“Waspadalah kamu, Din! Aku seret kamu naik Kora Kora!” batin Rafka, tak sabar ingin melihat reaksi Adinda.
Satu...
Dua...
Tiga...
“Masih santai!” ucap Adinda, tampak tidak peduli dengan kegugupan Rafka.
“Jangan malu-maluin!” Jeda sejenak.
“Astagfirullah!” teriak Rafka penuh ketakutan.
“UDAH GUE GA KUATTT!”
“DINNN MAS MAU TURUN AJA!”
“AYAH TOLONG RAFKA!”
“AAAAH, UDAH MANGG, UDAHHH!”
Di kejauhan, Adinda hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar jeritan Rafka, “Enak kan, Mas?” tanyanya dengan senyum nakal.
“JANTUNG MAS MAU COPOT!” teriak Rafka semakin panik.
“Hahahaha!”
“MAS BELUM MAU MATI!” candanya lagi, makin menggoda.
Rafka yang masih terengah-engah, dengan wajah pucat, duduk di sisi Adinda. “Kamu tidak apa-apa, Mas?” tanyanya sambil memberikan sebotol air mineral.
Rafka langsung menyeguk airnya dan menghela napas. Melihat senyuman Adinda membuat sedikit ketegangan terbayar. “Naik Bianglala yuk,” ajak Adinda ceria.
“Ga, saya di sini aja,” tolak Rafka, berusaha melarikan diri dari permainan menegangkan.
“Yah, Mas! Tega banget suruh aku naik sendiri,” ucap Adinda, terlihat kecewa.
“Tapi, masa sih kamu mau aku yang naik sendiri? Yasudah, ayo!” jawab Rafka, akhirnya menyerah.
Setelah naik Bianglala, Rafka tersenyum melihat Adinda yang tampak bersemangat. “Nanti kita makan di Ancol, ya Mas?” ajak Adinda.
“Iya, iya,” Rafka menjawab sambil mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen tersebut.
“Cekrek!”
“Cekrek!”
“Cekrek!”
“Din, kita selfie!” ajak Rafka. Adinda mengangguk bahagia.
Mereka berswafoto dengan ekspresi lucu, tampak bahagia dan ceria.
“Habis ini, aku mau ke Rumah Boneka!” seru Adinda.
“Kayak anak kecil,” ejek Rafka.
“Biarin! Lucu-lucu, Mas. Nanti mas belikan Dinda yang banyak, ya?” Adinda melontarkan harapannya.
“Andai kamu tahu, Din. Aku sangat bahagia hari ini,” batin Rafka, menatap wajah istri yang berseri itu.
“Tunggu, aku mau naik Kora Kora!” pinta Rafka tiba-tiba.
“Gak! Dinda ngga mau!” Adinda menolak.
“Ga begitu, Din. Kamu juga harus ikut!” tekan Rafka dengan semangat.
“Kalau aku muntah, kamu mau?” tantang Adinda.
“Ya biarin!” jawabnya, membuat Adinda kesal.
Tanpa bisa menolak lagi, Rafka menarik Adinda menuju Kora Kora. “Mas, Dinda gak mau!” mencoba memohon untuk tidak ikut.
“Masnya aja, Dinda gak ikut!” Adinda bersikeras.
“Ga. Kamu harus ikut! Aku mau kamu berada di sampingku. Ayo!” Rafka tak mau kalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Fiksi Umum🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
