35

3.1K 142 11
                                        

Air mata Adinda mengalir deras, menandakan hati yang hancur. Ia mendekati Rafka, sosok yang selama ini ia percayai, namun kenyataan menunjukkan sesuatu yang berbeda. Hati yang penuh harapan kini menjadi puing-puing kehampaan. Bagaimana mungkin seseorang yang ia cinta berbohong sedemikian lama?

“Dasar pembohong! Penghianat!” serunya dengan tatapan penuh kebencian. Suaranya bergetar, seolah teriris irisan pisau. "Kamu jahat! Aku… hiks… aku benci kamu, Rafka!"

Perasaan sakit itu membuat Adinda segera berbalik, pergi meninggalkan Rafka dalam kesunyian. Kenangan akan cinta yang tulus beralih menjadi rasa sakit yang tak tertahankan. “Ahhh! Aku bencii kamuu, Rafka!” teriaknya di tengah kesedihan yang mendalam.

“Hiks… hiks… Kenapa kamu melakukan semua ini? Apa salahku?” Suaranya semakin tak beraturan saat ia mengingat semua janji yang terucap manis namun hampa.

Rafka, pria yang kini terjebak dalam petaka, membuka matanya. Di sekelilingnya hanya ada kesunyian yang menekan. Namun ketika merasakan cairan menggenang di tangannya dan wajahnya, ia tahu itu adalah air mata Adinda. Air mata itu, untuknya. “Dinda…”

Tiba-tiba, semuanya menjadi gelap, dan ketika Rafka berusaha menggerakkan kakinya, ia merasakan kepanikan yang tidak pernah ia alami sebelumnya. “Dokterrrr!!!” teriaknya dengan ketakutan.

Seorang suster berlari mendekat. “Bapak, tenang dulu, ya,” ujarnya sambil berusaha menenangkan.

“Bagaimana saya bisa tenang, Sus?! Kaki saya tidak bisa digerakkan!” Rafka menjawab, dengan tatapan tajam yang penuh kecemasan.

Dokter Yona, yang bertugas merawat Rafka, segera datang. “Bapak, tenang. Biarkan saya memeriksa,” katanya, memberikan harapan di tengah ketidakpastian.

Setelah pemeriksaan, Rafka tak sabar menunggu hasilnya. “Bagaimana, dok?” tanyanya dengan suara parau.

Dokter Yona menghela napas sebelum bertanya, “Kemana istri Bapak?”

“Dinda? Saya tidak tahu di mana dia. Mungkin dia pergi karena aku bukan pria yang sempurna. Aku… aku merasa tak berguna,” jawab Rafka, dengan tatapan penuh kekecewaan. Ketidakmampuannya untuk memberikan keturunan menjadi beban berat yang ia bawa sendiri.

“Bisa jadi, semua ini karena aku mengkhianatinya sepertinya…” lanjutnya, namun kalimatnya terputus oleh suara lembut yang datang dari pintu.

“Saya di sini, Dok,” ucap Adinda, mengangguk pelan. Saat mendekati Rafka, hatinya bergetar. “Mas, tunggu,” katanya lembut.

Rafka meraih tangan Adinda, kepanikan dan kesedihan terbangun. “Jangan tinggalkan aku, Dinda…” pintanya dengan penuh harap.

“Jangan khawatir, Mas. Aku mau menemui dokter. Tunggu di sini, ya?” Adinda lalu pergi ke ruang dokter.

Dalam ruang dokter, Adinda merasakan tekanan di dadanya. “Dok, apa yang terjadi dengan suami saya?” tanyanya, suaranya bergetar.

Dokter Yona menyerahkan amplop putih. Ketika Adinda membuka isi amplop itu, kalimat di dalamnya membuat hatinya tercekat. “Rafka mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang dia alami. Tulang ekornya mengalami kerusakan.”

"Dia… lumpuh?" Adinda bertanya, memastikan kenyataan yang terasa tidak mungkin.

Dokter Yona mengangguk. “Rafka bisa sembuh jika ia rajin terapi dan berusaha.”

Adinda mengangguk meski hatinya berat. Saat ia kembali ke Rafka, pikirannya dipenuhi ketakutan. Bagaimana cara mengatakan ini padanya?

“Sayang, kamu harus sabar, ya,” ucap Lidya yang tahu betapa tersiksanya Adinda.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang