20.aku akan mencarimu.

4.5K 192 1
                                        

Sinta menangis di kamarnya, merasa kesepian dan putus asa. Sudah dua hari Adinda menghilang tanpa kabar, dan setiap upaya mencarinya tampak sia-sia. Dia telah mencari ke berbagai tempat, namun Adinda tetap tidak ditemukan.

"Hiks, hiks, Din, kamu di mana? Hiks, aku khawatir sama kamu, Din," ucap Sinta, suaranya tersendat terdengar karena isakan tangis yang tak tertahan.

Seorang Akbar, yang baru saja pulang dari kantor, melihat adiknya menangis di pinggir ranjang dengan wajah lelah. "Adek, kenapa nangis?" tanyanya, mendekati Sinta dengan cemas, mencoba menenangkan.

"Dinda... Dinda hilang, sudah dua hari," jawab Sinta dengan nada yang bergetar, menahan air mata.

"Apa Dinda hilang?! Kamu jangan bercanda, Sinta. Di mana Dinda?!" tanya Akbar, suaranya meningkat, mulai khawatir.

"Sinta nggak bohong! Nih, ponsel Dinda tergeletak di teras rumahnya. Ponselnya rusak! Mana mungkin Dinda sengaja melemparkannya! Hiks, hiks… Yang Sinta takuti, Dinda diculik!" jawab Sinta, kemarahan dan ketakutan berpadu jadi satu.

Akbar mengepal tangan, menaruh perasaan marah dan penasaran. "Gue nggak akan biarkan Dinda terluka. Dinda adalah wanita yang selama ini gue cintai. Dan janji, gue akan mencarinya," pikir Akbar dengan tekad bulat.

"Aa akan cari Dinda," ucap Akbar, melangkah cepat meninggalkan rumah.

**Dalam perjalanan**

Akbar terus mengkhawatirkan Adinda. "Ya Allah, Din, kamu di mana sih? Rafka… Ya, gue bantu Rafka mencarinya!" ucap Akbar, seolah menemukan secercah harapan.

"Bodoh gue. Kan dia lagi bulan madu sama Agnia," pikirnya sejenak, merasa frustasi.

Akbar menghembuskan napas, "Aku akan mencarimu sendiri."

Rafka, yang kini berada di Lombok, juga merasakan kecemasan yang mendalam. Terbayang senyum Adinda selalu sukses membuat hatinya bergetar, namun sekarang hanya ada kekhawatiran.

Rafka meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan mencoba menghubungi Adinda. "Kok nggak aktif?" ujarnya kebingungan.

Ia mencoba lagi, namun tetap saja tidak bisa terhubung.

"Sayang, kita makan yuk," ajak Agnia, menggenggam tangan Rafka untuk membawa ke restoran.

Rafka mengangguk, tetapi pikirannya terus melayang kepada Adinda. "Nanti aku coba hubungi Sinta. Semoga dia tahu di mana Dinda," batin Rafka, berharap untuk menemukan petunjuk.

"Raf, kamu kenapa sih?" tanya Agnia, yang melihat Rafka terdiam tak berdaya. "Tidak, aku hanya takut ibu dan ayah tahu," dustanya, berusaha menutupi kekhawatirannya.

"Hmmm, nanti kita omongin baik-baik ya," kata Agnia, seolah tidak bisa membaca pikiran Rafka.

"Gimana nanti saja," jawab Rafka, perasaannya makin tertekan.

Di sisi lain, Akbar terus mencari Adinda ke sekeliling Bandung. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaan demi misi pencarian ini.

"Dindaaaaa, kamu di manaaaaa!" teriak Akbar dari atas gedung yang tinggi, suaranya bergema dalam kesunyian.

"Aku takut kamu kenapa-kenapa, Din. Aku belum siap jika harus kehilanganmu, walau aku tahu kamu belum menjadi milikku," lanjut Akbar dengan nada putus asa.

Adinda membuka matanya, merasa pusing dan lemas. Dia melihat Hans yang menatapnya tajam dari sudut ruangan. Sudah lima hari ia di sekap oleh Hans, dilanda rasa putus asa.

"Kamu belum makan. Aku sudah membeli kesukaanmu, ayam serundeng dan spaghetti chicken," ucap Hans, mencoba menggoda hatinya.

"Aku tidak mau makan! Yang aku mau hanyalah kamu melepaskanku!" tolak Adinda mentah-mentah, matanya penuh kebencian.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang