Gara atau Gaara?

1.9K 281 33
                                        

Bismillah..

"HAH? DIJODOHIN?" tanya Fani setengah berteriak. Membuat beberapa orang yang hendak masuk ke minimarket jadi tersentak dan menoleh kaget ke arahnya.

Fani membasahi bibir, mencoba menetralisir jantungnya yang sudah berdebar parah. "Lo serius?" tanya gadis itu sudah menurunkan suara.

Sagara berdehem gugup lalu mengangguk kecil. "Iya."

Fani mendesah pelan. Jadi menyandar ke sandaran kursi plastik. Tatapannya tertancap pada Sagara yang sudah menunduk dalam. Entah karena malu atau merasa sedih. Tapi Fani rasa karena sedih, soalnya Sagara kan sudah ada gebetan.

Gadis itu menarik napas sejenak. Menoleh ke arah lain. Jujur hatinya bahagia sekali mendengar berita perjodohan ini. Itu berarti orang tua Sagara sudah merestuinya, begitu juga sebaliknya.

Tapi saat mengingat Sagara sudah memiliki seseorang yang disukai, mendadak perasaan bahagia itu lenyap seketika. Fani menggeleng, ia tidak mau memaksa seseorang yang tidak mencintainya untuk hidup bersamanya.

"Ya udah, batalin aja," putus Fani pelan. Membuat Sagara yang menunduk karena malu jadi mengangkat wajah kaget.

"Ha?"

Fani menggit bagian bawah bibir. Lalu menundukkan kepala sambil memainkan jarinya di atas meja.

"Gue tau kok lo udah ada cewek lain, jadi lo gak perlu memaksakan diri lo untuk menerima perjodohan ini," kata Fani.

Sagara melebarkan mata. Benar-benar tidak paham Fani mendapat kesimpulan itu dari mana.

"Lo ngomong apa sih?" tanya Sagara heran.

Fani menarik napas.

"Waktu acara lamaran Alesha lo bilang ke gue kalau lo udah ada calon, lo gak ingat?" tanya Fani dengan sebelah alis terangkat. Sagara terdiam lalu mengerinyit.

"Emang gue bilang gitu?" tanya Sagara polos.

Fani mendecak. Ingin mencubit Sagara keras-keras karena gemas. Padahal Fani setiap hari mengingat kalimat itu dengan frustasi, tapi Sagara malah lupa dengan pernyataannya sendiri.

Sagara bergumam, berfikir sejenak.

"Satu-satunya hal yang gue ingat dari percakapan kita hari itu cuma soal semangka dan nanas, ah iya satu lagi, waktu lo nangis trus lo bilang benci sama gue, lo kenapa sih?" tanya Sagara tak tau diri.

YA KARENA UCAPAN LO ITU! Fani ingin berteriak seperti itu karena sudah gregetan melihat tingkah Sagara. Walau kenyataannya gadis itu hanya bisa mengurut dada dengan sabar.

"Ah udahlah, gak usah dibahas, jadi intinya lo ada calon apa enggak?" tanya Fani santai walau dalam hati sudah harap-harap cemas.

Sagara terdiam sejenak. Memandangi Fani yang melipat tangan di depan dada dengan tampang jutek. Sagara berdehem lalu mengusap tengkuknya gugup. "Ya ada sih," katanya malu.

Fani yang awalnya sudah merasa terbang diberi harapan karena Sagara bilang ia lupa dengan calonnya, jadi kembali terjerembab ke atas tanah.

EH GIMANA SIH? FANI BOLEH MENYIKSA SAGARA GAK SEKARANG?

"Ya maksud gue, calon gue itu lo," ceplos Sagara.

Fani yang awalnya ingin mengomel karena Sagara berbicara berputar-putar jadi terdiam kaget karena tiba-tiba cowok itu menembak begitu saja.

Aaa?

SEBENTAR, INI FANI RASANYA MAU OLENG. ADA YANG MAU PEGANGIN?

"Ma ... maksud lo?" tanya Fani, suaranya jadi terdengar aneh saking gugupnya. Sagara bergumam.

Gara-Gara Sagara [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang