Chapter 7 - A Will to Live

577 54 0
                                        

Cade telah membereskan semua kekacauan disana. Sang Ksatria Legendaris tak terselamatkan. Tidak satu pun yang bisa menyelamatkannya. Lukanya terlalu parah, dan mereka tak mempunyai banyak waktu. Alissa menyesali dua nyawa yang harus pergi hari ini. Ia mengutuk dirinya sendiri.

Ia tak pantas menjadi The Keeper. Ia tak bisa menyelamatkan mereka yang dalam kesulitan. Yang ia lakukan sekarang hanya berdiri dan memandang kapal itu. Jutaan kata maaf tak bisa menghidupkan ksatria itu lagi. 

Alissa menggenggam tangannya sendiri. Ia menutup mata untuk menarik nafas panjang. Ia mencoba melepaskan beban yang ada didadanya. Itu tidak semudah yang ia bayangkan, atau seperti yang Drift katakan. Ada beberapa saat dimana Alissa dikuasai oleh emosinya yang abstrak. 

Alissa membuka matanya. Tetapi hal pertama yang ia lihat adalah refleksi dari seorang pasukan bersenjata lengkap dengan sniper mengarah tepat di kepalanya. Untuk saat ini, Alissa tidak bisa berlari.

"Guys," panggil gadis itu.

"Aku tahu," bisik Cade  dengan tenang.

Alissa mengangkat kedua tangannya. Ia dipaksa berbalik dan berdiri disamping Mikaela. Cade berada di sudut yang lain dengan tangan terangkat. Alissa menjatuhkan senapannya dan berdiri disana tak melawan. Mikaela juga melakukan hal serupa. Rifflenya ia jatuhkan dengan kedua tangan di kepala.

"Mereka berhasil dikenali, pak. Dia Cade Yeager, Allister Harris dan, aktris terbaik kita Mikaela Banes," jelas seorang anggota.

Mereka berjalan mendekat. Cade, Alissa dan Mikaela sudah berlutut dengan kedua tangan dikepala. Semua senjata telah dilepaskan kecuali tangan robot Alissa. Mereka tidak begitu bisa melepaskan tangan itu tanpa menyakiti gadis dengan berat enam puluh lima kilo itu. 

"Ini sudah berakhir," suara itu tidak asing bagi mereka. "Bantu dirimu di sini, pengkhianat," ujar sang Kolonel. Andy Kristoff.

"Di mana yang lain? Yang kau sembunyikan," salah satu orangnya ikut menggertak.

"Kami tidak akan mengkhianati teman," katanya. Tiga titik sudah ada di kepala Alissa. Ia menyeringai dengan cemooh.

"Teman? Ini sebuah invasi!" Kristoff masih bersikeras. "Suatu hari kita bangun, mereka yang berkuasa!" Andy mengatakan itu dihadapan Alissa. Jika tidak ada pasukan TRF yang bersenjata, Alissa mungkin sudah menghancurkan wajah kolonel rupawan itu

Cade terkekeh. "Kau lihat ada yang berkuasa? Mereka terus berjatuhan dari langit. Sesuatu datang dan kau tidak bisa menghindarinya," tambahnya. 

Alissa berusaha tenang dan tidak terpacu amarahnya. Jika ia marah, semua pengorbanannya akan sia-sia. Ia menatap mata cokelat Andy dengan ekspresi wajah menjengkelkan. 

"Mereka menangkap manusia, pak. Mohon ijin menyerang," ujar Drift mewakili Bumblebee dan Hound.

"Ijin diberikan," kata Ultra Magnus. "Bumblebee, alihkan perhatian mereka. Drift, pastikan tidak ada serangan udara. Hound, kau bersamaku."

Alissa, Cade dan Mikaela mendengar percakapan ini dengan tenang. Bantuan sedang dalam perjalanan kemari. Tetapi orang-orang TRF itu masih beroperasi dan memindai sekitar. Insting tajam Alissa mengatakan untuk mengalihkan perhatian mereka. Tidak dengan fisik, namun membuat kolonel ini depresi adalah kesenangan tersendiri. 

"Begini," Alissa bersuara. "Kalian menangkap dan membunuh kami semua. Tapi, satu hal yang perlu kalian tanyakan pada diri kalian. Bagaimana jika kami mati, dan kalian salah? Kau tidak akan punya tempat untuk dimintai tolong," kata Alissa.

"Mereka menyelamatkan bokong kotor kalian empat kali. Mungkin lima. Sementara kalian masih bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan permen," kata Mikaela.

Transformers: Dance with The DragonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang