Adinda mencium aroma sosis bakar yang menggoda. Ia membuka matanya dan keluar dari tenda, melihat Ridho yang sedang membakar sosis. "Hai. Selamat pagi!"
"Pagi, Bunda. Ayo sarapan!" seru Ridho, penuh semangat.
Adinda menghampiri Ridho dan mengambil satu sosis besar. "Oh, semalam tidur nyenyak?"tanyanya.
"Ya, alhamdulillah. Walau dinginnya luar biasa," jawab Ridho sambil memasukkan sosis ke dalam mulutnya.
"Aku ingin bicara sesuatu denganmu,"ucap Adinda, wajahnya serius.
"Apa itu?"
"Kamu tidak akan ninggalin aku, kan? Kamu akan selalu bersamaku, kan?" tanya Adinda, sedikit gelisah.
"Iya, itu pasti. Aku tidak akan melanggar janji untuk selalu bersamamu dan menjagamu," jawab Ridho, meyakinkan.
Adinda tersenyum lega, tapi itu tidak bertahan lama.
"Tapi, aku juga akan menepati janji ku dulu,"lanjut Ridho, membuat ekspresi Adinda berubah.
"Apa maksudmu?"
"Jika kamu sudah menikah, mungkin aku akan menjauh darimu," jawab Ridho dengan nada yang penuh kepedihan.
"Kenapa? Bukankah sahabat selalu bersama, meskipun salah satu dari kita sudah menikah?" tanya Adinda, bingung.
Ridho menatap Adinda dalam-dalam. Dalam hati ia berkata, "Aku tidak pernah menganggapmu hanya sebagai sahabat. Kamu adalah duniaku."
"Kalau kita menikah, kamu akan bersamaku?" tanya Adinda, membuat Ridho terkejut.
"Menikah?" Ridho memastikan.
"Iya!"
"Itu tidak mungkin. Kita hanyalah sahabat," jawab Ridho terbatuk-batuk.
"Jika kita sahabat, mengapa kamu mau meninggalkanku?" tanya Adinda, sedih.
"Aku tidak bisa menjawab." Ridho mengalihkan pandangannya.
Adinda merasa ragu. Di dalam hatinya, ia tahu belum bisa mengatakan semuanya. Dia tidak ingin kehilangan sahabatnya untuk kedua kali.
"Besok kita pulang. Aku harus melanjutkan sekolah penerbanganku."
Adinda mengangguk, matanya sedikit berkaca.
"Aku yakin tidak akan lama karena sebelumnya aku sudah berlatih begitu lama," ujar Adinda, berusaha optimis.
"Iya, cantik," balas Ridho, tersenyum.
---
Setelah beberapa waktu, Adinda sudah pulang ke Bandung. Kini ia duduk di sebuah halte, menatap jalanan dengan tatapan kosong, mencari ketenangan dalam pikirannya.
"Itu kan Dinda!" ucap seorang pria berjaket hitam, Akbar.
Tanpa berpikir panjang, Adinda mendekatinya. "Dinda!"serunya terkejut saat melihat Akbar.
Baru saja ia ingin melangkah lebih jauh, Akbar menahannya. "Din, jangan pergi lagi."
"Rafka membutuhkamu,"lanjut Akbar dengan nada mendesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
General Fiction🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
