Part 13

143 6 0
                                        


Haruskah aku bahagia?

•••

“Ava banguuuuun, ayuk kita jalan.”
Tidur Ava yang sangat pulas bak putri tidur yang diracuni oleh penyihir jahat terganggu dengan mudahnya tanpa dibangunkan oleh sang pangeran hati. Pangerannya berubah menjadi sosok perempuan cantik yang sekarang sedang berusaha menarik selimut tebalnya.

Lian, ialah pelaku dari kerusuhan paginya. Ava yang merasa sangat terganggu hanya bisa merengek untuk dibiarkan kembali melanjutkan mimpi indahnya tadi yang sempat terjeda. Ia hanya ingin bergelung di dalam selimutnya untuk hari ini, namun apalah daya, itu hanya rencananya yang tak akan tersampai.

Akhirnya ia mendudukan diri dengan mata yang masih terpejam, rambut acak-acakan dan mulut yang menguap lebar. Lian yang melihat itu langsung menutup mulut Ava dengan roti tawar yang tadi ia bawa dari meja makan rumah ini.

“Liaaaan, aku ngantuk biarin aku tidur lagi yaaa.” Rengeknya meminta peruntungannya.

“Oooopp No. Katanya mau nemanin aku jalan. Kita udah lama ga jalan berdua Avaa.” Tolak Lian mentah-mentah. Mereka sudah sepakat janjian dan akan berangkat satu jam sebelumnya. Tapi lihat, Ava dengan enaknya masih setia dengan kasurnya.

“Cepat bangun, ayolaaah udah janji kan?” pinta Lian menarik berdiri Ava yang masih setengah sadar, dengan berat hati Ava menyambar handuknya dan berjalan ke arah kamar mandinya dengan masih mengunya sisa roti tawar yang tadi diberikan oleh Lian dengan cara yang tidak manusiawi.

Lian yang melihat Ava sudah bergerak dari singgasananya merasa senang. Ia langsung membereskan kasur Ava yang masih beerantakan. Jangan salah, ini sudah biasa ia lakukan, ah ralat mereka lakukan.

Mereka sudah seperti saudara bukan jadi ya mereka akan saling membantu walau hanya sekedar hal kecil.
Setelah membereskan kamar Ava, ia melangkahkan kakinya keluar kamar menuju ruang keluarga yang dimana disana ada kedua orangtua Ava.

“Gimana, Ava udah bangun?”

“Udah kok tan, kalau Lian yang bangunin mah gampang.” Ujarnya terkekeh dan ikut duduk disana.

“Udah lama ya kamu ga main kesini, kemana aja Yan?” Papa Ava yang bertanya kali ini

“Sibuk sama tugas kuliah om, lagian kan Lian juga kemarin lanjut kuliah di Palemang.” Yaap, Lian memang  menempuh pendidikan S1 nya di Palembang, Kota keluarga besarnya berada. Makanya Ava dan Lian jarang ketemu, libur semestelah waktu mereka akan main bersama.

“Gimana kuliah kamu? Udah wisuda?”

“Tiga bulan lagi wisuda kok om.” Balasnya melempar senyum manis ke kedua orangtua Ava.
Obrolan mereka terintrupsi oleh suara kaki beralaskan sepatu saat menurunin undakan-perundakan tangga. Siapa ;agi kalau bukan Ava.

“Pagi Ma, Pa.” Sapanya dan mencium kedua pipi kedua orangtuanya.

“Kita mau kemana Yan?” tanya Ava dan duduk tepat di samping Lian.

“Kemana-mana kita suka.” Timpal Lian

Ava hanya mendengus menerima respon acuh dari Lian. Sebenarnya ia enggan untuk keluar rumah tapi yaa karena sudah terlanjur janji yaa ia mau tak mau harus menepatinya.
Mereka pun akhirnya beranjak dari sofa dan berpamitan dengan Mama dan Papa Ava. Lian menarik Ava menuju mobilnya dan membukakan pintu plus mendorong Ava yang malas memasuki mobilnya. Ia pun ikut memasuki mobilnya dan segera menjalankan kendaraan itu.

“Kita mau kemana sih Yan? Jangan bilang ga ada tujuan kayak kebiasaan kamu.” Ava bertanya dengan malas. Lian hanya senyum tanpa merespon

“Yan serius kita mau kemana?” lagi, sekali lagi Ava bertanya kepada Lian. kali ini Lian menjawabnya.

Just be QuietTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang