Kalian pasti pernah berada di fase sedang menyukai seseorang tetapi jelas orang itu enggak bisa dimiliki. sama kayak Brian sekarang, selain dihalangi tembok yang tinggi, Brian sebenarnya sudah berkali-kali ditolak.
Namun tidak apa, tentu Brian tida...
Lelaki itu mendengus. "Kan udah dibilang, Dea ada pacar."
"Masalahnya? Kan baru pacar bukan suami."
"Jadi perebut pacar orang itu gak baik. Gua gak mau dihujat readers wattpad kek Sarah dari Galaksi Kejora."
//tak sengaja promosi lapak orang.
"Kau marahin Dea karena Vanya, emang kau tau penyebab berantemnya apa?"
Nada bicara Widya masih datar, padahal dalam hati ia ingin sekali menelan Brian hidup-hidup.
Lelaki yang ditanyai masih diam membisu, mencoba fokus pada jalanan.
"Aku liat Vanya duluan jambak rambut Dea. Terus Alfi datang bawa Dea pergi."
Motor berhenti, mereka telah sampai di sekolah. Brian menatap Widya menyelidik.
"Lu liat semuanya? Dari awal?"
Si gadis mengangguk, masih memakan permennya.
"Kalo gitu kenapa gak lu cegah mereka supaya gak ribut?"
"Ribet." Ia membuang muka kemudian melompat turun dari motor. "Lagian lebih seru ngeliat orang baku hantam."
Macam tak betul budak ni.
•••
Yoga membawa motor dengan kecepatan penuh, berbelok di tikungan ala Marc Marquez.
Sedikit saran dari author, kalau kalian berada di posisi ini, jangan sekali-kali membuka mulut karena akan berakibat air liur kalian berderai kemana-mana.
Di sepanjang jalan, Dea tak henti-hentinya membaca ayat kursi, memohon perlindungan dari-Nya.
Sampai di sekolah, rambut gadis itu sudah tak karuan. Ingin bunuh orang tapi takut dosa.
Keduanya berjalan memasuki area sekolah.
"De, kilogram kalau disingkat jadi apa?" tanya Yoga.
Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bersama Dea yang jarang ia dapatkan.
"Kg, kenapa, bang?"
"Kalau ditambah n?"
Gadis itu berhenti melangkah dan mengangkat kesepuluh jarinya.