Chapter 2 - Realm of Coexistence

750 67 8
                                        

"Who are you without me, Prime?" Suara seorang perempuan mengerikan mendengung mengisi angkasa. "NOTHING!"

Gelap. Hanya gelap. Malam semakin kelam, tak ada satupun bintang yang menyinari Arizona malam itu. Hanya ada bulan sabit besar, yang membuat malam itu semakin gelap. Angin berhembus begitu kencang, seakan-akan ia berusaha memisahkan kulit dan daging; menusuk tulang-tulang dengan jarum-jarum es.

Tak berdaya, tak ada cahaya.

Alissa membuka matanya. Nafas pendek dan tak beraturan. menyadari dirinya berada diatas bukit, tak jauh didepannya ada bukit terjal. Sebuah jurang dengan kedalaman entah berapa puluh kilometer menanti Alissa untuk terjun. Pakaiannya tidak sekotor yang ia kira, namun wajahnya berlumur cairan aneh. Dan itu bukanlah darahnya.

"Harapan terakhir telah membuat kita semua kecewa," suara itu datang lagi. Ia tak tahu siapa itu. Suara yang sama.

"I...am...slave...to....no...one," suaranya tegas, namun lirih dan terbata-bata. Tak ada getaran menyerah.

Alissa tercekat, wajahnya menjadi pucat. Secara reflek ia menoleh kebelakang, mendapati seseorang yang berjalan lebih dekat kearahnya. Wajahnya samar, tetapi ia sangat mengenali pemilik suara itu.

"O-Optimus...." panggilnya lirih.

Alissa mengangkat kepalanya, melihat Optimus dengan kedua bola matanya yang menghitam. Ya, hanya hitam pekat. Pandangan yang dikenal Alissa itu membuat kakinya melangkah lebih dekat. Tentu wajar jika Alissa takut; maksudnya, siapa yang tidak takut saat bertemu dengan sosok Eyeless. Terlebih, ia kenal dengan sosok eyeless ini.

Optimus tidak bergerak.

"O-Optimus...." Ia terbata-bata, langkah mundurnya masih terus berjalan. Ia tinggal beberapa meter lagi menuju ujung tebing. "What happen?" Dia mencoba menghentakkan dirinya sendiri agar terbangun dari mimpi buruk ini. Namun tak satu pun yang mampu membuatnya terbangun.

Apa ini?

"Dia sudah mati," Kali ini suara lain menyusul dari arah yang sama. Alissa tak langsung mengenali suaranya, namun ia pernah mendengarnya. Ia tak tahu siapa. Suara yang mengerikan, membuatnya merinding.

"Aku punya rencana lebih baik daripada membunuhnya," kata sosok perempuan.

Alissa bersumpah jika ia benar-benar takut saat ini. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia akhir-akhir ini selalu bermimpi buruk. Seperti mimpinya beberapa malam lalu saat ia berjalan ditengah hutan sendiri dan mendapati Optimus tewas. Dan sekarang, terulang lagi. Ia melihat Optimus sudah menjadi sosok tanpa jiwa dengan pandangan gelap. Alissa tak percaya hal mistis, tetapi ia percaya dengan adanya monster dan mimpi buruk. Jika boleh jujur, mimpi buruk adalah hal yang paling ia takuti--membuatnya terus terjaga sampai berhari-hari.

Itu yang membuat Alissa jarang tidur.

Alissa semakin pucat saat melihat wanita seperti gurita itu mengangkat helm Optimus, membuatnya mendongak dengan satu tangannya. Alissa merasakan desiran luar biasa didalam dirinya. Paru-parunya seakan kering tanpa oksigen, dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Giginya menggertak dan rasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya.

"Bunuh aku, tapi jangan ganggu Bumi..." suara Optimus begitu lirih.

"Tidak!" Ia memberanikan diri bersuara. "Optimus!!!" Alissa terus berteriak, namun tak satu pun diantara mereka mendengar Alissa.

"Membunuhmu?" Suara wanita itu mencemooh. "Aku menciptakanmu, bukan untuk dibunu, Optimus," katanya. Wajah wanita itu semakin dekat dan Alissa benar-benar tak suka. Tak hanya rasa takut yang menjalar, namun juga amarah yang tak terbendung karena ia tak berdaya.

Transformers: Dance with The DragonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang