Mata Kuliah Umum

3.2K 364 13
                                        

Bismillah..

"Assallammuallaikum."

Ucapan salam itu membuat semua orang jadi menoleh ke arah pintu kelas. Sagara berdiri di sana, dengan wajah kikuk.

"Assallammuallaikum," ulangnya membuat seisi kelas yang didominasi cewek jadi mengedip kompak dan segera menjawab salam.

"Waallaikumusallam."

Fani sendiri juga ada di kelas itu. Duduk sendirian di pojok kelas karena Sabina berada di kelas mata kuliah umum pendidikan pancasila yang berbeda dengannya. Sebenarnya ada beberapa anak jurusannya yang ada di kelas itu tapi mereka memilih duduk berkelompok di bagian lain.

Yah ... meski waktu belajar Fani selalu dikerubungi teman-temannya, namun di luar kelas, teman-teman sejurusan Fani tak pernah mau bersikap akrab dengannya. Fani berfikir, mungkin karena obrolannya tidak nyambung dengan Fani jadi mereka tak menjadikannya teman akrab. Padahal sudah pasti alasannya bukan karena itu.

Tau sebutan untuk teman yang hanya datang saat butuh saja tapi kalau sudah gak butuh meninggalkan kita? Nah itulah sebutan untuk teman-teman jurusan Fani.

"Hai, Fani kan?"

Fani yang sedang membaca komik jadi mendelik. Sagara entah sejak kapan berjalan mendekat ke arahnya.

"Gue boleh duduk di sebelah lo?" tanya Sagara membuat cewek-cewek yang sengaja mengosongkan kursi di sebelahnya agar bisa duduk bersebelahan dengan cowok itu jadi kompak menatap gadis itu tajam.

Tapi Fani tak peduli, jadi ia memilih untuk mengangguk. Toh Sagara yang meminta duduk di sebelahnya, bukan Fani yang menyuruh.

"Hehe, makasih," kata Sagara lalu menaruh tas di atas meja dan duduk di sebelah gadis itu.

Fani kembali membaca komik, berusaha mengabaikan Sagara yang duduk bertopang dagu sambil menatap ke arahnya. Daripada merasa kepedean sendiri, akhirnya Fani memutuskan untuk melirik cowok itu.

Dan benar! Pemuda itu memang sedang menatapnya tak berkedip.

"Ada apa?" tanya Fani langsung. Sagara mengerjap.

"Eh maaf, gue jadi keterusan mandangin elo," kata Sagara sangat jujur. Fani berdehem.

APASIH.

"Mau baca komik juga?" tanya Fani menawarkan karena yakin alasan Sagara memperhatikannya karena komik Naruto yang ada di tangannya.
Terbukti wajah Sagara langsung berbinar membuat Fani jadi tersenyum geli.

"Gue bawa beberapa sih," kata Fani lalu mulai mengeluarkan beberapa komiknya dari dalam tas. Sagara sampai terkagum-kagum dengan semua koleksi gadis itu.

"Weh keren, gue belum pernah baca komik volume yang ini," kata Sagara sambil menunjuk salah satu komik Naruto milik Fani.

Fani membulatkan mulut.

"Pinjam aja, gak apa-apa," kata Fani santai. Sagara bertepuk tangan kegirangan.

"Makasih banyak Fan, tapi kok lo bawa komik banyak banget sih ke kampus? Gak ada teman ngobrol ya? Hahahaha," ledek Sagara namun mampu membuat senyum Fani jadi memudar.

Sagara yang tertawa jadi langsung terdiam. Padahal ia bermaksud bercanda, tapi ternyata alasan Fani membawa banyak komik memang karena itu.

Sagara jadi merasa bersalah. Yah, cowok itu mana menyangka, Fani kan di kelas lumayan populer, selalu dikerubungi teman-teman sejurusan mereka. Namun ternyata di luar kelas jurusan sikap mereka begini ya pada Fani?

"Ehm."

Sagara berdehem membuat Fani yang sudah kembali membaca komik jadi meliriknya.

"Besok-besok kalau lo lagi sendirian gue boleh duduk di sebelah lo lagi?" tanya Sagara hati-hati namun berhasil membuat bola mata Fani melebar begitu saja.

"Bo, boleh," jawab Fani akhirnya setelah ada hening yang menjeda di antara adegan saling tatap mereka.

Sagara tersenyum lebar mendengar itu.

"Sebagai gantinya lo bawain gue komik ya," kata Sagara. Fani mendecih.

"Bukannya yang nawarin diri untuk duduk di sebelah gue itu lo sendiri? Kok pakai balas jasa begitu?" tanya Fani lalu merengut.

Sagara mendelik, kaget karena gadis itu marah.

"Gue bercandaaa Fan. Gak ada komik pun, asal lo sendirian pasti gue temenin," kata Sagara dengan ekspresi bersalah. Fani tertawa lebar.

"Iya iya, gue juga gak serius marahnya."

"Ya ampun, bikin khawatir aja," kata Sagara lalu menghela napas lega.

Setelah itu dosen mereka masuk. Fani dan Sagara menghentikan kegiatan baca komik mereka dan fokus memperhatikan dosen menjelaskan pelajaran.


 Fani dan Sagara menghentikan kegiatan baca komik mereka dan fokus memperhatikan dosen menjelaskan pelajaran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Gara-Gara Sagara [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang