Adinda duduk di pinggir ranjang, memikirkan bagaimana cara meminta izin kepada Rafka bahwa ia akan menemui Ridho.
Di tempat lain, Gadis berambut panjang, Agnia, sedang berbincang dengan ibunya.
"Rafka tidak kembali ke rumah ini lagi. Bahkan sudah satu bulan!" ucap Agnia dengan raut wajah kesal.
"Ya, ini resikonya. Menikah tanpa persetujuan orang tua, Rafka! Dan kamu mau-mau saja!" balas Angel ibu Agnia.
"Bu... aku cinta dan sayang pada Rafka. Pernikahan ini adalah keinginan kami berdua. Aku yakin di sana Rafka sedang berusaha minta izin kepada Om Bayu untuk merestui kami," jelas Agnia.
"Apa kamu yakin? Rafka tidak menikah lagi?" tanya angel
"Kok ibu ngomongnya gitu sih?! Emang ibu mau anaknya dimadu?" tanya Agnia, sudah mulai emosi.
"Ya, setidaknya kamu lebih waspada. Hubungi Rafka biar dia pulang," jawab Yani dan pergi meninggalkan Agnia.
Agnia mengambil HP-nya dan langsung menelpon Rafka.
"Hallo, Raf. Kamu nggak akan pulang?! Betah banget ya di sana sampai kamu lupa kalau kamu sudah punya istri!"
Rafka yang mendengarnya langsung menjauhi kamar Adinda. "Sayang, aku ada di rumah ibu, dan aku masih berusaha meminta izin atas pernikahan kita," balas Rafka.
"Raf, aku mau kamu pulang ke Bogor. Kalau nggak, aku susul kamu!"
"Ag... Menger—"
"Mas!" panggil Adinda yang melihat Rafka sedang berbicara di telepon.
"Iya sayang."
Rafka lupa sambungan masih terhubung. Agnia yang mendengarnya langsung curiga.
"Siapa itu, Raf?"
Drett!
Sambungan terputus.
Rafka menyimpan HP-nya dan menatap Adinda. "Iya, ada apa Din?" tanya Rafka.
"Keadaanku sudah pulih. Dan aku... emmm... aku mau minta izin," jawab Adinda seberani mungkin.
"Kemana? Aku tidak mau kamu keluar! Bagaimana jika Hans menculikmu lagi? Aku tidak mau!" balas Rafka.
"Aku mau minta izin untuk bertemu dengan Ridho. Kami sudah ada janji untuk merayakan hari jadi persahabatan kami," ucap Adinda, membuat Rafka terdiam.
"Andai kamu tahu, Din. Aku cemburu atas persahabatanmu dengan Ridho," batin Rafka.
"Emang begitu penting ya?!" tanya Rafka.
Adinda tidak menjawab apa-apa.
"Aku mohon, Mas. Izin kan aku. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Ridho," ucap Adinda.
Rafka mengambil napas. "Ya, aku izinkan. Tapi hanya 3 jam, jangan lebih," jawab Rafka.
Adinda mengangguk dan Rafka memeluknya. "Terima kasih, Mas," ucap Adinda sambil membalas pelukan Rafka. "Apa kamu masih mau bertahan, jika kamu tahu aku sudah menikah dengan Agnia?" tanya Rafka dalam hati.
Rafka mencium puncak kepala Adinda yang tertutup hijab, dan tersenyum. Dirinya sangat suka wanginya.
Adinda ingin melepas pelukan Rafka, namun Rafka malah memeluknya erat. "Mas, Dinda nggak bisa nafas," ucap Adinda masih dalam pelukan.
Rafka melepas pelukannya. "Maafkan aku."
Adinda membalas dengan pelukan.
🌻🌻🌻
Siang ini, Adinda akan bertemu sahabatnya, Ridho. Ia sudah mengenakan rok berwarna hijau army dan baju putih dengan jilbab yang senada. Adinda juga memakai jam tangan yang diberikan Ridho waktu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Fiksi Umum🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
