Waktu menunjukkan pukul 19:30, baru saja Adinda dan Rafka tiba di Bali, dengan senyum ceria menghiasi wajah mereka. Mereka kini berada dalam sebuah kamar hotel yang penuh nuansa romantis—lampu-lampu lembut menghangatkan suasana malam.
“Mas, emang harus banget ya Dinda ikut? Di sini kan urusan kantor. Terus Dinda sendiri, Mas kerja, Dinda di sini sendiri. Mas nggak kasian apa?” suara Adinda bergetar tidak sabar, penuh keluhan ketika melihat Rafka yang sepertinya terlalu santai.
“Diem dulu! Jangan bawel!” potong Rafka, menyela tanpa merasa bersalah.
Adinda terdiam sejenak, terkejut, lalu mendecak manja. “Ah, Mas lupa. Mas hanya membawa baju Dinda satu,” ucapnya dengan wajah kecewa.
“Yah Mas! Terus aku pakai baju apa?” tanya Adinda dengan nada sedikit kesal, menggembungkan pipi.
Rafka hanya tersenyum lebar, pandangannya penuh makna. “Sebenernya, kita ke sini bukan untuk urusan kerja,” ujar Rafka, sedikit menggoda.
“Jadi kamu bohonganku?” tanya Adinda, mulai marah, matanya menyipit.
“Dengar dulu! Ya, sebenernya urusan kerja, tapi…” Rafka memperlambat suaranya agar penuh dramatik, “…tadi ada pesan dari Pak Edward. Beliau menunda.”
“Yaudah kita pulang saja ke Bandung!” ajak Adinda, berusaha bersikap tegas, padahal hatinya tidak ingin kembali.
“Enak aja! Uang aku udah dipakai,” tolak Rafka dengan nada canda.
“Oh ini. Kamu pakai baju ini.” Rafka menyodorkan kotak berwarna hitam. Adinda langsung menerimanya dengan sangat penasaran. “Kamu ganti baju. Setelah itu kita makan di sini,” perintah Rafka.
Adinda mengangguk meski wajahnya masih bingung, lalu membawa kotak itu ke dalam kamar mandi.
“Massss!” teriak Adinda dari dalam kamar mandi, suaranya terdengar panik.
“Kenapa, Din?” tanya Rafka, sudah mulai cemas.
“Kamu salah kasih baju? Kenapa baju ini kayak gini?” teriak Adinda lagi, terdengar dari dalam.
Rafka tersenyum geli. Adinda marah karena Rafka memberinya dress yang sangat pendek dan tipis dan tanpa lengan berwarna putih. “Kamu pakai saja. Nanti aku jelasin,” jawab Rafka santai.
“Mas! Aku nggak pakai jilbab!” Adinda berteriak, seolah-olah Rafka bisa mendongkrak masalahnya.
“Sayang, kita sudah menikah,” Rafka menjelaskan sambil tersenyum bangga.
Setelah mengatur napasnya, Adinda merapikan rambutnya sebelum keluar. Ceklek.
Rafka menatap Adinda dari ujung kaki hingga kepala, tak berkedip. Ia sudah lama tidak melihat Adinda menggunakan dress. Sebelum berhijab Adinda memang sering menggunakan dress, tetapi panjang nya bawah lutut atau selutut. Ini DRES yang berbeda, karena ini memang baju khusus untuk malam pertama pengantin. Bahan baju itu terbuat dari kain satin dan sangat cocok dengan kulit Adinda yang putih bersih di padu dengan baju yang putih ivory.
“Terus aja liat! Nanti jelalatan mata, loh!” bentak Adinda sambil berdecak dan menyilangkan tangan di pinggang.
“jelalayan ke istri sendiri boleh lah. Kalau jelalatan ke wanita lain baru dosa. Dan badan kamu bagus, Din,” puji Rafka, tetap menatapnya dengan penuh pesona. Dengan senyaman nakal nya.
Adinda cepat-cepat mengambil kimono yang ada di sebelahnya, menutupi tubuhnya. “Jelaskan!”
“Oke. Urusan kantor tidak jadi. Awalnya, aku mau balik ke Bandung. Cuman bunda dan ibuku melarangnya. Mereka menyuruh kita bulan madu di sini. Haduh, cucu mereka kan lumayan banyak—13 baby,” jelas Rafka dengan nada meragukan, seolah Adinda harus mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Ficção Geral🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
