Alissa membuka matanya setelah dirinya koma selama hampir dua minggu lebih. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit logam dengan kabel yang terhubung dengan simpang siur. Alissa mengerjapkan matanya, merasakan ada yang aneh ketika ia membuka mata. Rasanya di mata kanan, ia melihat ada hologram-hologram aneh.
Samar-samar ia mendengar percakapan antara beberapa orang. Ia tidak bisa mengenali pemilik suara, tapi ia kenal bahwa Drift, Optimus dan Paul berada ditengah-tengah pembicaraan. Alissa mencoba membuka suara, namun ia merasa dirinya masih terlalu lemah. Ia merasa haus, tapi mereka terlalu jauh untuk mendengar Alissa.
"Air..." Ia berbisik, tak ada yang mendengar.
"Program ini masih Beta. Aku butuh setidaknya dua bulan untuk mengembangkan program ini sepenuhnya; jadi sampai saat itu Alissa akam tetap berada dibawah pengawasanku secara ketat." Ini suara Ratchet, disusul dengan Wheeljack mengangguk.
"Program ini belum pernah diterapkan sebelumnya. Jadi pasti akan ada reaksi-reaksi yang berbeda--dengan kata lain ada kemungkinan tubuh Alissa akan menolah CORE."
"Apa kau sudah menemukan cara untuk mengatasi jika ada penolakan?"
"Itu sudah diatasi dengan energon cair untuk sementara waktu Yang menjadi permasalahan adalah, jika organ-organ lain akan gagal jika terus mengalami penolakan terlalu banyak."
Disana, Optimus terdiam. Ia tahu tak banyak yang bisa ia katakan selain harapan terbaik bahwa Primus akan menyelamatkan malaikat kecilnya. Optimus, merasa spark nya dihujani ratusan juta peluru. Melihat Alissa terbaring koma membuatnya merasa bersalah dan tak berdaya. Untuk saat ini, ia berharap akan adanya keajaiban. Ia berjalan menjauh.
Optimus mengingat masa-masa singkat yang mereka habiskan bersama. Ada rasa sesal. Harusnya ia tinggal di Bumi, bukannya pergi mencari Creator. Harusnya ia tinggal bersama Alissa, dan melatihnya dengan baik hingga ia tak harus melalui hal mengerikan ini. Kini diambang batas, Optimus hanya bisa berharap agar keajaiban terjadi.
"Sensei!" Optimus tak menjawab, hanya mendongak. "Alissa sadar, dia mencarimu!"
Optimus tanpa berbicara langsung berlari menuju ruang perawatan dimana Alissa berada. Beberapa manusia yang berada disana tampak sedang panik dan berusaha menenangkan Alissa. Ia seakan terbangun ditengah-tengah pertempuran yang panas.
"Dimana Optimus? Apa yang kalian lakukan padaku?" Ia membawa pisau bedah dan ia acungkan ke semua orang.
Alissa mengamuk.
"Milady, ini aku. Paul."
Ia menatap Paul dan mendekatinya. Tanpa disangka, ia mencengkeram kerah Paul. "Dimana Optimus?!"
Optimus datang. Ia membuat suara, "Alister. Aku disini. Lepaskan dia."
Alissa menatap sosok besar itu. Ia berhenti sesaat bersamaan dengan menjatuhkan pisau bedah yang ia bawa. Kedua mata bertemu dengan optik biru Optimus. Alissa membisu seraya melepaskan Paul. Ia tiba-tiba menangis dengan air mata yang bercucuran. Ia berjalan perlahan menuju Optimus seakan-akan mereka telah terpisahkan selama ribuan tahun.
Optimus menangkap Alissa dalam dekapannya. Ia biarkan gadis yang baru bangun dari koma itu untuk memeluk tubuh logamnya, menumpahkan air mata. Optimus menyentuh punggung Alissa dengan lembut, secara bersamaan Drift mengisyaratkan agar memberikan dua orang ini ruang. Optimus benar-benar merindukan Alissa dan betapa manusia ini menjadi bagian penting dari hidupnya yang panjang.
Apa yang dialami Alissa adalah hal yang lumrah. Ia harus diberi banyak anestesi dan zat-zat lainnya, kemudian zat-zat tersebut melebur bersama dengan energon yang tercampur didalam darahnya. Ada reaksi dari senyawa-senyawa tertentu yang membuat Alissa seperti terkena senyawa psikotropika. Hanya masalah waktu sampai ia benar-benar bisa mendapatkan kesadarannya kembali. Belum lagi bayangan terakhir yang ia lihat sebelum kehilangan kesadaran bukanlah sesuatu yang indah untuk diingat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transformers: Dance with The Dragon
Fanfic[[Sekuel dari Tears of the Dragon ]] Lima tahun setelah Optimus meninggalkan Bumi, keadaan tidak semakin baik. Kapal-kapal Decepticon berdatangan, pasukan anti-Cybertron terus memburu. Kini, alam semesta kembali memanggil Alissa untuk memenuhi takdi...
