Mereka masih setengah jalan menuju persembunyian. Matahari semakin terik, untung saja AC Drift menyala. Itu membuat Alissa merasa sedikit lebih baik. Meski tanpa Alissa tampak lebih diam dari sebelumnya. Ia tampak sedang tenggelam dalam lamunan.
Tangannya menopang dagu. Matanya memandang keluar jendela menatap tanah-tanah gersang yang terbakar panas sang mentari.
"Kau tiba-tiba diam. Itu sangat tidak wajar," ujar Drift.
Alissa menyunggingkan seringai. "Kau mengharapkanku untuk berbicara non-stop seperti radio?"
"Well, tidak. Tapi aku pendengar yang baik, tahu?"
"Pendengar yang satire," tandas Alissa.
"Mhm. Tepat sekali," Drift membenarkan vonis Alissa. "Jadi, Al, apa yang mengganggu pikiranmu?"
Alissa selalu menyukai afeksi dan perhatian Drift. Itu membuatnya merasa lebih baik dan tidak begitu merana. Emosinya tenang, tetapi dapat meledak kapan saja.
"Aku bertemu teman SMA-ku saat di supermarket," kata Alissa. Drift terdengar agak kaget meskipun ia tidak menunjukkannya secara spesifik. "Dia mengenaliku, dan kami mengobrol beberapa saat," tambahnya.
"Teman SMA-mu yang mana? Dia tidak melaporkanmu, kan?"
Alissa mengangkat bahu. Ia tidak yakin. "Peter Lane," jawabnya.
"Oh, dia. Mantan pacarmu yang tidak punya sopan santun itu ya?"
"Hei!" Alissa mengerang tidak terima. "Aku tidak pernah punya hubungan dengan siapapun. Kecuali Optimus!" Alissa sedikit nge-gas. Ia menyesal pernah menyukai sosok itu saat SMA dulu.
Drift terdengar sedikit terhibur. "Baik-baik. Aku tahu," katanya menyerah.
Singkat cerita, pernah ada ketegangan antara Alissa, Drift dan Peter Lane bertahun-tahun lalu saat Alissa menginjak tahun terakhirnya di SMA. Bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi cukup menghibur jika diingat.
***
Saat itu adalah hari kamis terakhir sebelum dirinya dinyatakan benar-benar lulus dari SMA. Bel pulang berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas dengan raut wajah gembira. Libur akhir semester telah tiba, dan Alissa kini akhirnya bebas melaksanakan semua kegiatan yang ia rencanakan.
Alissa menoleh keluar jendela. Ia melihat mobil Bugatti Veyron berwarna hitam dan biru sudah menunggu didepan sekolah. Melihat itu, Alissa langsung bergegas mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan kelas. Tangannya menggenggam selempang tas ransel dengan erat.
Tumben sekali Drift menjemputnya. Biasanya Paul yang datang bersama mobil Ford tua peninggalan nenek Alissa. Tentu saja Alissa senang dan terkejut. Pasti ada sesuatu yang penting, yang tidak bisa ditunda maupun diwakili.
Alissa mempercepat langkahnya.
"Kau lihat ada Bugatti Veyron di depan sekolah!" Seorang murid berkata. Alissa tidak kenal siapa dia.
"Ya, aku melihatnya." Suara yang lain menyusul. Kali ini ia kenal siapa pemilik suara. Peter Lane, bintang sekolah dan idola semua murid perempuan. Termasuk Alissa.
Ia memiliki rambut spiky berwarna cokelat dengan mata hijau. Kulitnya gelap dengan tubuh atletis seperti seorang atlet. Well, memang Peter adalah seorang kapten di tim Football sekolah. Ini termasuk sebagai salah satu tim yang terkenal buas di lapangan.
"Ku dengar itu milik si Alligator."
Peter Lane berdecak. Ia menyilangkan tangannya setinggi dada. "Tidak mungkin! Dia biasanya dijemput oleh sopir--"
KAMU SEDANG MEMBACA
Transformers: Dance with The Dragon
Fanfiction[[Sekuel dari Tears of the Dragon ]] Lima tahun setelah Optimus meninggalkan Bumi, keadaan tidak semakin baik. Kapal-kapal Decepticon berdatangan, pasukan anti-Cybertron terus memburu. Kini, alam semesta kembali memanggil Alissa untuk memenuhi takdi...
