Adinda menatap dirinya di cermin. Ia mengenakan gamis berwarna abu dan pink yang dipadukan dengan hijab syar'i yang senada, membuatnya terlihat anggun dan mempesona. Jari-jarinya menyentuh kain lembut itu, dan seketika, kenangan indah akan Rafka melintas dalam pikirannya.
Tok tok tok
"Sebentar!" teriak Adinda, suaranya penuh semangat dari dalam kamar. Hatinya berdebar, merasakan ketegangan yang aneh.
Ceklek
Rafka berdiri di pintu, mata bintang yang cerah meneliti Adinda dari atas hingga bawah. Senyumannya seolah menciptakan cahaya dalam ruangan itu. "Kenapa liatnya seperti itu?" tanya Adinda, wajahnya merona.
"Tidak. Kamu lebih cantik hari ini," puji Rafka, suaranya lembut, seolah mengungkapkan sebuah rahasia indah.
"Ada apa?" Adinda berusaha mengalihkan perhatian, namun jantungnya berdetak lebih cepat.
"Aku mau ajak kamu main," jawab Rafka, harapannya tersirat dalam tatapan matanya yang dalam.
"Tumben banget. Ada angin apa? Ah, jangan-jangan dia ada mau-nya?" batin Adinda, mulai berimajinasi.
"Mau kan?" tanya Rafka, penuh harapan.
"Aku ada kuliah," jawab Adinda.
"Tidak masalah. Aku akan jemput kamu," ungkap Rafka, dan tanpa sadar, Adinda mengangguk, senyumnya tak tertahan. Hatinya bergetar, tak sabar menunggu momen indah itu.
Di kantin, Adinda dan Sinta, gadis Sunda yang ceria, juga mengenakan hijab syar'i seperti Adinda.
"Din, makasih kamu sudah mengingatkanku untuk berhijab. Dan Aa Akbar juga sangat berterima kasih," ucap Sinta, senyumnya menular.
"Iya, Sin. Kamu sudah aku anggap saudara," jawab Adinda, hatinya hangat dengan hubungan persahabatan itu.
"Makasih, Din. Makasih," Sinta memeluk Adinda erat, seolah ingin menghangatkan hati sahabatnya.
"Oh iya, emang bedanya hijab sama jilbab itu apa?" tanya Sinta, sambil melepaskan pelukan.
"Kalau hijab itu menutupi dada, syar'i. Sedangkan jilbab... yah, yang tidak menutupi dada, kerudung yang tidak terlalu panjang," jelas Adinda, wajahnya bersemangat ketika berbicara tentang sesuatu yang berarti.
"Ohh, iya iya. Aku boleh nanya lagi nggak, Din?" tanya Sinta, peduli.
"Nanya apa?" tanyanya balik, rasa ingin tahunya timbul.
"Dilihat-lihat, kamu sama Kak Rafka cocok. Bukankah kamu tidak punya kakak?" tanya Sinta, dan pertanyaannya menghujam ke dalam hati Adinda. Jantungnya berdebar kencang, dan ia terdiam, tidak tahu bagaimana menjawabnya.
"Dia kan kakak tiriku, Bundaku menemukan dia di..." ucap Adinda, suaranya serak. Sampai kapan ia harus menyembunyikannya?
"Ya Allah, apa aku harus berbohong tentang ini, sama seperti aku berbohong kepada Ridho?" batin Adinda, merasa bersalah jika harus terus bersembunyi. Rafka, suaminya, bukan kakaknya; siapa yang bisa mengerti?
"Din, kenapa diam?" Sinta menatap terbata-bata, merasakan ketidaknyamanan Adinda.
Adinda masih terdiam, lidahnya seakan kelu.
"Kalau aku jujur kepada Ridho, dia akan pergi. Aku tidak mau itu terjadi," kembali batinnya berkata, suaranya bertambah lemah, ketakutan menggenggam suasananya.
"Adinda," Sinta memanggil, membuyarkan lamunan Adinda.
"Eh, iya Sin? Tadi kamu bicara apa?" tanya Adinda, tersadar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Ficción General🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
