55.surat undangan

6.5K 142 0
                                        

Sesuai rencana kemarin, terlihat Adinda dan Rafka sedang memilih surat undangan untuk acara resepsi pernikahan mereka setelah kelahiran anak-anak. Di atas meja terhampar berbagai desain undangan.

"Gimana kalau yang ini?" tawar Rafka sambil mengangkat undangan berwarna merah.

Adinda menggeleng kepala. “Nah, Dinda mau yang ini.” Ia menunjuk undangan berwarna gold dan putih yang berkilau di bawah cahaya lampu.

“Ini tidak terlalu simpel?” tanya Rafka, mengingat tema yang diinginkan.

“Tidak. Dinda mau yang ini! Lebih elegan!” balas Adinda dengan tegas.

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pada pintu. “Siapa yang datang?” tanya Rafka, sambil penasaran.

“Mana Dinda tahu, lihat saja sama mas,” jawab Adinda sambil mengangkat bahunya.

Rafka berdiri dari duduknya dan membuka pintu. Ternyata yang datang adalah keluarganya.

“Assalamualaikum!” sapa Delvia, ibunya Rafka.

“Waalaikumsalam! Ayo masuk, Bu, Ayah,” seru Rafka, menyambut mereka dengan hangat.

Delvia melihat Adinda yang sedang duduk di sofa dengan perut besar dan segera menghampirinya. “Ya Allah, cucuku! Oma sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu, nak!” kata Delvia, wajahnya berseri-seri.

Adinda tersenyum lebar, bahagia melihat perhatian orang tua Rafka.

“Din, kamu sudah tahu jenis kelaminnya?” tanya Lidya, mertuanya yang ikut hadir, sambil tersenyum.

“Anak-anak Dinda, sepasang. Kembar cowok dan cewek,” jawab Adinda bangga, matanya berbinar.

“Masya Allah! Kamu harus jaga cucu bunda ya,” pinta Delvia dengan penuh kasih sayang.

“Pasti, Bu. Dinda akan jaga anak-anak Dinda,” jawab Adinda dengan mantap.

“Kalau begitu, kami akan menginap di sini selama kamu hamil,” ujar Andra, ayah Rafka.

“Iya, Raf. Kami akan menjaga sampai cucu-cucu kami lahir. Tapi kenapa kamu tidak syukuran?” tanya Lidya.

“Tidak usah, Bu. Aku yakin anakku baik-baik saja, dan Allah pun menjaga anak-anakku. Aku juga yakin mereka akan menjadi anak sholeh dan sholelah,” jawab Adinda dengan percaya diri.

Rafka mengusap kepala Adinda dan mencium keningnya lembut. “Kamu sudah cek ke dokter?” tanya Delvia cemas.

“Alhamdulillah, baby Dinda sehat,” jawab Adinda, sedikit terbata-bata karena bahagia.

“Oh iya! Kami juga akan mengadakan resepsi setelah Dinda melahirkan,” ujar Rafka penuh semangat.

“Iya, Ayah setuju, nak,” sambut Andra.

Setelah tamu pulang, Rafka dan Adinda kini berada di kamar mereka. Adinda memeluk Rafka, merasa nyaman dalam pelukan suaminya. “Mas, Dinda sayang dan cinta sama mas,” ucap Adinda tulus.

“Aku juga, Din. Mungkin cintaku lebih besar,” balas Rafka dengan mata berbinar.

“Mas tahu aja yang aku inginkan?” tanya Adinda curiously.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang