"Ayah kecewa padamu, Rafka!" suara Bayu bergema dengan nada menuntut, menjadikan suasana semakin tegang.
"Ayah, Rafka tidak ingin mengecewakan Agnia. Dan Rafka juga tidak ingin Adinda pergi," balas Rafka,
Bayu mengambil napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi yang membakar di hatinya. "Itu namanya egois! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, tanpa memikirkan Adinda! Kamu menyakitinya, Rafka. Bagaimana Andra bisa tahu?" Bayu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya-jantungnya kembali berdegup kencang.
Lidya, yang mengamati suaminya, langsung bergegas mendekat dan menahan Bayu yang mulai terjatuh. "Mas, bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Lidya dengan suara bergetar, mencerminkan ketakutannya.
"Ayah! Biarkan aku bantu-"
"Jangan sentuh suamiku! Jika terjadi hal buruk, itu semua salahmu!" potong Lidya penuh emosi.
"Ibu, Rafka hanya ingin membantu," balas Rafka dengan nada lemah.
"Jangan panggil aku Ibu! Aku bukan ibumu lagi, Rafka!" kata Lidya, suaranya penuh tergetar.
Lidya membawa Bayu ke rumah sakit, sementara Rafka terjatuh di tempatnya. "Maafkan aku, maafkan aku," isaknya penuh penyesalan.
Di tempat lain, Adinda masih terisak, meratapi keputusan yang diambilnya.
Dia mengemudikan mobil milik ayahnya, menuju Jakarta. Bukan untuk bertemu orang tuanya-Adinda tidak mau mereka kecewa dengan pilihan yang diambilnya ini.
"Hallo, Rid. Temui aku di rumah pohon kita!" serunya ketika menemukan keberanian untuk menghubungi sahabat lamanya.
Saat tiba di rumah pohon itu, Adinda tertegun. Tempat yang dibangun bersama Ridho dan Alfa kini terabaikan, tertutup dedaunan. Dia mendekati pohon, membersihkan tangga yang tertutupi ranting dan dedaunan layu.
"Hiks... aku merindukanmu, Ridho. Alfa..." lirihnya, suaranya tenggelam dalam kesedihan.
"Maafkan aku, Alfa. Aku tidak bisa menghukum orang yang telah memisahkan kita."
Dengan penuh rasa nostalgia, Adinda memanjat ke rumah pohon, membersihkan debu dan sampah yang menumpuk. Saat dia duduk di dalam, tangisnya pecah saat melihat foto mereka bertiga yang sudah kotor. Terakhir kali ia mengunjungi rumah pohon itu adalah saat dirinya kelas 3 SMA. Di belakang foto tersebut tertera janji mereka.
"Kita akan selamanya hidup bersama. Selamanya!" tertulis dengan jelas nama mereka: ADRIAl.
Adrial-nama persahabatan mereka, mewakili Adinda, Ridho, dan Alfa.
"Maafkan aku, hiks hiks," ucapnya sambil meluapkan kesedihan yang terpendam.
Ridho, dengan kulit putihnya yang cerah, memperhatikan mobil milik ayah Adinda. Namun, ia tidak melihat sosok Adinda di mana pun.
"Bunda! Bunda di mana?" teriak Ridho, suaranya mengusik keheningan.
Adinda mendengar panggilan itu dan balas teriak, "Rid! Aku di sini!" sembari melambaikan tangan.
Ridho mengangkat kepalanya, melihat Adinda di atas rumah pohon. Senyum cerah mengembang di wajahnya saat dia segera memanjat ke rumah pohon, duduk di samping Adinda.
Melihat Adinda memegang sebuah foto, kenangan bersama Alfa pun kembali menghampiri Ridho. "Kamu merindukan Alfa?" tanyanya, penuh empati.
Adinda mengangguk, air mata kembali menggenang.
"Aku sudah menyelidiki kasus Alfa," Ridho mulai bercerita. "Tapi, aku tidak bisa menemukan apapun karena kasus itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
General Fiction🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
