Ridho yang sedang lari pagi di lapangan asrama melihat dari kejauhan seorang wanita yang familiar. Terlihat wanita itu berbincang dengan seorang pria.
"Itu... Dinda?" tanyanya. Baru saja Ridho mau melangkahkan kaki, suara temannya, Tian, memanggilnya.
"Ridho, ayo sarapan!"
"Iya, iya."
Ridho pun mengurungkan niatnya dan berharap itu bukan Dinda.
Beberapa hari kemudian, Ridho pulang dari sekolah penerbangan karena ayahnya sakit dan sekalian Ridho ingin bertemu dengan sahabatnya itu.
Ridho sudah ada di rumahnya. Ia juga melihat ayahnya yang terbaring di tempat tidur dengan cairan infus yang terpasang di lengannya.
"Ayah," Ridho menghampiri Dirga
"Mami, ayah kenapa bisa seperti ini?" tanya Ridho khawatir.
"Ayah dehidrasi, dan Mami hanya ingin ayah dirawat di rumah biar Mami bisa menjaganya."
"Rid, ayah boleh minta sesuatu?" pinta Dirga.
"Tentu, Ayah. Ridho sayang Ayah, apapun yang Ayah minta, Ridho akan menuruti," balas Ridho
"Kamu berhenti dulu sekolah penerbangan, ya? Kamu lanjut kuliah, dan setelah itu, lanjutkan cita-citamu. Ayah juga mau kamu bisa mengurus kantor Ayah dan Mami suatu saat."
Ridho terdiam mendengar perkataan itu. Tapi ia benar-benar tidak bisa menolak. Siapa lagi yang mau diandalkan untuk keluarga Dirga Bagastra selain dirinya?
"Kamu tidak keberatan kan, nak?" tanya kayeni.
" Mi, pih, kan ada bang Aska dan Aksa. Kenapa harus Ridho. Sebentar lagi Ridho selesai, sangat sayang jika hati berhenti," jawab Ridho lembut .
Dirga dan kayeni saling menatap. Ada benar nya jugaa. Kasian juga jika harus Ridho yang di korban kan.
"Bagaimana kalau ikut belajar tentang perkantoran bersama Aksa dan Aska? Tawar Dirga.
Ridho terdiam tidak masalah bagi nya. Daripada harus memutuskan sekolah penerbangan-nya di tengah jalan.
"Baiklah, setuju dan jika Ridho harus tetap kuliah Ridho hanya mau satu kampus dengan Dinda, sebelum Dinda juga masuk sekolah penerbangan," jawab Ridho, karena dia tidak tahu bahwa Adinda sudah masuk kuliah minggu kemarin.
"Dan sekolah penerbangan batas usia 17-24 tahun. Ridho tidak akan mengambil sarjana. "
"Baiklah nak, ayah akan pertimbangkan. Dan ayah tidak akan memaksa kamu berhenti sekolah penerbangan,"
Ridho hanya mengangguk.
"Terima kasih, nak."
Ridho mengangguk dan memeluk Dirga.
"Ayah, Mami, Ridho izin menemuimu Dinda," ujar Ridho.
Kayeni mengangguk.
Sedangkan Adinda yang sedang mengerjakan tugasnya melihat ponselnya bergetar.
Ridho,sahabatku.
Gue tunggu di kafe seperti biasa. Eh, gue... Gak apa-apa lah, kali ini.
Oke.
Adinda mengambil laptopnya dan langsung keluar dari kamarnya. Baru saja beberapa langkah, Bayu langsung menghentikannya. "Dinda mau ke mana?" tanyanya.
"Pasti Dinda mau bertemu Rafka?" lanjut Lidya.
Adinda tersenyum.
"Dinda mau ke kafe bertemu teman Dinda. Boleh kan, Mah? Pa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Ficção Geral🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
