Mature Themes 21+
Nayla turun dari Mobil dan masuk ke dalam rumah Bara, kekasih nya.
Bara langsung membukakan pintu, Nayla mencium bibir Bara ganas, jujur dia merindukan Bara, bersama Bara adalah suatu kebiasaan suatu kenyamanan, tapi bersama Gerald seperti sesuatu yang membara, sesuatu yang Nayla tidak dapatkan pada Bara, sesuatu yang baru tapi begitu menyenangkan. Sesuatu yang salah tapi membuat terlena, jujur dia selalu terbayang Gerald setiap saat nya.
"Aku merindukan mu sayang." Ucap Nayla sambil memeluk erat bara.
"Aku juga sayang, sangat sangat merindukan mu." Seru Bara.
"Oh iya, Mana Mila ?" Tanya Nayla.
"Ada di samping, lagi teleponan sama Daniel, entah dari kapan dia dekat dengan Daniel ? Sekarang dia sering sekali teleponan dengan Pria itu." Ucap Bara yang tampak penasaran.
"Kau tidak tahu, Daniel menyukai Mila sejak lama, dan kata nya semenjak Mila sakit, dia sering datang ke Rumah Sakit dan hubungan mereka seperti nya bertambah dekat akhir akhir ini." Seru Nayla yang memang dia tahu semua itu dari gosip-gosip yang beredar.
"Benarkah ? Bagaimana mungkin aku tidak tahu." Ucap Bara.
"Mungkin karena kau tidak menginginkan hal itu ?" Ucap Nayla.
"Maksud mu ?" Bara sedikit bingung dengan pernyataan Nayla.
"Sudahlah jangan di bahas lagi, ayo kita ke kamar mu, tidak enak nanti kalau di lihat Mila kita disini." Ucap Nayla. Lalu Bara membawa Nayla ke kamar nya.
Jelas saja mereka akan melakukan hal itu. Katakan Nayla pendosa, katakan Nayla gila. Dia memang seperti sudah kehilangan akal sehat nya, dia menginginkan Gerald sangat menginginkannya, tapi dia juga tidak bisa melepaskan Bara.
Suara mereka mengisi rumah besar ini , desahan Nayla, pekikan dan suara Bara menggema. Mereka seperti mencurahkan rasa rindu, mereka tidak sadar ada sosok Mila yang berdiri di depan kamar mereka, mengepal kan tangan nya menahan amarah, mendengar suara Nayla dan Bara sungguh membuat Mila sakit hati dan meneteskan air mata nya.
Mereka bercinta semalaman tanpa memperdulikan Mila yang masih ada di rumah ini, setelah nya mereka kelelahan dan tertidur. Nayla merasakan kasur itu bergerak, dan melihat dari sudut mata nya yang terbuka sedikit kalau Bara sedang keluar dari kamar. Di ambil nya Hp nya lalu melihat jam sudah pukul setengah 7 pagi.
Nayla yang penasaran dia mengambil baju nya dan memakai nya dia juga langsung bangun dan mendengar Bara yang sedang bicara dengan Mila.
Dia melihat Mila yang sedang terbaring lemas, dan Bara sangat khawatir.
"Ada apa, Mila sakit ya sayang ?" Tanya Nayla yang sudah berdiri di belakang Bara.
"Aku baik-baik saja Kak Nayla." Jawab Mila.
"Dia mual, mungkin masuk angin ?" Seru Bara.
"Sini aku berikan minyak angin di punggung mu."
"Tidak perlu Kak, aku baik-baik saja."
"Aku akan mengambil minyak nya." Seru Bara.
"Kau mual, dari kapan ?" Tanya Nayla
"Beberapa hari ini Kak ?"
"Kau sulit makan, ada rasa pusing ?" Tanya Nayla lagi.
"Iya, seperti itu lah."
"Kapan kau terakhir Menstruasi ?" Tanya Nayla yang sukses membuat Bara terlihat bingung.
"Entah lah Kak, aku juga tidak terlalu ingat, lagi pula Mens ku jarang teratur, ini saja belum dapa--" Belum selesai menyelesaikan kata-kata nya Mila langsung berlari lagi ke kamar mandi dan muntah.
Bara mengikuti Mila dan membantu nya menahan rambut nya.
"Kau yakin baik-baik saja, kita ke rumah sakit saja."
"Tidak, aku tidak apa-apa kok, cuma masuk angin."
"Tidak, aku tidak apa-apa kok, cuma masuk angin."
"Aku ambilkan minyak kayu putih dulu." Ucap Bara.
"Ini minyak nya." Seru Bara yang sudah masuk ke kamar Mila, tapi Mila masih di kamar mandi.
"Dia hamil." Ucap Nayla
"Siapa ?" Seru Bara
"Mila, jelas sekali dia hamil."
"Tidak mungkin, bagaimana dia bisa hamil ?"
"Mana aku tahu, memangnya aku yang menghamilinya, yang jelas dia hamil, kalau kau tidak percaya bawa saja dia ke Dokter." Ucap Nayla, lalu tidak lama Nayla menerima telepon dan dia segera mengangkatnya.
"Sayang, lebih baik kamu bawa Mila ke Dokter, Maaf aku harus pergi, aku ada urusan penting, nanti aku hubungi lagi." Ucap Nayla, lalu dia langsung pergi.
***
Nayla langsung pergi ke kantor karena ada sedikit masalah di kantor, Gerald tiba-tiba tidak bisa di hubungi sejak semalam, dan supir nya juga tidak bisa di hubungi, sedangkan ada investor dari Singapura yang harus Gerald temui nanti jam 8, Nayla sibuk mengurus semua nya.
Sampai siang hari pun Gerald tidak ada kabar nya, dari yang kesal, marah dan merasa Gerald tidak bertanggung jawab, sekarang beralih ke gelisah, khawatir dan bertanya-tanya kemana orang itu, untung saja semua pekerjaan bisa di handle, tapi tentu saja ada beberapa pekerjaan yang tertunda karena tidak ada tanda tangan persetujuan dari Gerald, Nayla pergi ke hotel tapi hotel kosong, sebenarnya kemana Gerald.
Hari sudah malam, Nayla juga sudah sangat lelah. Dia menelepon Bara minta di jemput.
"Sayang." Ucap Nayla.
"Iya, sayang."
"Bisa jemput aku, di kantor ."
"Iya sayang, baiklah."
15 menit kemudian Bara sampai dan Nayla langsung masuk ke mobil.
"Bagaimana hari ini keadaan kantor ?"
"Agak sedikit kacau, Bos Gerald menghilang ?"
"Menghilang ? Maksud nya menghilang ?" Tanya Bara.
"Ya, mungkin hanya sedang ada urusan, cuma begitu lah aku terlalu banyak bekerja hari ini jadinya."
"Kasihan , kekasih ku. Ya sudah nanti pulang langsung makan, mandi, dan istirahat ya sayang."
"Iya sayang terima kasih."
Sesampainya di depan rumah Nayla, Bara berpamitan.
"Aku pulang dulu ya sayang." Ucap Bara
"Iya, terima kasih ya sudah mengantar ku, sampai ketemu besok sayang." Ucap Nayla.
Di sisi lain.
Gerald sedang berada di Club, Club itu milik teman nya, sudah sejak dari malam itu sampai seharian ini dia tidak kemana-mana, Club ini memang sangat mewah bahkan menyediakan kamar VVIP untuk tamu yang berkunjung.
"Mau sampai kapan kau disini Bro ?" Ucap temannya Gerald.
"Sampai mati mungkin." Ucap Gerald yang sudah sempoyongan tapi tetap saja minum-minum.
"Kau memang gila, apakah kau menginginkan yang lain, perempuan mungkin, kau hanya mabuk-mabukan tidak jelas, awas ya sampai OD di Club Gue."
"Keluar sana, berisik." Bentak Gerald. Rupanya dia seharian di kamar Club tempat temannya, sedangkan Firman sendiri juga berada di kamar itu, hanya saja Firman tidak minum dan hanya diam tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, memperhatikan, mengawasi, dan menjaga Bos nya.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Affair [END]
RomanceAntonio Geraldi, Pria beristri yang sangat tekun bekerja dan sangat mencintai istrinya. Memiliki keluarga harmonis meskipun belum mempunyai anak. Itulah yang orang lain lihat dari dirinya. Tapi kenyataannya sangat bertolak belakang. Gerald itulah pa...
![Love Affair [END]](https://img.wattpad.com/cover/209401042-64-k73831.jpg)