Pagi ini, Adinda dan Rafka bersiap untuk menjalani program hamil. Mereka sangat berharap agar usaha ini berhasil.
"Din, bagaimana jika gagal?" tanya Rafka, terlihat cemas.
"Insya Allah tidak, Mas. Aku yakin Allah akan membantu kita. Eummm, lagipula saat kamu sakit, aku selalu memasak bubur kacang hijau untuk meningkatkan kesuburanmu. Awalnya, aku melakukannya agar kamu bisa kembali kepada Mbak Agnia," jawab Adinda, penuh semangat.
"Tidak, Din. Bukan untuk Agnia, tapi untuk kita," balas Rafka, mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Adinda.
"Terima kasih kamu masih mau bertahan bersamaku. Jangan pernah meninggalkanku lagi," lanjutnya dengan tulus.
"Aku tidak akan meninggalkan orang yang aku cintai," tegaskan Adinda, menyemangati Rafka.
Rafka memeluk Adinda dan mengusap kepala mantan istri yang sangat dicintainya. "Oh iya, Mas. Setelah dari rumah sakit, kita harus pergi ke rumah Ibu. Aku kangen Ibu," ujar Adinda, senang.
"Iya, Din," jawab Rafka, senang dengan rencana tersebut.
---
Jakarta.
Mereka telah sampai di rumah Lidya. Adinda sangat merindukan mertuanya itu. Saat memasuki rumah, ia melihat Lidya duduk dengan tatapan kosong.
"Assalamualaikum, Bu." Adinda menyapa sambil duduk di sebelah Lidya.
"Dinda," Lidya langsung memeluk mantunya dengan penuh kasih sayang.
"Bu, bagaimana kabar Ibu?" tanyanya lembut.
"Ya, beginilah nak. Ibu selalu merindukan Bayu," jawab Lidya, suaranya penuh kesedihan.
"Nak, kenapa kamu masih mau bertahan dengan Rafka?" tanya Lidya, penuh rasa ingin tahu.
"Alasannya karena cinta, Bu. Juga karena Allah," jawab Adinda mantap. "Maafkan Rafka ya, Nak."
"Aku sudah memaafkannya," ucap Adinda, menggenggam tangan Lidya.
Sementara itu, di balkon rumah, Delvia menatap sebuah kertas dengan senyum sinis.
"Kamu tidak akan bisa memberi Adinda keturunan. Karena aku sudah tahu kelemahanmu. Kamu sulit memberi keturunan," ucap Delvia, penuh dendam.
"Andai dulu aku tidak setuju dengan perjodohan ini, Dinda anak kesayanganku tidak akan sakit hati," lanjutnya.
"Bun," panggil Andra, suami Delvia.
"Sudahlah. Jangan mencampuri urusan rumah tangga Dinda," tegur Andra dengan tegas.
"Ayah, kok Ayah gitu?!" ketus Delvia, merasa diabaikan.
"Bun, Ayah tahu Rafka salah, tapi Ayah yakin dia bisa memperbaiki kesalahannya," ujar Andra, berusaha menenangkan.
"Bunda akan memaafkan Rafka jika dia bisa memberi bunda cucu. Dari awal, Bunda tidak terlalu suka sama Rafka. Bunda lebih setuju Dinda bersama Ridho atau Arkan. Tapi Ayah malah menikahkan Dinda dengan Rafka," sindir Delvia sebelum pergi.
"Astagfirullah. Bukakan pintu hati istri ku ya Allah. Agar dia memaafkan mantunya tanpa meminta imbalan," batin Andra, penuh harapan.
---
Seorang wanita menatap dirinya di cermin. Ia mengenakan kebaya burkat berwarna abu dengan kain batik yang senada. Wanita itu adalah Adinda.
Hari ini adalah hari wisuda. Adinda membuka kotak hadiah dari Ridho yang ia terima kemarin. Di dalamnya terdapat sepatu yang sangat indah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
General Fiction🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
