Adinda berdiri di dapur, sibuk menyiapkan Bakso Bakar, makanan favorit suaminya, Rafka. Suara dentingan sendok dan aroma sedap membuat suasana semakin hangat di rumah mereka.
“Sayang!” Rafka muncul di ambang pintu sambil menggelengkan kepalanya. “Ya Allah, Din. Saya kan bilang kamu jangan ke dapur. Kamu sedang hamil, Din!”
“Mas bawel banget. Mending mas coba bakso-nya,” goda Adinda sambil menyuapi Rafka potongan bakso yang masih berasap.
Rafka mengunyah, lalu menjawab, “Gimana? Enak kan?”
“Jauh lebih enak dari sebelumnya,” jawab Rafka dengan jujur, terkesan oleh rasa bakso yang sempurna.
“Nih, coba kamu,” kini giliran Rafka yang menyuapi Adinda. Matanya berbinar melihat istrinya yang tersenyum bahagia.
“Emmmm… Iya, Mas. Dinda mau jual juga di kafe Dinda—” belum sempat Adinda menyelesaikan perkataannya, ia tiba-tiba terjatuh dengan wajah yang sangat pucat.
“Awsss! Mas, sakit!” teriak Adinda dengan suara gemetar.
“Ya Allah, Din! Kamu mengeluarkan banyak darah!” Rafka, yang panik, langsung membopong Adinda ke mobil.
“Ayah! Bunda! Dinda!” teriak Rafka, melihat kondisi istrinya yang semakin parah. Dalam perjalanan, Adinda terus berteriak kesakitan, menambah kepanikan Rafka.
“Mas, sakit! Hiks hiks!” Adinda merintih.
“Tahan ya sayang, kita akan ke rumah sakit,” Rafka berusaha tenang meskipun ketakutan menyelimuti hati.
Adinda memandang Rafka, lalu tersenyum lemah. “Aku sangat mencintaimu, Mas.”
“Kamu sabar ya, Din. Sebentar lagi kita sampai,” Rafka berusaha menenangkan, meski suaranya bergetar oleh ketakutan.
“Sakittt, Mas, perut Dinda sakittt!” teriak Adinda, meremas tangan suaminya yang kuat.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Rafka langsung membawa Adinda ke ruang darurat. Dalam dorongan brankar, Rafka mendampingi dengan penuh cemas. “Sabar ya, sayang. Anak-anak Ayah kamu akan melihat dunia ini. Kalian akan melihat Bunda kalian yang begitu kuat.”
“Mas, Dinda sa—”
“Din! Dinda!” suara Rafka memecah panik.
“Dok! Selamatkan istri dan anak saya!” teriaknya, matanya berkaca-kaca.
“Baik, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin,” jawab dokter, bergegas masuk ke ruang darurat.
Rafka menunggu di luar, berdoa untuk keselamatan istri dan kedua anaknya. Detak jantungnya semakin cepat setiap detik yang berlalu.
“Rafka, mana Dinda?” tanya Andra, keluarganya, penuh rasa cemas.
“Dinda sedang ditangani dokter, Yah. Tadi Dinda pingsan,” jawab Rafka, suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
“Ya Allah, selamatkan anak dan cucuku,” ucap Delvia dengan doa penuh harap.
“Ssst, sabar ya,” Rafka berbisik pada dirinya sendiri. Lalu, mendengar suara tangisan bayi yang membuat semua beranjak berdiri dengan tidak sabar ingin masuk ke dalam.
“Oek ooekkk!” suara tangisan bayi mengguncang ketegangan yang ada.
Ceklek. Pintu terbuka, dan seorang dokter muncul. “Bagaimana keadaan istri dan anak saya?” tanya Rafka, nyaris berbisik saking nervously.
“Bapak bisa melihatnya,” jawab dokter.
Rafka langsung melangkah masuk dan melihat Adinda terbaring lemah. “Sayang, buka matamu! Lihat anak kita, dia cantik dan tampan!” ucap Rafka sambil mencium lembut wajah Adinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Ficção Geral🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
