Bismillah...
"Jadi kedatangan saya kemari adalah untuk membatalkan pertunangan Sagara dan anak saya Fani," tegas Frans.
Fani yang duduk di sebelahnya merunduk dalam, lalu dengan tangan bergetar melepas cincin tunangannya dengan Sagara membuat Papa dan Mama Sagara terkejut.
"Tunggu dulu ... tunggu dulu Pak Frans, kenapa tiba-tiba begini?" tanya Diego panik.
Frans menegaskan rahang. Menatap Diego yang sudah pias dengan tajam.
"Kemarin Sagara datang ke rumah, dia menjelaskan semuanya, Sagara bilang acara pernikahannya diundur karena Pak Diego ingin mengadakan resepsi anak pertama keluarga ini," ujar Frans.
Diego menelan ludah, lalu memaksakan seulas senyum.
"Maaf Pak Frans, saya dan istri sebenarnya akan menjelaskan secara langsung kepada Pak Frans soal pengunduran pesta itu, mungkin Sagara menyampaikannya dengan salah, saya mengundurkan tanggal pernikahan Sagara dan Fani punya alasan juga, di adat keluarga kami laki-laki tidak boleh menikah duluan dari kakaknya," jelas Diego menjelaskan dengan ekspresi seramah mungkin.
Tapi Frans tidak terpengaruh ia menggeleng.
"Sagara menjelaskannya dengan sangat santun kemarin, dia mencari kata-kata yang sangat pas dan hati-hati, anak itu bahkan sampai menangis di depan saya karena merasa bersalah, jujur saja cara penyampaiannya lebih baik dari Pak Diego yang terlihat tidak menyesal sama sekali," kata Frans sinis membuat Diego segera mengatupkan mulut.
"Saya tau permasalahannya bukan hanya itu, karena kalau masalahnya hanya ada di urutan menikah, kita bisa melakukan pernikahan serentak hari itu," lanjut Frans.
"Tapi Pak Diego tidak mau karena gengsi kan?" sindir Frans.
Diego sudah kalah. Wajahnya berubah pucat. Di sampingnya Sarah, istrinya, hanya bisa merunduk dalam.
Diego menghembuskan napas.
"Tapi apa Pak Frans tega dengan Fani dan Sagara, mereka saling mencintai, jadi saya rasa ini masih bisa kita diskusikan dulu sebelum benar-benar dibatalkan," ujar Diego.
Frans tersenyum miring.
"Sekedar informasi, bukan saya yang meminta Fani membatalkan pertunangannya, tapi Fani sendiri," kata Frans.
Mata Diego membulat. Menoleh ke arah Fani yang balas menatapnya tegas.
"Lho? Tapi kenapa? Bukannya Fani kepada Sagara ...." Diego tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.
Frans menghela napas.
"Pak Diego, mungkin Pak Diego merasa keluarga kami akan diam saja dan menurut dengan keputusan keluarga Pak Diego, selama ini kami terlihat baik dan lembut bukan karena lemah tapi karena mengelakkan masalah," jelas Frans.
"Sebelum Sagara datang Fani berencana melanjutkan studi S2 nya di luar negri, itu merupakan cita-citanya dari kecil, tapi karena rasa cintanya pada Sagara membuatnya mengalah dan mau menerima lamaran anak Pak Diego," sambung Frans. Diego tercengang di depannya.
"Jadi kalau Fani yang sudah mengorbankan cita-citanya demi Sagara malah diperlakukan seperti ini, maaf saja, Fani punya mimpi lain yang mau ia kejar," lirih Frans.
Frans tidak mengarang soal itu. Fani memang berencana studi S2 di luar negri setelah lulus S1 di Indonesia. Gadis itu bahkan sudah menempel peta dunia di kamarnya, membulatkan negara-negara yang akan ia kunjungi setelah wisuda. Masih ingat kan jika sejak awal Fani itu punya ambisi yang besar?
Namun saat Sagara datang, Fani menjadi ragu dengan cita-citanya. Semua waktunya yang awalnya Fani dedikasikan untuk meraih cita-cita beralih ke pada pemuda itu. Dunia Fani mendadak berpusat pada Sagara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gara-Gara Sagara [SELESAI]
Romansa"Kita kan sama-sama suka, masa statusnya masih yang lama?" .... Sagara itu cakep, pintar dan lucu. Tapi polos banget! Bikin para cewek jadi makin gemas sama tingkahnya. Suatu hari, Sagara bertemu dengan Fani. Gadis ambis yang (kata orang-orang) e...
![Gara-Gara Sagara [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/225608708-64-k868392.jpg)