BENDA PENTING

3 0 0
                                        

            Waktu berlalu cepat. Tak terasa sudah seminggu sejak perlawanan pertamaku. OSANTUY sudah di depan mata. Aku bahkan belum terlalu matang mempersiapkannya. Waktunya untuk pergi dari pelajaran yang membosankan ke tempat yang baru untuk sementara di luar kota, Yogyakarta.

"Akhirnya untuk sejenak aku bisa bebas dari orang itu. Bebas rasanya terhindar darinya," ujar Sino yang duduk di sebelahku.

"Hah? Siapa maksudmu?" tanyaku penasaran.

"Tentu si pak tua kimia yang menyebalkan itu, Pak Husein. Memang ada lagi yang lebih menyebalkan?" jelas Sino melirikku.

"Hmm, siapa ya?" ucapku tidak tau.

"Jangan pura-pura tidak tau! Aku tau kau juga kesal dengannya. Nilaimu yang tidak diganti itu bahkan kau harus remidi karena belum ulangan. Bukankah itu sedikit tidak adil?" jelas Sino dengan kesal menatapku.

"Hmm, memang kesal. Tetapi mau bagaimana pun, dia tetap guru kita dan aku terpaksa menurut saja. Kalau aku sarankan sih, turuti saja maunya. Ini demi kebaikan nilaimu dan dirimu. Mungkin suatu saat Pak Husein akan mengerti usahamu dan akan mengerti dirimu. Semakin kau benci, apa untungnya? Tidak menguntungkan sama sekali bagiku,"jelasku padanya.

"Itu karena kamu terlalu rasional melihatnya. Bahkan kau yang paling jenius di kelas saja bisa mendapat nilai nol dengan dia," ujar Sino.

"Yah, mau bagaimana lagi. Yang penting itu tidak muncul dalam rapor dan hasilnya tetap saja aman. Itu artinya kau tidak perlu marah padanya selama nilaiku aman," ujarku menaikan bahu.

"Itu karena kamu adalah Einstein di kelas, tidak di sekolah ini! Mau bagaimana pun sekalipun kamu tidak belajar hasilnya akan selalu sama, tuntas," seru Sino kesal.

"Baiklah anak-anak, dengarkan. Sebentar lagi kita akan tiba di rest area tol ini. Kita akan makan siang. Bagi yang ingin pergi ke toilet, membeli sesuatu, dan segala macamnya silahkan. Kita akan beristirahat selama 30 menit," ujar Bu Mary selaku ketua dalam perjalan ini.

Tak lama kemudian, bus kami berhenti di rest area. Aku berpikir kalau menjadi yang terakhir itu lebih baik dari yang petama karena dapat turun dengan tenang. Dari jendela terlihat banyak orang yang pergi ke toilet. Ada pula yang pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu. Setelah bi situ kosong menyisakan aku dan Sino, kami turun dan langsung pergi ke restoran yang dimaksud.

"Rasanya aku pernah melihat arsitektur seperti ini di suatu tempat, " ucapku mengingat sesuatu.

"Tentu saja, aku kan pernah memfoto sesuatu di sini. Cek saja Instagramku," jelas Sino.

Aku teringat kalau Sino memang pernah di sini. Beberapa waktu yang lalu saat dia pergi ke Semarang bersama keluarganya, dia memang singgah di sini dan memotret beberapa gambar. Tiang yang miring menjadi ciri khas tempat ini. Area itu memang gersang karena masih baru. Walaupun banyak tanaman yang baru di tanam, tetapi ukuran mereka masih terlalu kecil untuk menaungi kami dari panasnya matahari.

Waktu berlalu cepat, dan kami harus segera memasuki bus. Kami akhirnya bergerumulan memasuki bus dan memeriksa barang kami. Tak lupa, Bu Mary memeriksa setiap anggota di bus itu agar tidak tertinggal.

Pada kompetisi tahun ini, aku mewakili pelajaran IPA yaitu Matematika. Sino, Andro dan Bu Narti, guru Biologi yang mewakili cabang Karya Tulis Ilmiah. Dewi dan Ritna yang mewakili Bahasa Inggris. Kanako dan Feng yang mewakili cabang komputer. Aldo mewakili cabang IPA yaitu Fisika, Keira yang mewakili cabang Kimia, dan Lainy yang mewakili cabang Biologi. Tak lupa ada Bu Pani yang mewakili cipta media pembelajaran untuk SMA.

Untuk semua cabang IPA, kami harus bersatu sebagai tim dalam kompetisi setelah ujian tulis mandiri. Itupun daftar nama dari SMA yang sama. Aku tidak bisa menyebutkan mereka satu persatu karena masih ada yang dari SD, SMP dan para guru yang aku tidak begitu kenal. Tetapi dalam jangka waktu ini, kami menjadi dekat dan merasa seperti keluarga baru, walaupun ayahku ada di sini juga.

AnemonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang