Rafka berada di dapur, mata penuh semangat saat ia mempersiapkan ayam surundeng, makanan kesukaan Adinda. Ia tahu itu dari satu pengintaian sederhana di biodata Adinda—sebuah informasi kecil yang mengungkap banyak hal tentang hati yang ingin ia raih.
"Semoga Dinda suka dengan masakan yang saya buat," ucap Rafka, tersenyum pada diri sendiri, meskipun ketegangan di dalam dadanya berkumpul. Ia membayangkan senyum yang akan muncul di wajah Adinda saat mencicipi masakannya.
Sementara itu, di sebuah kafe yang ramai, Adinda duduk bersama temannya, Sinta. Keduanya tertawa dan berbagi cerita ketika Sinta tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna pink dari tasnya.
"Oh, ya, Din. Abangku ngasih ini buat kamu," ujar Sinta, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Adinda menatap kotak itu, kurungannya seakan bisa merasakan magis di dalamnya. "Kok bisa? Apa ini?" tanya Adinda, jantungnya berdebar.
Sinta mengangkat bahunya, ketidaktahuan terpancar di wajahnya. "Entahlah."
Adinda memegang kotak itu dengan hati-hati, menaruhnya di sebelah tasnya, lalu mengucapkan, "Bilangin, makasih."
"Iya, Din," balas Sinta dengan senyuman lebar.
Tiba-tiba, Adinda merasakan ponselnya bergetar.
Ridho Sahabatku. 🐻
"Halo, Diinnn! Aku sudah di Bandung. Aku tunggu di tempat yang biasa kita temui."
"Sin, aku harus pergi," ucap Adinda, bersemangat sambil menggenggam kotak pink itu.
"Loh, kenapa?" tanya Sinta, bingung.
Adinda tersenyum, sebelah matanya bersinar. "Ridho menungguku di taman."
"Yasudah. Silahkan," ujar Sinta, memberi jalan pada sahabatnya.
"Oke. Aku pergi ya. Assalamualaikum," pamit Adinda, berjalan cepat meninggalkan kafe.
Adinda tiba di taman, namun Ridho tak terlihat. Pesan harap dan rindu terbersit dalam hatinya. Ia duduk di sebuah kursi, menunggu dengan penuh harapan.
Tiba-tiba, sebuah tangan menutupi kedua matanya. Ia menghembuskan nafas, lalu tersenyum. "Ridho, aku tahu ini kamu," ucap Adinda, melepas tangan yang menutupi wajahnya.
"Hehehe, ketahuan deh!" ujar Ridho, tertawa kecil.
Ridho kemudian memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk panda kepada Adinda. "Makasih," ucap Adinda, menerima hadiah itu dengan rasa senang.
"Oh iya, aku denger mobil kamu rusak? Kenapa?" tanya Ridho, khawatir.
"Kamu tahu dari bundaku, ya?" tanya Adinda kembali, mencoba menyelidik.
"Hmmm..." Ridho hanya mendengus, menunggu jawaban.
"Iya, rusak karena aku menabrak sebuah pohon," jawab Adinda santai. Namun, Ridho langsung membulatkan mata, terkejut. Baru kali ini ia melihat Adinda ceroboh. Selama di Jakarta, Adinda selalu hati-hati saat mengemudikan mobil.
"Tapi, kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada yang luka, kan? Nggak ada yang berdarah? Atau patah tulang? Kenapa bisa? Kamu teledor sih! Oh, kamu dikejar utang, ya, jadi nabrak pohon?" tanya Ridho bertubi-tubi. Adinda mendengarkan ocehan sahabatnya dengan tatapan malas.
"Kamu kalau nanya satu-satu dong!" adu Adinda kesal.
"Ya sudah, kali tinggal jawab semuanya," balas Ridho, tanpa kalah.
"Ya, aku tidak apa-apa, cuma memar sedikit, berdarah pada lengan dan dahi. Alhamdulillah, ngga patah tulang. Kalau terjun dari Monas, baru patah tulang! Bukan hanya patah tulang, mungkin aku MATI! Ini cuman kecelakaan kecil kok! Kenapa bis? Gara-gara pria nyebelin yang ganggu aku terus. Enak aja aku teledor! Dia yang salah, bukan aku! Dan terakhir, aku nggak punya utang. Enak aja kalau ngomong!" jelas Adinda, menekankan kata "mati" dengan nada yang sedikit marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Ficção Geral🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
