optimus khawatir? Tentu saja. Tetapi ia percaya Alissa telah tumbuh menjadi pejuang yang hebat yang mampu berkembang pesat dalam ganasnya medan peperangan. Kendati terjun dalam pertarungan bersama-sama menghadapi musuh yang sama selama bertahun-tahun, Optimus tidak akan membiarkan barang seujung jari pun menyentuh Alissa.

His girl. His spakrmate. His beloved. His soon-to-be Conjunx Endura.

"Allister," Optimus memanggilnya. Ia berlutut dihadapan Alissa. Gadis itu mendongak lalu menatap optik biru seindah samudera. Servo Optimus di pundak Alissa, dan membuat gadis itu bergetar. "Aku ingin kau memiliki ini," katanya

Optimus mengambil sesuatu seperti remote dari balik crestnya. Ia memberikannya kepada Alissa, dan gadis itu hanya bisa melihat sebelum menerima apapun pemberian Optimus.

"Apa ini?"

Dengan tatapan meyakinkan, Optimus menjelaskan. "Ini adalah sebuah kunci. Aku mempercayakan ini padamu," kata Optimus.

"Kunci apa?" Alissa masih belum menerima benda pipih sebesar sepuluh centimeter tersebut.

"A key to open a Chamber."

Well, tidakkah memang itu kegunaan kunci, untuk membuka suatu ruangan? Itu sama sekali bukan jawaban yang bisa diterima Alissa detik ini. Banyak hal telah terjadi dan ia tidak bisa berpikir lagi.

"Kau akan melihatnya sendiri nanti," tambah Optimus.

Suara teriakan Smokescreen terdengar. Alissa dan Optimus tidak mempunyai banyak waktu lagi. Maka tanpa berpikir panjang, Alissa menerima 'kunci' itu dan menyimpannya didalam saku internal jaket kulitnya.

"Aku akan menjaganya untukmu," kata Alissa. Ia menepuk pelan tulang rusuk bawah bagian kanannya--dimana kantong jaket itu terletak.

"Kau siap?" Kata Optimus.

Pikiran Alissa tiba-tiba menjadi absurd ketika Optimus bertanya. Ia membayangkan jika Optimus menanyakan itu di hari pernikahan mereka. Ia membayangkan dirinya mengenakan gaun anggun berwarna putih dan Optimus...di cat ulang, mungkin? Di sebuah pantai, dimana mereka mengucap janji setia.

Dan sungguh, itu sangat konyol hingga Alissa tanpa sadar tertawa sendiri. Ia mempermalukan dirinya didepan Optimus dan membuat Smokey menunggu sembari menjadi bulan-bulanan Decepticon. Ia sungguh memalukan, tak berakhlak.

Transformers: Dance with The DragonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang