21

3.8K 194 7
                                        

Rafka melempar selimut sembarangan di kamar, wajahnya menunjukan kebingungan dan kepanikan. Sudah sepuluh hari berlalu, tetapi dia tidak menemukan Adinda. Setiap upaya untuk mencarinya di Jakarta berakhir tanpa hasil.

"Sayang, kamu di manaaaa?!" teriak Rafka, suaranya penuh dengan kebingungan dan kekhawatiran.

"Aku tidak tahu harus mencari ke mana lagi, Din. Aku ga tahu," ucapnya lembut, terbenam dalam kepedihan.

Adinda, terkurung dalam keputusasaan, hanya bisa melihat saat Hans duduk di sebelahnya. Dia menawarkan pakaian untuknya, tetapi Adinda menolak mentah-mentah.

"Din, wajahmu kusam dan bajumu kotor. Aku mau kamu ganti bajumu," ujar Hans, nada suara cemas namun penuh paksaan.

"Aku tidak mau, Hans. Aku mau pulang," pintanya, harap dan keputusasaan bercampur aduk.

"TIDAK! AKU TIDAK MAU ADINDA!" teriak Hans, meluapkan amarah.

"Kamu gila, Hans! Kamu memaksaku untuk mencintaimu. Dan itu tidak akan pernah terjadi! Kamu gila!" balas Adinda, menantang dengan suara bergetar.

Hans menatap Adinda dengan tatapan tajam, mendekatinya dengan keinginan yang mengerikan. "Iya. IYA, AKU GILA! DAN AKU GILA KARENA MU ADINDA. AKU MENCINTAIMU, DAN KAMU HARUS MENJADI MILIKKU. KITA AKAN HIDUP BAHAGIA."

"Kita berbeda, Hans. Hiks, Tuhan ku Allah, tempat ibadahku masjid, kitabku Al-Qur’an, dan kamu? Tidak sama sepertiku. Kita tidak akan pernah bersatu, Hans," ucap Adinda, air matanya mengalir, lelah atas segala penderitaan. Pergelangan tangan dan kakinya sangat sakit akibat ikatan yang terlalu ketat.

"Aku tidak peduli! Aku mencintaimu," sahut Hans, menertawakan dengan nada sinis.

"Obsesi?! Aku mencintaimu! Aku tulus mencintaimu. Oke, kamu pilih tanda tangan surat ini atau... aku...," langsung mengancam Hans, membuat Adinda terdiam.

"Jangan, Hans! Ku mohon, jangan lakukan!" seru Adinda, panik. "Kamu tidak mencintaiku. Jika kamu mencintaiku, kamu tidak akan menghancurkan masa depanku. Kamu tidak akan menyakitiku."

Hans terdiam, kata-kata Adinda menggugah sedikit rasionalitas di dalam dirinya. Namun, kekuatannya akan berlanjut.

"Seseorang yang mencintai tidak akan menyakiti orang yang dicintainya. Ia akan menjaga dan membuatnya bahagia. Dengan semua ini, aku semakin yakin kamu tidak mencintaiku, Hans," tegas Adinda.

Dengan keputusasaan, Hans menundukkan kepalanya. Tanpa berkata, ia mengambil pakaiannya dan pergi meninggalkan Adinda sendirian.

🌿🌿🌿

Mobil Akbar berhenti di sebuah warung pinggir jalan dekat pergunungan. Ia merasa lelah, tapi tekad untuk menemukan Adinda masih membara.

"Bu, beli minum satu," pintanya, suara penuh harapan.

"Ini, Kang," katanya sambil menyerahkan air mineral.

Akbar menyeguk airnya, beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pencarian. Ia mengusap ponselnya, memperhatikan gambar Adinda yang menjadi wallpaper. "Din, aku janji akan mencarimu," batin Akbar, penuh keyakinan.

Ia melanjutkan pencarian, memperhatikan kiri dan kanan dengan harapan menemukan Adinda. Tiba-tiba, terdengar teriakan yang membuatnya berhenti.

"Asstagfirullah. Ada apa ini?" tanpanya.

Akbar melihat seorang wanita melangkah gontai menuju mobilnya. Wanita itu terlihat lelah dan bajunya sangat kusam. "Mas... Mas... tolong say..." Dia tidak bisa melanjutkan, tubuhnya terkulai pingsan.

"Dinda..." seru Akbar, segera turun dari mobil dan berlari ke arah Adinda.

"Adinda... Bangun, aku mohon, buka matamu," ratap Akbar, cemas, menggendong Adinda ke rumah sakit.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang