50..💔

5.2K 147 9
                                        

Kandungan Adinda sudah memasuki bulan kedua. Rafka, suaminya yang penyayang, selalu melarangnya untuk beraktivitas berat. Ia sangat khawatir dengan kesehatan calon anak mereka.

"Sayang, kamu tidur ya. Harus banyak istirahat," Rafka berkata lembut, menatap penuh kekhawatiran pada wajah Adinda yang kini sering terlihat lelah.

Adinda terdiam lama, tatapan matanya kosong, seolah pikirannya melayang jauh entah ke mana.

"Sayang, kamu mau apa?" tanya Rafka lagi, berusaha menarik perhatian. Suaranya penuh nada lembut, mencerminkan kepedulian mendalamnya kepada Adinda.

Mendengar panggilan dari Rafka, Adinda akhirnya mengangkat wajah, meski matanya masih terlihat kosong. "Mas, Dinda mau seblak," ucapnya, sambil memberikan senyum tipis yang tidak sepenuhnya mampu menyembunyikan kerinduan dan kecemasannya.

"Seblak? Yasudah, Mas belikan," jawab Rafka sambil bangkit dari duduknya, tetapi tangan Adinda cepat menahan pergerakannya.

"Aku mau Mas yang buat!" Adinda bersikeras, nada suaranya menunjukkan ketulusan keinginan yang sederhana.

"Aku? Yang buat?" Rafka memastikan, tatapannya menunjukkan kebingungan.

"Iya, kamu buat seblak rasa coklat caramel," ujar Adinda, hampir penuh pengharapan.

"Hah?! Rasa coklat caramel? Masak sih?" Rafka terkejut, namun ada senyum di sudut bibirnya, merasakan keanehan permintaan tersebut.

Namun, ketika melihat ekspresi serius Adinda, ia tahu tidak bisa menolak.

Dalam sekejap, bibir Adinda bergetar, dan air matanya mulai menetes. "Huaaaaa!" Tangisnya pecah, membuat Rafka panik.

"Sayang, k-kamu jan-" Ia tidak ingin melihat Adinda terus-terusan menangis, hatinya terasa nyeri.

"Oke. Mas buatkan," ucap Rafka, tanpa ragu-ragu, berusaha menenangkan Adinda dengan janjinya.

Adinda terisak, "Hiks hiks, bener ya? Janji?" tanyanya dengan nada bergetar, matanya berharap.

"Iy... iya. Aku janji," sahut Rafka, berjanji dengan seluruh hati, meskipun dalam pikirannya terbayang bagaimana cara membuat makanan aneh itu.

"Jadi, untuk seblak ini, Mas harus banyak bumbu cabai dan kencur," pinta Adinda, semangatnya mulai muncul kembali. Rafka merasa tertantang, tetapi di dalam hati, ia merasa was-was. "Nanti, gue masak telur ceplok aja suka gosong. Apalagi seblak aneh ini."

---

**- Dapur -**

Di dapur, Rafka berdiri gamang. "Mulai dari mana ya?" batinnya, merenungkan bagaimana cara membuat seblak rasa coklat caramel.

"Mas, Dinda mau coklatnya lumer," terdengar suara Adinda memanggil dari ruang tamu.

"Ya Allah, kalau aja tidak lagi hamil, gue ga bakalan buat kayak ginian," gerutunya dalam hati.

Ia mulai menghaluskan rempah-rempah, berusaha berbagi konsentrasi. "Harusnya ini bisa jadi pengalaman menyenangkan," pikirnya, mencoba membangun motivasi.

Setelah itu, ia mengoseng bumbu yang telah disiapkan dan mencampurkannya dengan potongan coklat. Namun, bau yang tercium menjadi memicu rasa eneg.

"Bau apa ini?" protesnya, sambil menyipitkan mata, mencium aroma campuran yang tidak sedap. "Seblak ceker sama kerupuk deh. Sama siomay juga." Rafka, meretak.

"Ya Allah, Din! Nyidamnya ada-ada saja. Stick kek, martabak kek, bakso kek, holiday kek. Lah ini? Seblak coklat caramel." Dia merasa jengkel, tak habis pikir kenapa permintaan Adinda harus yang aneh seperti ini.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang