Perayaan perpisahan sekolah berlangsung di hotel ternama. Murid SMA Tarumanegara memasuki ballroom hotel dengan dress dan jas kebanggaan mereka. Malam ini mereka semua tampil begitu berbeda seperti biasanya. Sorotan lampu menyinari seisi ruangan dengan cerah. Deretan kursi berjejer rapi untuk para tamu undangan, seperti dari dinas pendidikan, penyumbang donasi, artis, serta orang tua murid kelas XII.
Meja-meja berisikan makanan paling diserbu dan dihampiri oleh semua orang. Tak mau ketinggalan, mereka bahkan hendak ingin membungkus dan membawanya pulang.
High heels berwarna hitam berjalan secara perlahan dari pintu masuk. Suara entakkannya tergusur oleh suara musik pengiring di panggung. Dress berwarna coklat susu bergaya cut style itu nampak menawan dan berkilau karena taburan mutiara.
"Lanita!"
Panggilan itu datang dari Daisy. Sosok perempuan yang memakai pakaian adat itu menghampirinya. "Iih, cantik banget. Tahu gitu gue pilih jadi tamu undangan daripada penari."
"Nggak boleh gitu. Kita kan harus bantu acara kelas XII."
"Gue bantu nari. Lo bantu apa?"
"Doa." Senyum jail Lanita muncul.
Daisy terkekeh. "Yee, lo makan dulu gih. Gue mau briefing sama yang lain. Dah!" Daisy tidak memakai alas kaki. Gadis itu sudah berlarian dengan berbagai pernak-pernik di kepala dan bajunya.
Lanita menatap sekitar. Ia mencari keberadaan Syahdan, Tora, dan Sandi yang katanya akan datang sebagai tamu undangan sekaligus mewakili anak donatur. Namun, sepertinya mereka bertiga belum hadir. Wajar, karena acara juga akan dilaksanakan sekitar 15 menit lagi. Waktunya pasti ngaret dari jadwal.
Sebuah layar besar menampilkan berbagai macam foto siswa-siswi, mulai dari foto formal hingga abnormal. Ada yang difoto saat tidur, saat tengah mengerjakan soal di papan, tengah bermain bola, dan masih banyak lagi. Hingga terdapat foto yang membuat mata Lanita nyaris terjun bebas.
Semua siswi berteriak histeris kala foto Rama saat ulang tahun di hotel terpampang di layar. Foto tersebut berisi Rama yang dikelilingi oleh banyak perempuan tengah memegang kue.
Teriakan histeris justru berganti menjadi tangisan. Mereka kembali mengenang Rama, sosok ketua OSIS idaman mereka yang tiba-tiba menghilang. Rama tak hanya menghilang, tapi mampu membawa pergi semua kenangan dan perasaan perempuan di SMA Tarumanegara. Termasuk Lanita. Foto tersebut memperlihatkan tangan Rama yang merangkulnya dengan kepala yang menoleh padanya sembari tersenyum.
Kedua kaki Lanita perlahan mundur. Hatinya tiba-tiba remuk. Napas di ruangan ini berubah sedikit hingga menyesakkan dada. Lanita berlari keluar ruangan.
***
Koridor hotel tengah dilalui oleh seorang lelaki berjas biru dongker. Sepatu pantofelnya melangkah gagah di karpet merah. Sinar lampu yang minim memperlihatkan garis wajahnya yang terpahat rapi. Jam rolex di pergelangan kanan tampak mengkilap dan mewah.
Keberadaan orang tersebut muncul bukan dari lobi utama. Dia bukanlah seorang tamu yang diundang hari ini. Seharusnya dia tidak ada.
Dari ujung koridor, sosok perempuan berlari kencang sembari menundukkan kepala, tanpa melihat jalan dan sekitarnya. Lanita masih tidak nyaman jika membahas sosok Rama. Setelah hilang setahun tanpa kabar Rama sampai saat ini juga masih belum diketahui keberadaannya. Bahkan sekelas Tora yang punya akses ke intel pun tak dapat menemukan jejak Rama. Sandi bahkan sampai menyewa orang untuk mencari Rama, namun selalu gagal. Sedangkan Syahdan bekerja dari balik layar, yaitu dengan doa jalur langitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEFORE
Genç KurguRAMALAN => BEFORE SMA Tarumanegara mendadak digemparkan jeritan histeris! Bagaimana tidak? Sosok Darama Pangeran Haidi yang gantengnya nggak manusiawi itu tiba-tiba dicap oleh Lanita sebagai 'pacar'. Gadis yang dikenal gila itu membuat grup SNSD...
