Pergilah dimana kamu menjadi sangat berharga
Kerana disanalah kamu menemukan apa arti bahagia
•••
RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru --- Riau | 23:58 PM
Sama seperti biasanya, keadaan rumah sakit bisa dikatakan normal, tidak ada hal yang terjadi selain aktivitas dokter dan perawat yang follow up pasien, para pasien yang menghirup udara segar di luar rumah sakit untuk menghilangkan kejenuhan di ruang rawat, dan juga para keluarga yang menjenguk kerabat yang sedang di rawat.
Tapi tidak pada malam hari.
Lebih tepatnya tengah malam, karena jelas tidak ada jam besuk untuk malam hari dan pasien pun dilarang untuk berkeliara karena waktu mereka untuk beristirahat. Keadaan malam hari nyaris berbeda dengan keadaan siang hari, yang terjaga hanya para perawat dan dokter serta anak coas yang bertugas.
Namun tidak malam ini,
Sepanjang lorong tergemah suara langkah kaki yang sedikit gaduh—seperti tidak tenang, dan itu tergambar jelas di setiap wajah yang terlihat pucat—khawatir. Dari beberapa orang tersebut terdapat beberapa yang menggunakan jas putih kebanggann dokter dengan stetoskop yang tergantung masing-masing di leher.
Salah satunya langsung menghampiri seorang lelaki yang terduduk lesuh di kursi tunggu ruang UGD, dengan kondisi baju yang nyaris kering setelah sebelumnya basah terguyur lebatnya hujan yang malam ini turun—mewakili keadaan hati seseorang.
Zoya menyentuh pundak dari sang empu, “Jo gimana Ava?”
Jovin
Yaa, lelaki itu adalah Jovin. Orang yang paling kalang kabut setelah berhasil menemukan keberadaan Ava yang sangat menyedihkan dan sangat menyakitkan untuknya. “Dokter belum keluar Zoy.” Jawab Jovin tidak merubah posisi kepalanya yang terus menunduk, layaknya wajah Ava berada di lantai.
Cemas, Zoya khawatir dengan keadaan Ava. Jika bukan karena teman coasnya dengan Ava yang memberi tahukan kalau Ava masuk UGD dengan keadaan yang basah kuyub, mungkin ia tidak akan tahu jika Ava akan dirawat disini. Dan yang membuatnya terkejut ialah keberadaan Jovin disini—di hadapannya.
Kerena beberapa jam yang lalu jelas-jelas Jovin sudah berangkat ke Marseille. Tidak mungkin pesawat bisa berbalik arah—kembali.
Tidak ingin pusing memikirkan teori keberadaan Jovin, Zoya memilih ikut duduk di kursi yang Jovin tempati. Namun belum sempat pantatnya mendarat, Zoya kembali berdiri dan berjalan menghampiri Mama dan Papa Ava yang berjalan kearahnya—ruang UGD lebih tepatnya. “Om Raihan tante Raisa-.”
“Dimana Ava Zoy? Gimana keadaannya?” Zoya menggeleng, “Belum ada kabar tante.” Mama Ava yang mendengar itu menoleh ke Papa Ava, “Pah-.”
Papa Ava mengelus pundak Mama Ava menenangkan, “Papa akan ke dalam.” Ujar Papa Ava yang juga merasa tidak tenang. “Zoya om titip tante.” Sambungnya menatap Zoya dan diangguki oleh Zoya.
Setelahnya Papa Ava langsung berjalan memasuki UGD, memastikan sendiri keadaan putri sematawayangnya.
Jovin yang sedari tadi hanya diam mulai berdiri, “Tante.” Dipanggil, Mama Ava langsung mencari sumber suara. Dan disana Mama Ava melihat keadaan Jovin yang sangat tidak baik, rambut lepek dengan bibir pucat karena kedinginan. Bayangkan saja baju yang tadi basah kemudian sekarang telah menjadi kering di badan, ditambah sejuknya Ac membuat badannya sedikit menggigil.
“Ya ampun nak Jovin kamu pucat.” Pekik Mama Ava—panik.”Engga apa-apa ko-.” Mama Ava menggeleng keras, memotong ucapan Jovin.
“Engga apa-apa dari mananya Jo? Kamu kedinginan, muka kamu pucat” Mama Ava menyeru panik, “Tenang aja ta-.” Bibir Jovin kembali mengatup setelah Mama Ava menatapnya tajam—memarahi layaknya anaknya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just be Quiet
Teen FictionLove at first sight?? It sounds a bullshit! Ya emang terdengar omong kosong Tapi itu faktanya Kita berteman 9 tahun sudah dan rasa sialan ini masih ada But..I just kept quiet Kamu tahu kenapa? Cause I prefer to be quiet ____________________________...
