51.💔

4.6K 150 9
                                        

"JAGA BICARA ANDA!! RIDHO GA MUNGKIN NINGGALIN DINDA! RIDHO SAYANG SAMA DINDA HIKS HIKS RIDHO UDAH JANJI SAMA DINDA! AKAN SELALU SAMA DINDA, JAGAIN DINDA. RIDHO GA AKAN BIARIN DINDA SENDIRIAN! HIKS HIKS RIDHO GA AKAN NINGGALIN DINDA SEPERTI ALFA YANG DULU NINGGALIN DINDA!"teriak Adinda, suaranya pecah penuh kemarahan dan kesedihan yang tak terperi. Ia tidak ingin menerima kenyataan pahit yang baru saja menghantam hidupnya.

Yeni, yang juga terpukul mendengar jeritan pilu Adinda, menghampiri dengan penuh rasa empati. Melihat Adinda yang terhimpit dalam pelukan janjinya kepada Ridho, Yeni merangkulnya erat-erat. "Dinda sayang, nak, tante tahu perasaanmu. Hiks... bukan hanya kamu yang tidak terima. Tante juga. Hiks, kamu harus menerima kenyataan ini, ya nak," ucap Yeni, suaranya bergetar penuh haru.

Tangisan Adinda semakin pecah, seolah menuntut dunia untuk mengerti rasa sakitnya. "Ridhoo, kamu brengsekkkk!"pekiknya, suara yang saling berbaur antara kemarahan dan kesedihan yang mendalam.

"Kamu jahat, Ridho! Kamu jahat! Mana janji mu? Hiks hiks. Ridho?! Manaaaa?!" teriaknya, matanya berkilau penuh air mata, seolah berharap Ridho muncul di hadapnya, menghapus semua rasa sakit ini.

Yeni segera merangkul Adinda, berusaha menenangkannya. "Sayang, semua orang harus menghadapi kenyataan. Tidak ada yang bisa melawan kematian. Semua yang bernyawa akan merasakan mati," katanya lembut, meskipun hatinya sendiri hancur melihat keponakannya terpuruk.


Sementara Rafka yang baru bangun, merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Sayang? Kamu di mana?" panggilnya, gelisah. Ketika dia tidak menemukan Adinda di kamar mandi, dia bergegas turun untuk mencarinya. Dengan setiap langkah, hatinya semakin berdebar.

"Dinda! Kamu di mana, sayang?!" teriakan Rafka mengantarkan keputusasaannya. Ia melihat gerbang terbuka lebar, dan panik menguasai dirinya.

Ketika matanya melirik kebun, ia terkejut mendapati mobilnya tidak ada. "Ya Allah, Din... kamu kemana?" gumamnya, bergegas kembali ke dalam untuk mencari ponsel Adinda.

Suara bergetar dari ponsel Adinda tiba-tiba terdengar,

drutt drutt drutt

Rafka menyadari, Adinda tidak membawa ponselnya. Rasa cemas menyelimuti hatinya. "Ya Allah, Din, kamu kemana?"

Telinganya mendengar suara bel berbunyi, dan segera Delvia, Andra, dan Lidya tiba. Rafka menyadari cengkeram ketakutan mulai menguasai pikirannya. "Dinda di mana? Kok tidak ada?" tanya Delvia, matanya meneliti wajah Rafka.

Rafka terdiam, tidak tahu apakah harus mengungkapkan kekecewaan dan keresahannya. "Rafka?! Jawab!!" bentak Lidya, menyulut api cemas di dada Rafka.

"Rafka tidak tahu, bun. Saat Rafka bangun, Dinda sudah pergi," jawabnya pelan.

"Apa?! Dinda pergi? Kamu sakitin anak ku lagi, iya?!"tanya Delvia, marah menyala saat kekhawatiran tentang keadaan putrinya menguasai pikiran.

"Tidak bun. Rafka berani sumpah, Dinda pergi tanpa izin, dia juga bawa mobil Rafka dan tidak membawa ponsel," jawab Rafka, suaranya bergetar tapi jujur.

Delvia bernafas berat, kemarahannya meledak. "Kamu ga becus jagain anak saya! Kamu tahu kan dia lagi hamil?! Seharusnya kamu lebih jaga Dinda! Saya ga mau tahu, Dinda harus ditemukan hari ini!" ujarnya, suaranya melontarkan ketidakpuasan yang dalam.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang