Aku bukan wanita kuat, aku bukan wanita hebat, aku juga bukan wanita sempurna. Aku hanya wanita biasa yang ingin di cintai tanpa harus di bagi.
-adinda ufairah -
“Cincin ayahmu? Kamu tidak berbohong, kan?” Tanya Adinda, menatap Rafka dengan serius, kekhawatiran terlukis di wajahnya.
“Tentu tidak, Din. Mana mungkin aku membohongimu. Aku tidak mau kehilanganmu dan tidak akan pernah siap jika itu terjadi,” jawab Rafka, berusaha meyakinkan Adinda dengan tulus.
“Aku bukan wanita kuat, aku bukan wanita hebat, aku juga bukan wanita sempurna. Aku hanya wanita biasa yang ingin dicintai tanpa harus dibagi,” ucap Adinda, menatap Rafka dalam-dalam, matanya berkilau penuh harapan dan kejujuran.
“Maaf jika aku egois. Bukan karena aku serakah, tapi apa yang menjadi milikku, tetap milikku,” lanjut Adinda, suaranya bergetar.
“Tidak! Aku tidak mau kehilanganmu, Dinda. Aku sudah mencintaimu dan tidak boleh ada yang tahu soal Agnia,” batin Rafka. Ia merasakan ketegangan di dadanya, namun berusaha bersikap tenang.
Rafka langsung memeluk Adinda erat, memberikan rasa aman. “Aku mencintaimu dan aku tidak mungkin melakukan itu,” ucapnya penuh keyakinan.
Adinda membalas pelukan Rafka. Setelah beberapa saat berpelukan, Adinda meminta Rafka untuk mengotret dirinya. “Mas, tolong foto aku ya,” pinta Adinda dengan wajah ceria.
“Masya Allah, istri saya jelek banget,” celetuk Rafka, pura-pura ketus.
“Apa kamu bilang, Mas?!” Tanya Adinda, memanyunkan bibirnya, menantang.
“Eh, maksudku, istri saya cantik!” jawab Rafka cepat, tersenyum lebar.
“Kalau dilihat dari langit ke tujuh,” lanjutnya sambil mengedipkan mata, membuat Adinda langsung mencubit perutnya.
“Awssss! Usil kamu!” ucap Rafka, pura-pura kesakitan, dan membuat Adinda tertawa.
Adinda memalingkan wajahnya. Rafka mendekat ke wajahnya, dengan nada nakal, dia bertanya, “Mau apa?”
“Mau cium pipi-nya boleh?” tanyanya, sudah memanyunkan bibirnya.
“Ga mau! Kan aku jelek!” ketus Adinda, sambil berusaha menutupi wajahnya.
“Satu kali aja,” desak Rafka.
“Ga. Adinda ga mau!” tolak Adinda keras.
“Oh, jadi ga mau nih?” tanya Rafka, menghembuskan nafas frustrasi.
“Ga mau!” jawab Adinda tegas.
Rafka tidak menyerah. Dia menarik Adinda ke dalam pelukannya lagi. “Yaudah, bibir aja,” ucapnya nakal.
“Ga, Mas! Ga mau!” Adinda mendesah kesal.
Rafka terus memanyunkan bibirnya, sementara Adinda berusaha menahan wajah Rafka. Namun, Rafka lebih kuat.
“Cup!”
Dengan cepat, Rafka berhasil mencium pipi Adinda. Adinda merengut. “Dasar pemaksaan!” ketusnya, sambil tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Yey, saya menang!” ucap Rafka dengan semangat, seolah-olah telah meraih kemenangan besar.
“Nyenyenye,” Adinda juga ikut terbahak, namun segera mengatur wajah seriusnya.
“Pokoknya aku harus dendam,” ucapnya penuh semangat.
Rafka lalu menunjuk ke atas. “Dinda, itu ada balon udara yang bagus sekali.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
General Fiction🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
