"Kenapa Alex suka berantem?"
"Siapa bilang aku suka berantem? Aku tuh sukanya sama kamu."
Dunia balapan dan tawuran sudah mendarah daging dalam diri Alexander. Begitu berbeda dengan gadis mungilnya, Kyra Queensha yang polos dan punya hobi membaca n...
"Suka atau gak suka dia harus terima. Gue gak bisa biarin orang yang sakitin Kyra lepas gitu aja." balas Alex penuh kebencian.
Ia hampir kehilangan Kyranya, dan melihat sendiri bagaimana gadis itu tidak sedarkan diri berlumuran darah di tangannya. Pikiran itu masih terbayang di otaknya.
"Yaudah. Asal jangan melebihi batas sampai mati. Lo harus mikir siapapun orang itu masih punya keluarga." nasihat Vivi.
"Gue tau."
Setelah itu, mereka kembali diam. Tenggelam dalam fikiran masing masing. Perusahaan orang tua Kyra sudah kembali stabil setelah Alex yang mengurusnya. Bahkan data menunjukkan bahawa perusahaan itu semakin melonjak naik apalagi Alex menggabungkannya dengan perusahaan milik papanya.
Pusing? Lelah? Itu sudah semestinya, walaubagaimanapun Alex itu masih manusia, jadi wajar merasakan lelah. Tapi ia tidak perlu khawatir karna semuanya sudah kembali stabil seperti biasa, sekarang ia hanya perlu fokus ke Kyra agar gadis itu tidak merasa kesunyian atau lebih parahnya depresi.
-
1 minggu kemudian.
Kyra dibenarkan pulang ke rumah, tapi batas pergerakannya masih harus dijaga dan diawasi. Gak boleh melakukan pergerakan yang ekstrim.
"Pokoknya kamu gak boleh banyak gerak. Mau minum mau makan mau kemana mana harus bilangin ke aku dulu. Lagi satu kamu gak boleh stress dan banyak fikir. Jaga fisik itu wajar tapi jaga mental itu juga penting. Ngerti?"
Kyra tersenyum dan menangguk.
"Yaampun si Alex, baru tau gue bisa cerewet kayak gitu."
Alex hanya mengabaikan ucapan Devano dan kembali menyuapi Kyra bubur jagung buatan Vivi.
"Em... a-aku mau liat m-makam papa mama." ujar Kyra.
Alex tersenyum lembut sembari mengusap rambut Kyra. "Setelah kamu sembuh."