"Ini kan? Mobil mbak Agnia," ucap Adinda pelan, merasa hatinya bergetar.
"Kenapa ada di sini?" Jeda tiga detik.
Adinda langsung masuk ke dalam rumahnya, ia tidak melihat keberadaan Rafka atau pun Agnia.
"Mas!" panggil Adinda sedikit berteriak.
"Dinda," teriak seorang wanita yang memakai celana jins berwarna hitam dan baju merah; Agnia berdiri di depan pintu dengan ekspresi tak suka.
"Kamu ngapain di sini? Oh ya, kamu itu murahan datang ke rumah pria. Luarnya saja tertutup, tapi ternyata kamu munafik," ucap Agnia dengan senyuman mengejek.
"Maksud mbak Agnia apa?! Jaga bicara mbak! Seharusnya saya yang bertanya, kenapa mbak ada di sini? Mbak kan sudah putus hubungan dengan Mas Rafka. Untuk apa kemari?" balas Adinda tak terima, gelora emosi mengalir dalam dirinya. Saat disebut "munafik", hatinya terasa perih, seolah tergores.
"Dan lebih baik mbak pergi," lanjut Adinda, membuat Agnia menatapnya tajam.
Agnia mendekati Adinda dan tiba-tiba menekan pergelangan tangannya. "Kamu berani mengusirku?!" tanya Agnia dengan marah.
"Mbak sakit," ucap Adinda kesakitan, merasakan luka di pergelangan tangannya yang belum sepenuhnya sembuh.
"Ini buat lo yang berani sama gue," tekan Agnia lebih keras.
"Sa—"
Brukkk!
"Aduh, Raf, sakit! Adinda mendorongku!" teriak Agnia, yang sengaja menjatuhkan diri saat mendengar suara Rafka.
"Adinda!" bentak Rafka yang sudah berdiri dari atas tangga, pria itu langsung berjalan menuruni anak tangga. Menatap Adinda dengan tatapan marah.
"G...gak, enggak Mas. Aku tidak melakukan ini. Di...dia menj—" ucap Adinda terbata-bata, air matanya mulai menggenang.
"Cukup, Dinda! Aku tahu kamu sangat tidak suka Agnia! Aku sangat kecewa sama kamu, Din," ucap Rafka marah, kata-katanya seperti belati yang menyayat hati Adinda.
Rafka membantu Agnia berdiri, sementara Agnia tersenyum penuh kemenangan, tampaknya merasa dirinya berhasil mengacaukan hubungan Adinda dan Rafka.
"Sakit, Raf. Mungkin ini balasan buatku karena aku datang ke sini, dan aku pernah menyentuh barangnya. Dan Dinda dendam sama aku," ucap Agnia, membuat Rafka kembali menatap Adinda dengan tajam.
"Tidak, Mas, aku berani sumpah. Aku tidak seperti apa yang mbak Agnia katakan," Adinda berusaha menjelaskan, suaranya bergetar.
Mana mungkin Adinda semarah itu, karena hal kecil yang Agnia lalukan dulu. Adinda bukan anak kecil lagi, yang barang nya di sentuh akan menjadi seorang pendendam. Bahkan anak kecil pun tidak seperti itu.
"Dan mbak Agnia jatuh karena dirinya sendiri," lanjut Adinda membela diri, juga mengungkapkan kebenarannya.
"Raf, kamu tahu aku kan? Mana mungkin aku bohong. Dan mana mungkin aku menjatuhkan diri sendiri," elak Agnia.
"M—"
Rafka yang terbawa emosi, tangan nya tanpa terkendali langsung menampar Adinda dengan cukup keras. Nafas nya terengah-engah, pikiran nya tidak bisa berfikir positif saat itu.
Plakkk!
Belum sempat Adinda mengeluarkan suara, Rafka tiba-tiba menamparnya. Sakit dan panas menyebar di wajahnya, Adinda meneteskan air mata dan menatap Rafka tajam dengan penuh kebingungan dan kegetiran.
"Aa... Aku tidak seperti apa yang Agnia katakan," ucap Adinda dengan nada bergetar, kesakitan terasa menggerogoti hatinya.
Adinda mengambil barang-barangnya dan langsung pergi menaiki anak tangga. Baru kali ini ia merasakan tamparan dari seorang pria—yaitu suaminya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
General Fiction🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
