Bismillah...
Tiga bulan setelah menikah, Fani merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia jadi sering mual dan cepat kelelahan. Padahal biasanya mengangkat galon, mengganti gas, maupun membawa karung beras bisa Fani lakukan sendiri, tapi sekarang hanya untuk membuka botol air mineral saja Fani harus memanggil Sagara.
Sagara yang merasakan perubahan itu malah menjadi senang. Ia merasa dibutuhkan oleh Fani yang biasanya selalu mandiri.
"Muntah lagi?" tanya Sagara suatu malam saat melihat Fani keluar dari dalam toilet sambil mengelus perut. Fani mengangguk lemas.
"Iya, apa jangan-jangan karena tadi siang aku telat makan ya Mas?" lirih Fani lalu duduk di sebelah Sagara yang tengah bermain hape di atas tempat tidur.
Sagara bergumam lalu menaruh hapenya ke samping bantal. Matanya menatap Fani lekat. Fani yang sedang menyandar ke bahu Sagara jadi menoleh ke arahnya, merasa bingung melihat ekspresi serius Sagara.
"Kenapa?" tanya Fani. Sagara menelan ludah. Agak ragu mengutarakan isi pikirannya.
"Kalau dilihat dari tanda-tandanya apa jangan-jangan kamu udah ..."
Fani mengangkat alis. "Apa?"
"Hamil?" sambung Sagara pelan.
Fani langsung tertawa lebar mendengar itu membuat Sagara yang menatapnya serius jadi kaget.
"Ish, ngaco ah, mana mungkin," kata Fani sambil mengibaskan tangan, "Alesha aja baru seminggu yang lalu bilang kalau dia hamil, masa kita yang baru nikah tiga bulan udah nyusul aja," sambungnya.
Sagara bergumam.
"Yah bisa aja kan, urutan menikah kan gak bisa dijadikan patokan, coba besok kita periksa ke rumah sakit," usul Sagara. Fani terdian sejenak lalu menggeleng.
"Enggak-enggak, aku kayaknya coba periksa pakai test pack aja, kalau misalnya udah ke rumah sakit trus hasilnya negatif, aku gak kebayang kecewanya kayak gimana," ucap Fani sambil memasang wajah keberatan.
Sagara menghela napas lalu mengangguk.
"Ya udah, kalau gitu," putus Sagara.
Besoknya Fani membeli test pack bersama Sagara. Keduanya jadi harap-harap cemas setelah pulang dari apotek. Sagara bahkan pura-pura tidak terlalu berharap dengan memfokuskan diri mengerjakan tugas kantornya yang harus dikerjakan karena hari ini ia bolos kerja. Sedangkan Fani masuk ke toilet dengan berdebar-debar.
Namun setelah dua puluh menit di toilet, Fani tidak kunjung keluar dari sana. Sagara bahkan sampai tak fokus mengerjakan tugas kantornya. Pemuda itu lalu berjalan mendekat ke toilet dan mengetuk pelan.
"Fan ... Fani .... kamu bisa pake nya kan?" tanya Sagara yang berpositif thinking jika Fani lama keluar karena kebingungan dengan cara pakai alat itu.
Namun tidak ada jawaban.
"Fani?"
Sagara mulai mengetuk keras. Membuat Fani yang ada di dalam toilet jadi tersentak.
"Iya, iya Mas, sebentar," ucap Fani lalu membuka pintu toilet.
Sagara menundukkan wajah. Menatap Fani yang keluar dari toilet dengan mata merah sehabis menangis. Menyadari apa yang terjadi, Sagara otomatis memeluk Fani dan mengelus punggungnya lembut.
"Gak apa-apa, kita masih punya banyak waktu, jangan terlalu dipikirkan ya," lirih Sagara lembut. Fani membalas pelukan Sagara dengan erat. Air matanya sudah kembali mengalir deras sampai membasahi bagian depan kaos putih Sagara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gara-Gara Sagara [SELESAI]
Romance"Kita kan sama-sama suka, masa statusnya masih yang lama?" .... Sagara itu cakep, pintar dan lucu. Tapi polos banget! Bikin para cewek jadi makin gemas sama tingkahnya. Suatu hari, Sagara bertemu dengan Fani. Gadis ambis yang (kata orang-orang) e...
![Gara-Gara Sagara [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/225608708-64-k868392.jpg)