Ceklek..pintu terbuka menampilkan sosok max yang risau.
"Naraa...kamu gak papa?nara kamu gak coba buat bunuh diri kan?ada yang luka gak?naraa kamu harus nikah sama aku!"ucap max sembari memutar mutar tubuh nara seperti ingin memeriksa keadaan nara.
"Ishhh...apa ai maneh..ehhh gelo"ucap nara sembari menepis tangan max yang memengangi tangannya.
"Ckck..sialan kelepasan toxic gue" batin nara.
"Ih raa,aku bakal lakuin apapun asal kamu mau nikah sama aku!"ucap max kembali memegang tangan nara dan lagi lagi nara menghempas tangan max sambil melenggang pergi memasuki apartement itu.
Nara kembali duduk di hadapan pak johan.
"Adalagi pak?" Tanya nara.
"Gak ada bu,paling selebihnya bisa ibu lihat sendiri di surat yang bapa tulis."
"Oh oke oke"
"Kalo gitu saya pamit dulu bu.." pamit pak johan.
pak johan meninggalkan kediaman nara dan fajar yang saat ini hanya tinggal di diami oleh nara saja. Kepergian pak johan membuat suasana antara max dan nara menjadi canggung. Namun lagi lagi max memulai obrolan yang tak seharusnya ia ucapkan pada kondisi nara saat ini.
"Raa..biarin aku nikahin kamu...biarin aku jagain kamu..itu bukan cuma semata mata aku mau jagain kamu karna fajar minta aku jagain kamu tapi aku juga dari awal liat kamu aku tertarik." Ucap max sambil menatap tajam nara.
"Gini ya,lo gila apa gimana?suami gue pergi baru aja seminggu..terus lo ngajak nikah?apa kata orang woi?dan lagi pede amat lo..emang gue mau gitu nikah sama lo?" Ucap nara dengan mata sinisnya.
"Aku tau..aku tau aku salah ra..aku emang berperan besar di kecelakaan itu tapi itu kecelakaan..aku udah berusaha semampu aku buat nyelamatin kalian semua..ini juga kecelakaan pesawat yang paling tak parah...aku tau aku terlalu gegabah ngambil keputusan mau nikahin kamu..aku bakal nunggu sebulan atau setahun atau sepuluh tahun sampe kamu mau nikah sama aku"ucapnya sedu.
"Halah bacot.."ucap nara.bukan apa apa,nara hanya terlalu sedih dengan kepergian suaminya hingga ia menjadi toxic.
"Aku serius raa ih.." ucap max
"Lo pikir gua gak serius apa?" Tanya nara sedikit menaikan nada suaranya.
Tring...tring...
Telepon max berbunyi membuat max yang akan menjawab pertanyaan nara,mengurungkan niatnya itu.
"Iya halo yan?"
"Max lo disuruh kesini sekarang..lo udah ada penjadwalan buat terbang lagi"
"Gak bisa nanti aja?" Tanya max
"Anjir gak bisa lah..lo gila ya?lo udah di suruh di rumah selama seminggu dan dapet beberapa hukuman..terus maskapai kita dengan baiknya mau buat lo dapet jam terbang lagi,dan lo mau nolak itu?"
"Iya iya,gak udah ngegas kali ryan!"ucap max setengah kesal.
Max mengakhiri panggilan itu.
"Maaf,kita lanjutin pembicaraan ini nanti..aku harus ke pusat buat minta izin terbang lagi sama penjadwalan ulang" ucap max sembari mengelus kepala nara sebelum dia pergi meninggalkan apartement itu.
Ceklik suara pintu tertutup membuat nara langsung merebahkan dirinya di sofa dengan kasar. Nara memperhatikan kunci yang sedari tadi di pegangnya kemudian nara melirik jam yang bertengker di tangannya. Waktu menunjukan pukul enam sore membuat nara menghembuskan nafasnya kasar.
"Tunggu magrib dulu deh" ucapnya.
Setelah menunaikan shalat magrib,nara bergegas pergi kesuatu tempat yang ingin di kunjunginya sejak tadi sore.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Night Sky
Teen Fictioncinta tak terbalas itulah yang selalu nara alami,sedih satu kata yang selalu dirasakannya setiap mendengar orang yang di sukai nya tak bisa bersama dengannya.kehilangan,beberapa kali dia merasakanya.namun bersyukur selalu dia lakukan kepada tuhannya...
