47.pelakor

5.6K 171 13
                                        


---

Tok tok tok.

Adinda yang sedang di dapur langsung mematikan kompor saat mendengar ketukan pintu.

Ceklek.

Saat ia membuka kenop pintu, terlihat Bundanya, Delvia, berdiri di depan pintu.

"Bunda," sapanya ramah sambil mencium tangan Delvia, tetapi ibunya langsung menepisnya.

Delvia menatap anaknya dengan tidak suka. Ia masuk dan duduk di sofa. "Mana suamimu?" tanyanya santai.

"Mas Rafka—" Adinda belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Rafka keluar dari ruang kerjanya.

"Rafka ada di sini, Bun," ujar Rafka sambil tersenyum, berharap sambutan yang hangat.

Namun, Delvia mengabaikannya saat ingin mencium tangannya. "Aku ke sini cuma mengingatkan! Kalian harus memberikan saya keturunan, atau kalian harus berpisah!"

"Tidak, Bunda! Aku tidak mau bercerai! Kami akan berusaha memberi Bunda cucu," jawab Adinda, berusaha meyakinkan.

"Baiklah. Jika kalian tidak bisa memberi dalam dua bulan, kamu harus ikut Bunda ke Jerman! Kita pindah!" balas Delvia, membuat Rafka melotot.

"Tidak, Bunda! Dinda sudah menikah dengan Rafka! Itu artinya Dinda milik Rafka!" jawab Rafka dengan tegas.

"Tapi saya yang melahirkannya!" balas Delvia, tak mau kalah.

"Bunda a—" Adinda berusaha protes, tapi Delvia memotongnya. "Jika tidak? Berarti kamu tidak sayang sama Bunda yang sudah melahirkan kamu! Kamu tidak sayang sama Bunda? Surga ada di bawah telapak kaki ibu!" ucap Delvia dengan nada tersentak sebelum pergi.

"Dinda sayang Bunda. Dinda tahu surga ada di telapak kaki Bunda. Tapi setelah menikah, surga itu ada di suami Dinda!" teriak Adinda, suaranya bergetar, penuh kebingungan dan emosi.

Mendengar itu, Delvia berhenti sejenak. "Dinda benar. Tapi apa salah jika aku ingin anakku mendapat yang terbaik? Apa salahku mengambil milikku kembali? Aku tidak mau anakku satu-satunya kecewa," batin Delvia.

"Terserah!" Delvia langsung pergi.

Adinda menghapus air matanya dan pergi ke kamar. "Aku sayang Bunda, hiks. Tapi aku juga tidak mau berpisah dengan Mas Rafka!" ucapnya dengan suara parau.

Rafka mendekati Adinda dan memeluknya dari belakang. "Maafkan aku. Gara-gara aku, semua jadi seperti ini," bisik Rafka, penuh penyesalan.

"Ini bukan salahmu, Mas. Aku yakin kita akan memberi Bunda cucu. Allah akan membantu kita," jawab Adinda, berusaha menguatkan.

Rafka tersenyum dan mencium kening Adinda, meneguhkan semangat satu sama lain.

---

Di tempat lain, seorang wanita mengenakan dress kuning sedang duduk bersama kekasihnya di sebuah taman.

"Kenapa kamu memilih bercerai? Rafka sudah mulai kerja kembali dan banyak uang," ujar pria itu, penasaran.

"Banyak uang tapi mandul, buat apa? Biarkan saja Dinda yang urus. Kasihan si Rafka, dia tidak pernah cinta sama dia," balas wanita itu, tidak sadar jika Adinda mendengar pembicaraan mereka. Adinda yang juga ada di taman bersama Sinta mendekati mereka.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang