25.

4K 165 3
                                        

"IZIN KAN AKU PULANG!" teriak Adinda, suaranya sedikit membentak, penuh dengan kesedihan dan kemarahan yang membara.

"Oh, kamu ingin pulang karena kamu merasa bersalah, kan?" tanya Rafka, nada emosinya semakin meningkat.

"Aku ingin pergi, bukan karena merasa bersalah. Aku pergi karena aku kecewa dengan apa yang kamu lakukan! Kamu menuduhku tanpa bukti!" Ucap Adinda menatap Rafka lekat, matanya memancarkan keteguhan dan kesedihan.

“Dan kamu. Kamu laki-laki pertama yang berani menamparku,” tambah Adinda, timbul jeda dua detik di antara mereka, seperti gelembung udara yang pecah dalam suasana tegang tersebut.

Rafka melihat kunci mobil yang dipegang Adinda. Dengan cepat, Rafka merebut kunci itu dari tangannya. "Kamu tidak bisa pergi. Kunci ini sudah di tanganku!" tegas Rafka, merasa berkuasa.

"Kamu lebih mempercayai mantan kekasihmu dibandingkan aku, istrimu, Mas! Dan apa kamu dan Agnia tidak putus? Kalian masih menjalin hubungan, hah?" tanya Adinda dengan tatapan penuh kecurigaan, rasa sedih dan kecewa membakar hatinya.

"Karena aku lebih tahu Agnia. Aku sudah kenal dia, bukan karena aku tidak ada apa-apa dengan dia. Aku tidak menuduhnya sembarangan," jawab Rafka berusaha meyakinkan Adinda, berusaha menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya tiada.

Mendengar kata-kata Rafka, hatinya semakin teriris sakit. "Aku tahu, ya seharusnya aku sadar, pada dasarnya aku disatukan denganmu bukan karena takdir, tetapi karena paksaan. Lagian, aku hanya istrimu, bukan orang yang kamu inginkan. Dan mungkin derajatku lebih rendah dibandingkan mantan kekasihmu itu," balas Adinda, menahan rasa sakit yang menyerap hingga ke jiwa. Air matanya sudah mengendang, dan suaranya bergetar.

Dengan napas yang berat, Adinda mencoba mengontrol rasa sakitnya dan langsung pergi menuruni anak tangga, mengabaikan teriakan Rafka.

"Dinda, tunggu!" teriak Rafka, panik dan bingung melihat Adinda pergi begitu saja.

Adinda segera menaiki taksi, menginggalkan Rafka yang terus berlari mengejarnya, tanpa sadar ia melupakan koper yang tertinggal di rumahnya.

"Dindaa, tungguuu!" teriak Rafka lebih keras, frustasi mendapati mobil taksi yang ditumpangi Adinda semakin menjauh.

Melihat mobil taksi itu semakin menjauh, membuat Rafka merasa seperti kehilangan bagian dari dirinya. Hari ini adalah serba salah baginya—ia tidak memiliki bukti dan di satu sisi tidak bisa menuduh Agnia tanpa hal yang jelas, sementara di sisi lain, hatinya tidak ingin kehilangan Adinda.

"Mas, berhenti di depan sana," pinta Adinda, menunjuk ke sebuah taman kecil yang rimbun di sepanjang jalan.

Rafka kembali ke dalam rumahnya, membanting pintu kamar dengan keras. "Kenapa jadi kaya gini, sih? Kenapa aku tidak bisa membela Adinda tapi juga tidak bisa menuduh Agnia?" keluhnya, suara pelan dan penuh penyesalan.

"Kenapa aku belum siap untuk kehilangan Dinda, dan aku juga tidak bisa meninggalkan Agnia? Agnia, cinta pertamaku, sedangkan Adinda sudah menjadi istriku," ucap Rafka dalam hatinya, semakin terdengar gelisah.

Adinda membuka ponselnya dan langsung menghubungi sahabatnya, Ridho. Syukurlah, Ridho belum kembali ke Jakarta, semalam ia menginap di hotel.

"Rid, aku tunggu di taman biasa kita bertemu."

"Baiklah, tuan putri," jawab Ridho ceria.

"Oke."

Adinda sampai di taman yang teduh dengan aroma segar dari pepohonan. Ia melihat Ridho sudah duduk di kursi yang ada di sana, menunggu kehadirannya.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang