Tak perlu terlalu terang
Hanya cukup ada dan tak kunjung padam
•••
Tok tok
“Iya sebentar”
Pintu utama kediaman Ava pun terbuka setelah mendengar adanya suara ketokan dari luar rumah. Terdapatlah Yofan disana yang sedang membelakangi pintu.
“Eh Yofan, ada apa kesini?” tanya Mama Ava setelah melihat kehadiran Yofan di rumahnya. Yofan yang mendengar suara Mama Ava lantas Yofa membalikkan badannya dan menghampiri beliau.
“Ava nya ada tan? Saya telpon ga diangkat soalnya.” Tanyanya langsung to teh point.
Ya beberapa hari setelah terakhir kali ia mengunjungi rumah Ava untuk meminta bantuan, Ava bak sedang menghindarinya. Ia hubungi beberapa kali tetap tidak diangkat oleh Ava. Ia merasa Ava harus segera membantunya, tetapi Ava malah menghilang tiba-tiba.
“Oh, Ava lagi ga di rumah. Dia sama teman-temannya sekarang lagi liburan ke China, kemarin baru berangkat.” Jawab Mama Ava seadanya. Yofan menghela nafasnya setelah mengetahui bahwa Ava sedang ke luar negeri.
“Kira-kira kapan ya tan Ava pulang?” tanyanya lagi.
“Nah kalau itu tante ga tahu.” Kali ini Mama Ava mencoba berbohong, yang ia tahu kalau Ava akan pulang lusa. Ia hanya tak mau saja Yofan bertemu dengan Ava untuk sekarang. Biarkan Ava menenangkan pikirannya tedahulu sebelum Ava bertemu dengan Yofan, mungkin.
“Emangnya ada perlu apa sama Ava, penting?” Mama Ava berusaha mencari tahu maksud kedatangan Yofan kali ini. Apakah tujuannya masih sama seperti terakhir kali atau tidak.
“Aa- anu tan, ga ada sih cuma mau main aja.” Ujarnya menutupi kegugupannya. Jelas ia tak akan memberi tahu maksudnya datang tujuan meminta bantuan Ava mengenai Lian.
“Ya sudah saya langsung pamit aja tan, permisi.” Lanjutnya dan menyalami tangan Mama Ava setelah berpamitan dan berlalu pergi dari sana.
***
Diwaktu yang sama tapi di negara yang berbeda, dengan dikelilingi lampu-lampu nan terang dan danau yang juga ikut berkilau terkena pantulan cahaya lampu dan bulan yang malam ini sangat indah. Dengan suara air yang berasal dari danau, air mengalir yang dihasilkan oleh air mancur, berhasil membuat suasana menjadi tenang dan damai. Dan seakan juga berkonspirasi dengan kesunyian disekeliling mereka.
Ava dan Jovin hanya duduk berdua yang dikelilingi oleh kesunyian setelah berakhirnya pelukan dari Jovin. Jovin memilih diam dulu agar Ava bisa menenangkan pikiran dan hatinya setelah lelah menangis dipelukan Jovin.
“Saat malam sebelum kita wisuda, Yofan datang menemuiku.” Suara Ava membuka pembicaraan. Memecahkan keheningan yang sedari tadi bersemayam disekitar mereka.
Ava berusaha untuk mengontrol emosi dalam dirinya yang sangat sensitif bila mengingat kejadian itu, malam yang entah sangat ingin ia lupakan namun tidak bisa. Jovin yang mendengar penuturan Ava sebelumnya hanya diam tanpa mau membuka suara dulu.
“Ia meminta bantuanku, memintaku untuk.........” Ava menjeda perkataannya, menguatkan hati sebelum mengucapkan hal yang sangat menyakitkan untuknya.
“Mengatakan kepada Lian bahwa Yofan mencintainya, bahwa Yofan bisa menjadi lelaki yang Lian inginkan, bahwa Yofan adalah lelaki yang bisa diandalkan, bahwa Yofan...........” Ava kembali mulai terisak setelah rasa sesak itu kembali menghantam keras dadanya.
Spontan Jovin langsung menarik Ava kembali kedekapannya, kepelukan yang akan selalu ada untuk perempuan dipelukannya saat ini. Jovin yang mendengar semua penuturan Ava hanya bisa menggeram marah. Ia bersumpah akan memberi pelajaran kepada lelaki tak punya hati itu, ingatkan ia untuk melakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just be Quiet
Fiksi RemajaLove at first sight?? It sounds a bullshit! Ya emang terdengar omong kosong Tapi itu faktanya Kita berteman 9 tahun sudah dan rasa sialan ini masih ada But..I just kept quiet Kamu tahu kenapa? Cause I prefer to be quiet ____________________________...
